Warkijan Sakit

Warkijan merasa dirinya sakit dan ia pun datang ke dokter untuk berobat. Sang dokter lantas membaca hasil pemeriksaan lab yang diserahkan oleh Warkijan. Beberapa saat kemudian, si dokter memeriksa badan Warkijan dengan stetoskopnya.
“Hasil pemeriksaan lab, semuanya normal. Tidak ada yang sakit,” jelas sang dokter sembari melangkah kembali tempat duduknya.
“Tapi saya kok merasa sakit, dok. Badan rasanya lemas semua. Tidur jadi susah. Hati gelisah melulu,” sahut Warkijan seraya bangkit dari kasur tempat pemeriksaan. Ia lalu kembali duduk kursi di depan meja sang dokter.
“Yang menyebabkan badan kamu terasa lemas itu adalah pikiran kamu sendiri. Pikiran kamu memang tidak waras! Jiwa kamu yang sakit,” tegas dokter sambil meletakkan stetoskopnya di meja.
“Lho, maksud dokter, gimana?! Saya gila gitu?!” tanya Warkijan dengan mata mendelik. “Enak aja. Saya nggak gila!”
“Nah benar, kan!” sergah sang dokter dengan tenang. “Pasien yang ada di rumah sakit jiwa juga nggak ada yang mengaku dirinya gila!”
“Terus gimana, dok?! Saya jadi nggak ngerti maksud dokter.”
“Lho, kamu sebenarnya mau sakit atau mau sehat?”
“Ya, tentu mau sehat, dok!”
“Nah, segera konsultasi ke psikiater sebelum kamu benar-benar gila!”

Warkijan dan Tim Saber Pungli

Operasi Tim Saber Pungli ternyata mulai menyasar ke lingkungan KUA. Seorang oknum KUA berinisial EGP di daerah Indramlayu, tertangkap tangan oleh Tim Saber Pungli. Sang oknum tertangkap tangan dengan beberapa barang bukti yang kini sudah diamankan. Operasi Tim Saber Pungli ini memang mulai gencar digerakkan setelah banyaknya laporan dari masyarakat tentang berbagai pelanggaran di lingkungan KUA.

Sebagaimana dijelaskan Warkijan, Ketua Tim Saber Pungli Daerah Indramlayu, tim ini dibentuk untuk menegakkan aturan dan menciptakan kondisi masyarakat yang bersih dan sehat. Di samping itu, masyarakat juga berhak untuk memperoleh barang-barang yang aman untuk dikonsumsi.  Dengan tertangkapnya oknum tersebut, Warkijan mengharapkan hal itu menjadi shock therapy kepada orang-orang KUA agar lebih baik dalam melaksanakan tugasnya.

Di hadapan para wartawan yang meminta konfirmasinya, AKBP Warkijan menjelaskan bahwa Tim Saber Pungli merupakan Tim Sapu Bersih Peternakan Unggas Liar. Tim Saber Pungli ini diharapkan bisa menyapu bersih maraknya peternakan-peternakan unggas yang tak berizin alias liar. Usaha-usaha peternakan tersebut, terutama peternakan ayam potong, ditengarai banyak menyuplai ayam-ayam yang sudah mati ke beberapa pasar di daerah Indramlayu. Kegiatan ilegal tersebut banyak dilakukan oleh oknum Karyawan Usaha Ayam (KUA). Saat didesak oleh wartawan, siapa oknum berinisial EGP tersebut, akhirnya Warkijan pun menjawab, “Emang Gue Pikirin!”

Perseteruan KPK vs POLRI. Skor Sementara 2 : 1 untuk POLRI

kartun kpk vs polriAkhirnya, Presiden Joko Widowo mengambil keputusan untuk menyikapi polemik KPK vs Polri. Sang Presiden membatalkan pelantikan Budi Gunawan sebagai Kepala Polri. Beliau lantas mengajukan calon baru untuk jabatan Kapoliri, yaitu Badroodin Haiti, yang saat ini menjabat sebagai Wakapolri. Di sisi lain, beliau juga memberhentikan dua pimpinan KPK, yaitu Bambang Widjojanto dan Abraham Samad.

Keputusan sang presiden ini merupakan sebuah pilihan yang tak sepenuhnya win-win solutions. Dari kedua kubu, KPK dan Polri sama-sama merasakan betapa “garangnya” sikap Jokowi. Budi Gunawan yang sempat dijadikan tersangka oleh KPK akhirnya tak jadi dilantik sebagai Kapolri. Di lain pihak, Bambang Widjojanto dan Abraham yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri, akhirnya juga diberhentikan sebagai pimpinan KPK. Dengan kata lain, “keinginan” dari kedua belah pihak sama-sama tidak dikabulkan oleh sang presiden. Keinginan dari kubu Polri agar Budi Gunawan dilantik sebagai Kapolri akhirnya tidak tercapai. Begitu pula keinginan agar Bambang Widjojanto dan Abraham Samad tetap sebagai komisioner KPK juga tidak tercapai. Baca lebih lanjut

Membangun Kantor

Bangunan tak layak pakaiKetika pertama kali melihat kantorku yang baru, hatiku langsung miris. Betapa tidak, kantor terkesan kumuh, kotor, dan tak terawat. Papan nama sudah penuh dengan karat. Tulisannya pun nyaris tak terlihat, tertutup dengan rerimbunan pohon mangga. Taman di depan halaman sudah tak berwujud taman lagi. Parit di depan kantor tak disender sehingga terkesan menjijikkan. Arsip data pun berantakan. Padahal ia adalah kantor pemerintah. Milik negara!

Terbayang di kepalaku, berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk membiayai renovasi kantor besar-besaran ini. Hutang pembangunan di kantor sebelumnya saja belum terlunasi. Apakah sekarang aku harus menjadikan SK lagi sebagai jaminan kredit demi pembangunan kantor?! Ah, aku harus berpikir untuk mencari alternatif lain.

Menurut seorang temanku, tak perlu pusing-pusing memikirkan pembangunan kantor. Toh, kantor itu pun bukan milik kita pribadi. Ia adalah milik dan tanggung jawab pemerintah. Jika ada kerusakan, tinggal laporkan saja. Tak perlu kita repot untuk mencari dana sendiri. Nanti salah-salah kita dituduh melakukan korupsi. Mengapa bisa membangun? Dananya dari mana? Wah, repot lagi deh! Baca lebih lanjut

Jokowi, Presiden Pilihanku

Jokowi nepuk batukNun beberapa tahun silam, ketika Jokowi masih menjabat sebagai walikota Solo, aku langsung “jatuh cinta”. Ketika itu hanya sedikit media nasional yang memberitakan sepak terjang. Saat itu, salah satu gebrakannya adalah saat ia berhasil memindahkan para pedagang ke tempat yang baru dengan damai. Tanpa pemberontakan. Tanpa buldoser. Tanpa aksi demonstrasi yang menguras darah dan air mata.

Saat itulah, aku langsung terbersit dalam hati, “Andaikan orang ini menjadi presiden, sungguh ia menjadi pemimpin idamanku.” Tapi harapan itu hanya tersimpan dalam hati. Terbayang betapa jauhnya jalan sang walikota menuju kursi presiden. Apalagi ia “hanyalah” seorang walikota yang ndeso dan tidak diperhitungkan dalam kancah politik nasional. Saya mengubur dalam-dalam impian itu. Kuanggap, impian itu hanyalah utopia di tengah hiruk-pikuk dunia politik yang sarat dengan keculasan. Baca lebih lanjut

Wartawan Gadungan

ID Card Wartawan Gadungan

ID Card Wartawan Gadungan

Kemarin (17/6/2014) merupakan hari yang paling menyita pikiranku. Pada hari itulah, seorang oknum wartawan bodrek berhasil “memeras” diriku dan mengantongi uang Rp. 100.000,-. Bukan pada jumlah uang yang membuat diriku menjadi terkuras pikiran. Tapi pada tindakan diriku yang mau saja mengikuti kemauan oknum wartawan untuk memberikan uang.

Memang banyak cara untuk mencari uang, termasuk dengan cara memeras dengan berkedok sebagai wartawan gadungan. Dengan berlagak melakukan wawancara dan mengambil foto diriku, si wartawan pun melakukan aksinya. Ia bertanya-tanya soal tarif nikah. Tentu saja saya menjawab, bahwa tarif pencatatan nikah yang resmi adalah Rp. 30.000 sesuai dengan PP No. 47 Tahun 2004. Tapi sang tetap tidak percaya dengan tarif yang saya sampaikan. Baca lebih lanjut

Pejabat

clekit-feb0210

Para raja atau ratu, sejak zaman dulu hingga sekarang, niscaya digambarkan sebagai sosok orang yang kaya. Mereka menguasai dan memiliki tanah yang menjadi wilayah kekuasaannya. Para rakyat harus membayar pajak atau sewa kepada raja atau ratu yang notabene sebagai pemilik dari tanah-tanah tersebut. Dalam hal ini, negara menjadi personifikasi sang raja atau ratu, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh raja Prancis di masa lalu, Louis XIV, “L`etat, c’set moi.” Negara adalah saya. Pemasukan keuangan negara adalah pemasukan keuangan sang raja. Uang negara adalah uang raja. Tak ayal, raja pun menjadi orang yang sangat kaya raya. Meskipun mungkin rakyatnya sendiri masih banyak terjerat dalam tali kemiskinan.

Dalam konsep negara modern, pemimpin negara bukanlah berarti pemilik negara. Harta kekayaan negara bukanlah harta kekayaan sang raja, namun harta milik seluruh rakyat yang dilindungi oleh undang-undang dasar. Kekayaan negara dipergunakan sebesar mungkin untuk kesejahteraan rakyat dan pembangunan negara. Kalaupun sang pemimpin menjadi kaya, hal itu bukan karena ia memiliki seluruh kekayaan negara, tapi karena ia digaji besar oleh negara. Baca lebih lanjut