Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ)


Tiga hari ini, saya mengikuti kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten Indramayu yang ke-41 sebagai official. Banyak hal yang kulihat dan kurasakan. Ternyata acara tingkat kabupaten itu, tidak layak dikatakan sebagai lomba tingkat kabupaten tapi tingkat Jawa Barat dan Banten. Para peserta datang dari berbagai penjuru dari daerah di Jawa Barat dan Banten. Para peserta dari luar Indramayu itu merupakan para jawara yang sebagian sudah malang melintang di MTQ tingkat nasional.
Apa yang kemudian terjadi? Tak ayal, para peserta lokal Indramayu yang tidak memiliki pengalaman bertanding, pasti tersingkir oleh para jawara dari luar Indramayu itu. Pada gilirannya, fenomena peserta pesanan dari luar itu menimbulkan suasana bertanding yang tidak sehat. Siapa yang berani membayar besar dan mau mengeluarkan modal banyak, merekalah yang akan menyabet banyak medali. Kecamatan yang tidak berani mengeluarkan modal, jangan berharap bisa menyabet banyak medali.
Hal ini mestinya menjadi perhatian para pemerhati dunia MTQ di Indramayu. Betatapun fenomena peserta dari luar itu sudah tidak sehat lagi. Menurut pengamatan saya, hampir 50 % lebih para peserta itu dari luar Indramayu. Hal ini akan membunuh potensi lokal. Di samping itu, pembinaan MTQ dari pihak Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) juga terlihat tidak berjalan dengan baik. Jika berjalan dengan baik, tentu potensi-potensi lokal yang selama ini sudah terlihat bisa dibina dengan baik.
Indramayu sendiri sebenarnya banyak memiliki mantan jawara MTQ di tingkat provinsi maupun nasional. Sayang sekali, pembinaan memang belum berjalan. Meskipun sebenarnya Bupati Yance sendiri memiliki komitmen untuk mengembangkan potensi lokal. Bahkan konon LPTQ Indramayu sudah diberi dana besar oleh pihak Pemkab Indraayu untuk melakukan pembinaan. Sayang sekali, LPTQ tak lebih dari sebuah organisasi yang kerjanya hanya pada saat MTQ berlangsung saja. Kegiatan pembinaan tidak berjalan dengan baik, atau malah tidak berjalan sama sekali.
Semoga hal ini bisa menjadi perhatian bagi seluruh pihak yang terkait. Indramayu mestinya bisa berbicara banyak di tingkat provinsi bahkan nasional, jika pembinaan potensi lokal berjalan dengan baik. Kalau perlu, para pelatih didatangkan dari luar Indramayu untuk memperkuat para pelatih yang sudah ada. Wallahu a’lam.

Satu Tanggapan

  1. Masyarakat indramayu harus sadar, bahwa hidup di dunia cuma sekedar persinggahan, jadi untuk apa kaya kalau bergeliman dosa…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: