Tafsir Al-Fatihah

A.    TEKS AYAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)  [الفاتحة : 1 – 7] 

B.     TERJEMAH AYAT

  1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam;

  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang;

  4. Yang menguasai Hari Pembalasan.

  5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

  6. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus;

  7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

 

C.    PENJELASAN UMUM 

Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat dan menurut mayoritas ulama diturunkan di Mekkah.[1] Namun menurut pendapat sebagian ulama, seperti Mujahid, surat ini diturunkan di Madinah. Menurut pendapat lain lagi, surat ini diturunkan dua kali, sekali di Mekkah, sekali di Madinah.[2] Ia merupakan surat pertama dalam daftar surat Al-Qur’an. Meski demikian, ia bukanlah surat yang pertama kali diturunkan, karena surah yang pertama kali diturunkan adalah Surah al-Alaq.[3]

Surat ini dinamakan al-fatihah (pembuka) karena secara tekstual ia memang merupakan surat yang membuka atau mengawali Al-Qur’an, dan sebagai bacaan yang mengawali dibacanya surah lain dalam shalat.[4] Selain al-Fatihah, surat ini juga dinamakan oleh mayoritas ulama dengan Ummul Kitab. Namun nama ini tidak disukai oleh Anas, al-Hasan, dan Ibnu Sirin. Menurut mereka, nama Ummul Kitab adalah sebutan untuk al-Lauh al-Mahfuzh.[5] Selain kedua nama itu di atas, menurut as-Suyuthi memiliki lebih dari dua puluh nama, di antaranya adalah al-Wafiyah (yang mencakup)[6], asy-Syafiyah (yang menyembuhkan), [7] dan as-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).[8]

Dinamakannya Al-Fatihah sebagai Ummul Kitab (Induk Kitab) adalah karena ia mengandung seluruh tema pokok dalam Alquran, yaitu tema pujian kepada Allah yang memang berhak untuk mendapatkan pujian, tema ibadah dalam bentuk perintah maupun larangan, serta tema ancaman dan janji tentang hari kiamat.[9] Dengan kata lain, al-Fatihah mencakup ajaran-ajaran pokok dalam Islam, yaitu ajaran tentang tauhid, kepercayaan terhadap Hari Kiamat, cara beribadah, dan petunjuk dalam menjalani hidup.   

 

D.    KEUTAMAAN AL-FATIHAH

Paling tidak ada, ada dua  keutamaan Surah al-Fatihah, pertama: membaca Surah Al-Fatihah  adalah salah satu rukun dalam shalat. Dengan demikian, ia pun selalu dibaca dalam setiap shalat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَاب ِ (رواه ابن حبان)

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Surah al-Fatihah (H.R. Ibnu Hibban).[10]

 

Keutamaan kedua adalah bahwa al-Fatihah merupakan surat paling agung dalam Al-Qur’an. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:

عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ كُنْتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي قَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ {اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ} ثُمَّ قَالَ أَلَا أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ. [11]

 

Dari Abu Sa’id bin al-Mu’alla, ia berkata, Saya sedang shalat, lantas Nabi SAW memanggilku, dan aku tidak menyahut panggilan beliau. (Usai shalat), aku pun menemui beliau dan berkata, “Ya, Rasulullah, saya sedang shalat.” Beliau lalu bersabda, “Bukankan Allah berfirman: [ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS. Al-Anfal: 24)?”] Kemudian, beliau kembali bersabda, “Maukah kau kuajari sebuah surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?” Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar masjid, aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, Anda tadi telah bersabda, ‘Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?’” Maka beliau bersabda, “(Surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin (surat Al Fatihah), itulah As Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam shalat) serta Al Quran Al ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.”

 

 

E.     TENTANG BACAAN TA’AWWUDZ DAN BASMALAH

1.      TA’AWWUDZ

Istilah ta’awudz (تعوذ ) atau istia’adzah (استعاذة ) digunakan untuk merujuk kepada ungkapan permohonan untuk meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Permohonan perlindungan demikian tersebut merupakan perintah Allah setiap kali seseorang hendak membaca Alquran. Hal ini sesuai dengan firman-Nya: 

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (98) [النحل : 98]  

Apabila kau membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (QS. An-Nahl: 98)

 

Menurut mayoritas ulama, ungkapan ta’awudz itu adalah: [12]

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْم  ِ

 

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Ungkapan ta’awudz tersebut, menurut ijma ulama, bukanlah termasuk ayat Alquran dan bukan pula termasuk salah satu ayat.[13] Meski diperintah untuk dibaca sebelum membaca Alquran, namun perintah tersebut bukanlah sebagai perintah wajib, namun hanyalah sunnah (nadb). Hal ini sesuai pula dengan  pandangan mayoritas (jumhur) ulama.[14] Sedangkan sebagian ulama lain, seperti Atha menyatakan bahwa ta’awudz merupakan perintah wajib pada setiap kali membaca Alquran.[15]

Dalam beribadah, manusia bisa tergelincir kepada sikap pamer (riya) dan sombong (ujub). Karena itulah, saat membaca Alquran, kita dianjurkan untuk membaca ta’awudz, agar selamat dari sikap sikap riya dan ujub yang notabene berasal bisikan setan.[16] Di samping itu, setan selalu menempatkan dirinya sebagai musuh bagi manusia. Setan bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan umat manusia. Allah menceritakan sumpah setan ini di dalam Al Quran,

 

 

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83) [ص : 82 ، 83]

Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka. (Qs. Shad: 82-83)

 

 

Isti’adzah/ta’awwudz (meminta perlindungan) adalah bentuk tauhid kepada Allah dengan hanya memohon perlindungan kepada-Nya. Karena itulah, memohon perlindungan kepada selain Allah adalah kesyirikan. Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir dirinya terjerumus dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrahim yang demikian takut kepada syirik sehingga beliau berdoa kepada Allah,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35) [إبراهيم : 35]

Dan jauhkanlah aku serta anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

 

 

2.      BASMALAH

Basmalah atau tasmiyah adalah merujuk kepada ungkapan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

Para ulama Madinah, Bashrah, dan Syam menganggap bahwa basmalah bukanlah termasuk ayat Alquran, termasuk bukan ayat dalam Surah Al-Fatihah, kecuali dalam surah an-Naml.[17] Adanya basmalah hanyalah berfungsi sebagai pemisah antara satu surah dengan surah lain serta demi mencari keberkahan karena mengawali membaca Alquran dengan basmalah. Pendapat seperti ini pula yang dipilih Imam Hanafi dan para pengikutnya. Karena itulah, mereka selalu membaca secara perlahan (sirr) di dalam shalat.[18]

 Sedangkan menurut Imam Syafi’i, basmalah adalah awal ayat dalam surah al-Fatihah,[19] karena itulah dalam mazhab Syafi’i, basmalah diucapkan secara jelas (jahr).[20] Menurut Ibnu Abbas, basmalah adalah awal ayat pada setiap surah.[21]

Dalam mushaf Utsmani, basmalah tidak dicantumkan di awal Surah al-Bara’ah (at-Taubah). Di dalam al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, hal ini karena sesuai dengan adat istiadat orang Arab. Jika mereka mengadakan sebuah perjanjian antara satu kelompok dengan kelompok lain, lantas satu pihak hendak membatalkan perjanjian itu, maka pihak tersebut mengirimkan sebuah surat dan tidak mencantumkan kalimat basmalah di awal surat sebagaimana kebiasaan mereka mengirimkan surat.[22] Hal ini sesuai dengan isi surah al-Bara’ah yang membatalkan perjanjian perdamaian antara orang Islam dengan orang kafir.

Menurut pendapat lain yang lebih kuat, tidak dicantumkannya basmalah dalam surah al-Bara’ah karena sebenarnya surah al-Bara’ah adalah masih satu surah dengan surah sebelumnya, yaitu al-Anfal. Surah al-Anfal adalah bagian awal surah, dan surah al-Baraah adalah bagian akhir surat. Apalagi isi dan kisah yang ada dalam kedua surah itu memang mirip sekali.[23]

Pendapat lain menyatakan bahwa tidak dicantumkannya basmalah dalam surah at-Bara’ah karena tidak adanya kesesuaian antara basmalah yang mengandung makna kasih sayang (rahmat) dengan makna pemutusan hubungan perjanjian (tabarru) yang terdapat di awal surah al-Bara’ah. Namun pendapat ini ditolak oleh sebagian ulama. Karena ternyata banyak ada beberapa awal surat yang menggunakan kata wail (celaka), namun tetap didahului dengan basmalah. Padahal kata wail tidak sesuai dengan makna kasih sayang yang terdapat dalam basmalah.[24]   

 

 

F.     TAFSIR

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ [الفاتحة : 1]

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Kalimat basmalah tersebut bermakna: “Aku memulai bacaanku ini seraya memohon berkah dengan menyebut seluruh nama Allah.” Idiom “nama Allah” berarti mencakup semua nama di dalam Asmaul Husna. Seorang hamba harus memohon pertolongan kepada Tuhannya. Dalam permohonannya itu, ia bisa menggunakan salah satu nama Allah yang seusai dengan permohonannya. Permohonan pertolongan yang paling agung adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Dan yang paling utama lagi adalah dalam rangka membaca kalam-Nya, memahami makna kalam-Nya, dan meminta petunjuk-Nya melalui kalam-Nya.[25]

Allah adalah Dzat yang harus disembah. Hanya Allah yang berhak atas cinta, rasa takut, pengharapan, dan segala bentuk penyembahan. Hal itu karena Allah memiliki semua sifat kesempurnaan, sehingga membuat seluruh makhluk semestinya hanya beribadah dan menyembah kepada-Nya.[26]

 

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) [الفاتحة : 2]

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Ayat ini merupakan pujian kepada Allah karena Dia memiliki semua sifat kesempurnaan dan karena telah memberikan berbagai kenikmatan, baik lahir maupun batin; serta baik bersifat keagamaan maupun keduniawian. Di dalam ayat itu pula, terkandung perintah Allah kepada para hamba untuk memuji-Nya. Karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak atas pujian. Dialah yang menciptakan seluruh makhluk di alam semesta. Dialah yang mengurus segala persoalan makhluk. Dialah yang memelihara semua makhluk dengan berbagai kenikmatan yang Dia berikan. Kepada makhluk tertentu yang terpilih, Dia berikan kenikmatan berupa iman dan amal saleh.[27] 

 

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) [الفاتحة : 3]

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Kedua kata tersebut adalah kata sifat yang berakar pada satu kata, yaitu ar-rahmah. Secara bahasa, kata rahmat berarti kasih di dalam hati yang mendorong timbulnya perbuatan baik. Makna bahasa ini kurang tepat untuk menggambarkan sifat Allah. Karena itulah, para ulama lantas lebih sepakat untuk menyatakan bahwa kasih sayang adalah sifat yang ada dalam Dzat Allah. Kita tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Kita hanya menyadari efek dari sifat kasih sayang-Nya, yaitu berupa kebaikan.[28]

Banyak para ulama yang membedakan antara makna ar-Rahman dan ar-Rahim. Sifat ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan kepada seluruh makhluk-Nya. Sedangkan sifat ar-Rahim adalah sifat kasih sayang-Nya yang memberikan kenikmatan secara khusus untuk orang-orang mukmin saja. Sebagian ulama lain menyatakan bahwa sifat ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan yang bersifat umum. Sedangkan sifat ar-Rahim merupakan sifat kasih Allah yang memberikan kenikmatan yang bersifat khusus.[29]

Menurut Syekh Thanthawi Jauhari, kata ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang berkaitan dengan Dzat-Nya. Allah merupakan sumber kasih sayang dan kebaikan. Sedangkan kata ar-Rahim adalah sifat kasih sayang Allah yang berkaitan dengan perbuatan, yaitu bagaimana sampainya kasih sayang dan kebaikan Allah kepada para hamba-Nya yang diberi kenikmatan.[30]     

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) [الفاتحة : 4]

Yang menguasai di hari Pembalasan

Dalam ayat ini, terdapat dua macam qiraat. Ashim, al-Kisa’i, dan Ya’qub membacanya dengan  7Î=»tB, huruf mim dibaca panjang (mad). Sedangkan para qari yang lain membacanya dengan 7Î=tB, huruf mim tidak dibaca panjang (mad). Meski bisa dibaca dengan dua cara, kata tersebut memiliki makna yang sama. Sebagian ulama menyatakan bahwa kata al-Maalik atau al-Malik  bermakna Yang Maha Kuasa untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada.  Tidak ada yang mampu melakukan hal itu kecuali Allah SWT. [31]

Menurut Ibnu Abbas, Muqatil, dan as-Sadi, ayat tersebut berarti “yang memutuskan di hari perhitungan.”  Menurut Qatadah, kata ad-din (الدين) berarti pembalasan. Dalam hal ini, pembalasan berlaku atas semua kebaikan dan keburukan. Sedangkan menurut Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi, ayat tersebut bermakna “yang menguasai hari ketika tak ada lagi yang bermanfaat kecuali agama.” Menurut pendapat lain, kata ad-din berarti ketaatan. Dengan demikian, yaum ad-din berarti hari ketaatan. [32] Saat itu, hanya ketaatan hamba kepada Tuhan yang menyelamatkannya dari siksaan neraka.

Mengapa dikatakan Allah menguasai hari pembalasan? Bukankah Allah juga menguasai semua hari? Hal itu karena pada hari pembalasan, semua kekuasaan lenyap. Tak ada kekuasaan dan pemerintahan kecuali hanya milik-Nya semata.  Hal ini sesuai dengan ayat-Nya yang lain yang berbunyi: Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan yang Maha Pemurah (QS. Al-Furqan; 26). [33]  

Kepercayaan terhadap adanya hari kiamat, hari akhir, atau hari pembalasan merupakan sesuatu yang sangat fundamental dalam Islam. Sebagaimana kata Sayyid Qutb dalam tafsirnya Fi Zhilal al-Qur’an, kehidupan masyarakat yang berpedoman dengan metode Allah yang tinggi tidak akan terwujud selama kepercayaan terhadap hari kiamat tidak ada dalam diri mereka; selama hati mereka belum betul-betul menyadari bahwa apa yang mereka dapatkan di dunia bukanlah akhir dari apa yang akan mereka dapatkan.[34]     

 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) [الفاتحة : 5]

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

 

Dengan kalimat hanya kepada-Mu kami menyembah (إِيَّاكَ نَعْبُدُ), Allah membatasi penyembahan atau ibadah hanya kepada Diri-Nya semata. Dengan ayat tersebut, kita pun harus memutuskan bahwa ibadah hanyalah satu-satunya kepada Allah. Tidak boleh ibadah tersebut dikait-kaitkan dengan selain Allah. Ibadah juga merupakan bentuk ketundukan manusia kepada Allah untuk mengikuti berbagai perintah dan larangan-Nya.[35]

Shalat merupakan bentuk ibadah yang paling dasar (asasi). Dalam hal ini, sujud merupakan bentuk ketundukan yang paling tinggi kepada Allah. Hal ini karena dalam bersujud, orang menundukkan wajahnya yang notabene merupakan bagian tubuh yang paling dimuliakan. Saat bersujud, orang menempelkan wajahnya di atas lantai yang notabene merupakan tempat yang biasa diinjak-injak oleh kaki. Apalagi di dalam shalat, terutama shalat berjamaah, ketundukan seseorang kepada Allah juga dipertontonkan kepada semua orang.[36]

Meski diperintahkan untuk hanya menyembah Allah semata, manusia tetap diberi kebebasan untuk memilih, apakah sudi menyembah-Nya atau tidak; beriman atau kafir kepada-Nya; taat atau membangkang kepada-Nya. Padahal Allah bisa saja menciptakan semua makhluk-Nya jadi seperti malaikat yang hanya menyembah-Nya dan tidak pernah membangkang pada-Nya. Namun, Allah tetap memberikan kebebasan untuk memilih pada diri manusia agar manusia betul-betul menyembah Allah karena pilihannya sendiri, bukan karena paksaan. Menyembah Allah karena betul-betul menyadari sepenuhnya bahwa Allah memang layak dan seharusnya untuk disembah. Jika kesadaran itu semakin besar dan merasuk dalam hati manusia, ia pun menyembah Allah karena didasari rasa cinta kepada-Nya.

Setelah menyebutkan “hanya kepada-Mu kami menyembah”, Allah lantas menyebutkan “hanya kepada-Mu, kami meminta pertolongan”. Hal ini menunjukkan pengertian bahwa “kami tidak menyembah kepada selain Diri-Mu, dan kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada Diri-Mu”. Permintaan tolong hanya kepada Allah akan menghindarkan kita dari hinanya kehidupan dunia. Saat kita meminta tolong kepada selain Allah, misalnya manusia, maka kita sebenarnya meminta pertolongan kepada makhluk yang memiliki berbagai keterbatasan. Manusia bisa saja memberikan pertolongan kepada orang lain sesuai kemampuan dan kekuatannya. Manusia yang saat ini mampu dan kuat boleh jadi dalam sekejap bisa menjadi orang yang sangat lemah dan tidak memiliki kemampuan apapun.

Allah bermaksud membebaskan orang-orang beriman dari hinanya kehidupan dunia. Allah pun meminta mereka agar hanya meminta pertolongan kepada Diri-Nya yang Maha Hidup dan tak pernah mati; Maha Kuat dan tak pernah lemah; Maha Kuasa dan tak bisa dikuasai oleh apapun serta siapapun. Jika kita betul-betul meminta pertolongan kepada Allah, Dia pun akan menyertai kita. Dia akan memberikan kekuatan saat kita lemah. Dia akan memberi petunjuk saat kita kebingungan memilih antara kebenaran dan kebatilan.

Ditempatkannya kalimat “permintaan tolong” (نَسْتَعِينُ) setelah kalimat “penyembahan” (نَعْبُدُ) juga merupakan bentuk pengajaran Allah kepada manusia tentang sopan santun. Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya terlebih dahulu. Setelah kita beribadah kepada-Nya, barulah kita pantas untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Dengan kata lain, sudah selayaknya, orang meminta sesuatu setelah ia terlebih dahulu mengerjakan apa yang diperintahkan. Sangat tidak pantas jika seseorang meminta segala sesuatu terlebih dahulu padahal ia belum melaksanakan apa yang diperintahkan. [37] 

       

 

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) [الفاتحة : 6]  

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus,

 

Menurut Ibnu Abbas, kata “tunjukkanlah kami” (اهْدِنَا) berarti “berilah kami ilham.” Sedangkan “jalan yang lurus” (xالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) berarti kitab Allah. Dalam riwayat lain “jalan yang lurus” itu adalah agama Islam. Selain itu, ada juga riwayat yang menyatakan bahwa ia berarti “al-haqq” (kebenaran). Dengan demikian, menurut Ibnu Abbas lagi, kalimat “tunjukkan kami jalan yang benar” berarti “berilah kami ilham tentang agama-Mu yang benar, yaitu tiada tuhan selain Allah satu-satunya; serta tiada sekutu bagi-Nya.”[38]

Kata ash-shirath (الصِّرَاطَ) dalam ayat di atas mempunyai tiga macam cara membaca (qiraat). Pertama, mayoritas qari, membacanya dengan dengan huruf shad, sebagaimana yang tercantum dalam mushaf Utsmani. Kedua, sebagian lain membacanya dengan huruf siin, sehingga menjadi (السِرَاط).  Ketiga, dibaca dengan huruf zay (ز), sehingga menjadi (الزِراَط). [39] Sedangkan menurut bahasa, seperti dikatakan at-Thabari, kata ash-shirath (الصِّرَاطَ) berarti jalan yang jelas dan tidak bengkok.[40]

Kataاهْدِنَا  berasal dari akar kata hidayah (هداية). Menurut al-Qasimi, hidayah berarti petunjuk –baik yang berupa perkataan maupun perbuatan– kepada kebaikan. Hidayah tersebut diberikan Allah kepada hamba-Nya secara berurutan. Hidayah pertama diberikan Allah kepada manusia melalui kekuatan dasar yang dimiliki manusia, seperti pancaindra dan kekuatan berpikir. Dengan kekuatan inilah, manusia bisa memperoleh petunjuk untuk mengetahui kebaikan dan keburukan.

Hidayah kedua adalah melalui diutusnya para Nabi. Macam hidayah ini terkadang disandarkan kepada Allah, para rasul-Nya, atau Alquran. Hidayah tingkatan ketiga adalah hidayah yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya yang karena perbuatan baik mereka. Hidayah keempat adalah hidayah yang telah ditetapkan oleh Allah di alam keabadian. Dalam pengertian hidayah keempat inilah, maka Nabi Muhammad tidak berhasil mengajak sang paman, Abi Thalib, untuk masuk Islam.[41] 

 

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) [الفاتحة : 7]

 (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ayat ini merupakan penjelasan dan tafsir dari ayat sebelumnya tentang apa yang dimaksud dengan “jalan yang lurus” (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ). Jadi, yang dimaksud dengan “jalan yang lurus” adalah “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”. Sedangkan yang dimaksud dengan “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” adalah jalan orang-orang yang telah Allah beri anugerah kepada mereka, lalu Allah pun menjaga hati mereka dalam Islam, sehingga mereka mati tetap dalam keadaan Islam. Mereka itu adalah para nabi, orang-orang suci, dan para wali. Sedangkan, menurut Rafi’ bin Mahran, seorang tabi’in yang juga dikenal dengan nama Abu al-Aliyah, yang dimaksud dengan “orang-orang yang Engkau beri nikmat itu” adalah Nabi Muhammad dan kedua sahabat beliau, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.[42]

Selanjutnya, yang dimaksud dengan “bukan jalan mereka yang dimurkai” (غير المغضوب عليهم) adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi. Mereka dimurkai oleh Allah dan mendapatkan kehinaan karena melakukan berbagai kemaksiatan. Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat (الضالين) pada lanjutan ayat tersebut adalah orang-orang Nasrani. Tafsir bahwa orang-orang dimurkai adalah Yahudi dan orang-orang sesat adalah Nasrani sudah disepakati oleh banyak para ulama dan diuraikan di dalam beberapa hadis dan ayat-ayat Alquran sendiri.[43]


BIBLIOGRAFI

 

Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, at-Tafsir al-Muyassar.

Abdurrahman bin al-Kamal Jalaluddin as-Sayuthi, ad-Durr al-Mantsur, (Beirut: Dar al-Fikr, 1993).

Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisir al-Lathif al-Mannan fi Khulash Tafsir al-Qur’an, (Saudi Arabia: Wizarah asy-Syu’un al-Islamiyah wa al-Auqaf wa ad-Da’wah wa al-Irsyad al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1422 H).  

Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi.

Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Ja’fi al-Bukhari, Al-Jami’ al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar ath-Thauq an-Najah, 1422 H).

Abu al-Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandi, Bahr al-Ulum, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.).

Abu al-Qasim Mahmud bin ‘Umar Az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ‘an Haqaiq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta’wil, (Beirut: Dar at-Turats al-Arabi, tt.).

Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, (Riyadh: Dar ath-Thayyibah li an-Nasy wa at-Tauzi’, 1997).

Alauddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi (al-Khazin), Lubab at-Ta’wil fi Ma’ani at-Tanzil, (Beirut: Dar al-Fikr, 1979).

Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2000).

Ibnu Abi Hatim ar-Razi, Tafsir Ibnu Abi Hatim.

Ibnu Jazi, at-Tashil fi Ulum at-Tanzil.

Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994).

Ismail Haqqi bin Musthafa al-Istambuli, Tafsir Ruh al-Bayan, (Kairo: Dar at-Turats al-Arabi, tt).

Jalaludin as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, (Mesir: al-Hai’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1974)

Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Quran wa as-Sab’i al-Matsani.

Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar, Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1995.

Muhammad ath-Thahir bin Muhammad bin bin Muhammad at-Thahir bin Asyur at-Tunisi, at-Tahrir wa at-Tanwir.

Muhammad bin Bahadur bin Abdullah az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1391 H).

Muhammad bin Hibban bin Ahmad Abu Hatim, Shahih Ibn Hibban, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1993).

Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali Abu Ja’far ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Riyadh: Muassasah ar-Risalah, 2000).

Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil, kitab digital dalam Program al-Maktabah asy-Syamilah versi 3.13.

Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir asy-Sya’rawi.

Muhammad Sayyid Thanthawi, at-Tafsir al-Wasith.

Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur’an.

 

 

 

 



[1] Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2000), juz 1, hal. 17.

[2] ‘Alauddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi (al-Khazin), Lubab at-Ta’wil fi Ma’ani at-Tanzil, (Beirut: Dar al-Fikr, 1979), juz 1, hal. 15.

[3] Muhammad bin Bahadur bin Abdullah az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1391 H), juz 1, hal. 206.

[4] Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), juz 1, hal. 101.

[5] Ibid.

[6] Jalaludin as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, (Mesir: al-Hai’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1974), juz 1, hal. 190.

[7] Ibnu Jazi, at-Tashil fi Ulum at-Tanzil, juz 1, hal. 61.

[8] Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar, Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), juz 2, ha. 315.

[9] Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Quran wa as-Sab’i al-Matsani, juz 1, hal. 35.

[10] Muhammad bin Hibban bin Ahmad Abu Hatim, Shahih Ibn Hibban, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1993), juz 5, hal. 81.

[11] Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Ja’fi al-Bukhari, Al-Jami’ al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar ath-Thauq an-Najah, 1422 H), juz 12, hal. 450.

[12] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, juz 1, hal. 86.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Abdurrahman bin al-Kamal Jalaluddin as-Sayuthi, ad-Durr al-Mantsur, (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), juz 5, hal. 165.

[16] Muhammad ath-Thahir bin Muhammad bin bin Muhammad at-Thahir bin Asyur at-Tunisi, at-Tahrir wa at-Tanwir, juz 8, hal. 203.

[17] Ibnu Jazi, at-Tashil fi Ulum at-Tanzil, juz 1, hal. 58. 

[18] Abu al-Qasim Mahmud bin ‘Umar Az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ‘an Haqaiq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta’wil, (Beirut: Dar at-Turats al-Arabi, tt.), juz 1, hal. 45.

[19] Ibnu Jazi, at-Tashil., loc. cit.

[20] Az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf., loc. cit.

[21] Ibnu Jazi, at-Tashil., loc. cit.

[22] Az-Zarkasyi, Al-Burhan., op. cit., juz 1, hal. 263.

[23] Ibid.

[24] Ismail Haqqi bin Musthafa al-Istambuli, Tafsir Ruh al-Bayan, (Kairo: Dar at-Turats al-Arabi, tt), juz 3, hal. 290.

[25] Abdurrahman bin Nashir bin as-Sa’di, Taisir al-Lathif al-Mannan fi Khulash Tafsir al-Qur’an, (Saudi Arabia: Wizarah asy-Syu’un al-Islamiyah wa al-Auqaf wa ad-Da’wah wa al-Irsyad al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1422 H), hal. 10.  

[26] Ibid.

[27] Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, et.al, at-Tafsir al-Muyassar, hal. 8.

[28] Muhammad Sayyid Thanthawi, at-Tafsir al-Wasith, juz 1, hal. 1.

[29] Ibid.

[30] Ibid.

[31] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, (Riyadh: Dar ath-Thayyibah li an-Nasy wa at-Tauzi’, 1997), juz 1, hal. 53.

[32] Ibid.

[33] Ibid.

[34] Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur’an, juz 1, hal. 5.

[35] Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir asy-Sya’rawi, juz 1, hal. 3.

[36] Ibid.

[37] Lihat, Muhammad Sayyid Thanthawi, at-Tafsir al-Wasith,  juz 1, hal. 6.

[38] Ibnu Abi Hatim ar-Razi, Tafsir Ibnu Abi Hatim, juz 1, hal. 8-9.

[39] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, op. cit., juz 1,  hal. 136.

[40] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali Abu Ja’far ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Riyadh: Muassasah ar-Risalah, 2000), juz 1, hal. 170.

[41] Lihat, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil, kitab digital dalam Program al-Maktabah asy-Syamilah versi 3.13.

[42] Abu al-Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandi, Bahr al-Ulum, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), juz 1, hal.43.

[43] Ibid., juz 1, hal. 44.

20 Tanggapan

  1. thanks Mas, artikelnya seakan mengingatkan kembali makna surat alfitah yang sangat bermanfaat dalam menjalani kehidupan ini, kita kan manusia pasti banyak masalah, dan kandungan surat ini membuktikan betapa tak ada zat yang dapat menyaingi kebesaran dan kekuatanNYA…

    Sama-sama, Mbak Witri. Semoga bermanfaat.

  2. sorry, miss type maksudku surat alfatihah:)

    Nggak pa2 deh.

  3. Assalamu’alaikum mas ijin copy tulisannya ya

  4. assalaamu’alaikum..ijin copy ya gan.. thx..

  5. hmm…
    tafsiran yg sgt bagus..dn cukup lengkap.
    tapi saya mau nanya nie
    tafsir alfatihah: “hanya kepadaMu kami menyembah…”
    yg ingin saya tanya kenapa ayat tersebut menggunakan kata ganti “kami” kenapa gk “saya”. kn yg saat baca alfatihah kan cumn saya.
    mohon pencerahannya.. :)

    Terima kasih atas apresiasinya. Tentang pertanyaan itu, ini jawaban dari saya. Mudahan bermanfaat.
    Menurut Ibnu Katsir, hal itu untuk menunjukkan makna hamba secara umum. Artinya, semua orang adalah hamba, dan seseorang yang sedang shalat adalah salah satu di antara seluruh hamba. Apalagi jika seseorang sedang shalat berjamaah atau bahkan ia menjadi imam dalam jamaah tersebut. Dengan menggunakan kata ganti “kami”, ia berarti mengabarkan bahwa dirinya dan orang-orang yang shalat berjamaah bersamanya menyembah dan meminta pertolongan kepada Allah. Di samping itu, ada juga yang berpendapat bahwa penggunaan kata “kami” adalah untuk tujuan penghormatan (takzim). Kalimat “kami menyembah” lebih sopan daripada kalimat “aku menyembah”. (Ibnu Katsir: Juz 1, hal. 135-136). Wallahu a’lam.

    Salam

  6. saya ingin tau lebih dalam lagi isi daripada surat Ai-Fatihah…

  7. Insyaalloh sangat bermanfaat,aamiin.

  8. assalamualaikum,ijin copy pak ustad

  9. ijin kopy juga pak ustadz

  10. alhammdulillah pas yg aq hafal.smoga aq dapat meraih ridho nya allah.amien

  11. Assalamu’alaikum, kalau tafsir QS. Al-Ashri versi Ath Thobari ada nggak ya?

  12. […] Terkandung perintah Allah kepada para hamba untuk memuji-Nya. Karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak atas pujian. Dialah yang menciptakan seluruh makhluk di alam semesta. Dialah yang mengurus segala persoalan makhluk. Dialah yang memelihara semua makhluk dengan berbagai kenikmatan yang Dia berikan. Kepada makhluk tertentu yang terpilih, Dia berikan kenikmatan berupa iman dan amal saleh.[27]  […]

  13. mari kita ber bondong”memperdalam ilmu islamiah

  14. subhaanallah, ternyata benar Suirat Al-Fatihah adalah Induknya Al-Qur`an. betapa Indahnya tujuh ayat yang di ulang2 ini, kami semakin semangat membacanya. pertanyaan ustadz ; bagaimana jika Surat ini di baca setiap kali ujung do`a dan di tawasulkan kepada orang yg sudah tiada dan untuk di ambil barakahnya untuk seseorang yang sakit umpamanya, bolehkah….?

  15. mksih banyak mas.,,., sya sngat mmbutuhkan refrensi sprti ni.,., kbtlan d kampus kami dpat tugas menafsirkan surah alfatihah.,.,

  16. Terimakasih banyak mas,,, sangat membantu sekali,,,

  17. Alhamdulillah , sangat sempurna sekali surat Al-Fatiha

  18. izin copas jazakummallah

  19. NUHUN nyuhungkeun widi ngopas ..

  20. mengapa maghdubii ditujukan untuk orang Yahudi dan dholin untuk orang Kristen? tolong jelasin ya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: