Crissy Moran: Insyafnya Bintang Porno


Crissy Moran

Crissy Moran

Namanya adalah Crissy Moran. Perempuan, yang menurutku tidak cantik-cantik amat, meski bukan berarti jelek. Ia lahir tanggal 22 Desember 1975 di Jacksonville, negara terbesar yang berada di negara bagian Florida, Amerika Serikat. Para lelaki penikmat pornografi di dunia maya, pasti mengenal nama perempuan tersebut. Ribuan atau mungkin jutaan pose bugilnya terpampang di berbagai situs esek-esek. Setiap incinya tubuhnya sudah dilihat jutaan orang di media internet atau video porno. Tentu saja termasuk “properti”-nya yang paling pribadi.

Sebagaimana disebutkan Wikipedia, Crissy termasuk merupakan pelopor bintang porno Amerika. Sudah 39 judul film porno yang ia terlibat di dalamnya. Sesuai pengakuannya, selama enam tahun, ia terjun ke industri esek-esek (adult industry). Namun tanpa diduga, tahun 2006, Crissy memutuskan diri untuk mundur dari dunia pornografi. Ia bertekad untuk menghapus jejak pornografi yang ia lakukan dari dunia internet, baik berupa foto maupun film. Tentu saja tekad itu tidak mudah untuk dilakukan.

Dalam situs resminya setelah ia mengundurkan diri dari industri pornografi, http://www.myspace.com/yourfriendcrissy, Crissy mengakui ia berasal dari keluarga berantakan. Ia telah bercinta dengan seorang lelaki di usia masih belia. Ia menganggap seks adalah satu-satunya hal yang bisa membawanya menemukan cinta. Dengan kondisi itu, ditambah dengan himpitan ekonomi, Crissy pun terjun ke dunia film biru. Meski sebenarnya tidak pernah bermimpi untuk menjadi bintang porno yang terkenal. Ia berharap memperoleh cinta dan perbaikan ekonomi dengan terjunnya ia ke dunia itu. Sayang seribu sayang, ia tidak memperoleh kedua hal itu.

Kegelisahan dan kegamangan terus menghantui Crissy selama menggeluti perfilman porno. Kebahagiaan tak jua menghampiri lubuk hatinya. Saat kegamangan itu memuncak, pada tahun 2006 ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari industri seks. Selama dua tahun ini, ia berupaya kuat untuk memperbaiki diri. Ia berusaha mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta dan menjadi seorang pemeluk Kristen yang taat. Ia bertekad untuk mengingatkan wanita-wanita lain agar menyadari, bahwa mereka bisa menjadi wanita yang berharga dan terhormat tanpa harus menjual seksualitas.
Salah satu upayanya itu wujudkan dengan membintangi sebuah film pendek berjudul Oversold. Film tersebut menceritakan seorang penari telanjang (stripper) yang ingin keluar dari dunia hitam yang menjeratnya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang pastor yang mengangkatnya dari liang kemaksiatan meski harus ditentang oleh banyak orang.

Memang berupaya untuk menjadi “orang baik” tidaklah mudah. Crissy pernah dipecat dari tempatnya bekerja karena diketahui ia adalah seorang mantan bintang porno. Ia juga masih sering menerima e-mail dan telepon dari lelaki iseng yang ingin mengajaknya bercinta. Karena itulah, ia pun tidak sudi melayani permintaan chatting atau telepon orang yang tidak ia kenal. Predikat Crissy sebagai bintang porno memang tidak begitu saja mudah dihilangkan dari ingatan orang di tempat ia berada. Apalagi predikat itu sudah dikenal orang sejagat.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi menyesali perbuatan buruk di masa lalu, lantas berhenti melakukannya, jelas lebih baik daripada tidak sama sekali. Masih banyak wanita yang merelakan tubuhnya untuk menjadi mesin pemuas berahi dalam industri seks yang semakin menggila. Sementara ajal tetaplah hak pregoratif Tuhan. Terkadang sebagian wanita yang terlibat dalam industri seks itu harus meregang nyawa sebelum menyadari kekeliruan mereka. Ambil contoh, Marylin Monroe, Chloe Jones, Anna Nicole Smith, dan lain-lain yang meninggal karena overdosis dalam usia yang masih relatif muda.

Aturan Tuhan yang melarang seks bebas bukanlah aturan yang dibuat oleh para anggota DPR yang bisa bersepakat untuk membuat hitam yang putih dan memutihkan yang hitam. Larangan itu adalah wujud kasih sayang-Nya kepada ciptaan-Nya agar mereka tidak terjerumus dalam kesengsaraan. Sayang sekali, manusia sering kali terlalu merasa lebih pintar daripada Tuhan yang menciptakan dirinya. Atau mungkin juga karena manusia sering kali menutup rapat-rapat telinganya dari jeritan nuraninya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: