Ketika Kepedulian Sirna


Sore yang temaram ditingkahi rinai gerimis di sebuah pertigaan Jalur Pantura Indramayu. Lalu lalang kendaraan bermotor masih ramai menyesaki jalan raya. Para tukang ojek berebut mencari penumpang yang turun dari angkot dan bis antar kota.

Asep baru saja memarkir motor di pangkalan ojek. Sembari melepaskan helm, ia menebarkan pandangannya ke arah bis yang berhenti. Sesaat kemudian, tampak sang istri di antara para penumpang.

Usai bersalaman dengan si istri dan menanyakan kondisi ibu mertuanya yang terbaring koma di rumah sakit, Asep pun bersiap menghidupkan mesin motornya. Mengantar istri pulang ke rumah.

Tiba-tiba braaak. Terdengar suara motor yang menyerempet mobil. Tepat di depan Asep dan istri. Para tukang ojek berteriak-teriak histeris meminta mobil berhenti. Akhirnya, mobil itu berhenti lantas sang sopir turun dari mobilnya, bersama seorang perempuan. Ternyata mobil itu dari showroom motor Kawasaki yang baru mengantar motor-motor baru yang akan dijual.

Si pengendara motor dan si sopir mobil berdebat sengit. Keduanya saling menyalahkan. Tapi, Asep tahu betul, si pengendara motor memang yang ceroboh. Tidak melihat-lihat kendaraan di depannya langsung belok dan mengambil arah jalan mobil. Tapi, sebagaimana biasa, meski pengendara motor yang salah, tetap saja pemilik mobil yang disalahkan.

Belum juga selesai kedua pihak itu meributkan insiden yang mereka alami, tiba-tiba braaaak! Terdengar kembali suara benturan yang lebih keras daripada insiden mobil dengan motor sebelumnya. Asep yang sebelumnya sudah bersiap-siap menghidupkan motor untuk mengantar pulang sang istri, ia pun mencari sumber suara. Ternyata sebuah motor tergeletak di samping median jalan. Asep tidak melihat sosok pengendara motor yang tergeletak itu.

“Lho, mana orangnya?” ujar Asep kaget sembari menoleh ke arah sang istri.

“Itu di sebelah median jalan sana!” seru sang istri menunjuk ke arah seberang jalan.

Asep langsung memarkir motornya. Usai mematikan mesin motor, Asep tidak sempat mengambil kunci motor yang masih berada di tempatnya. Beruntung sang istri segera mengamankan kunci motor yang baru saja dibeli secara kredit. Tentu saja belum lunas.

“Masya Allah!” seru Asep kaget begitu sampai di sebelah median jalan dan melihat sosok korban yang tertelumpuk dalam keadaan pingsan. Darah segar terlihat keluar dari kepalanya. “Ayo ditolong. Ayo, Pak, ditolong!” teriak Asep kepada orang-orang yang mulai berdatangan melihat si korban.

Asep mencoba mengangkat tubuh korban itu. Wow, ternyata berat sekali. Orangnya berbadan besar dan agak gemuk. Tentu saja Asep tidak mampu mengangkat sendirian.

“Ayo bantuin ngangkat! Bantuin angkat!” teriak Asep berkali-kali.
Apa lacur? Orang-orang yang datang hanya sekedar untuk melihat. Tidak ada yang tergerak untuk sekedar membantu Asep mengangkat si korban ke pinggir jalan.

“Ayo dibantuin! Saya nggak kuat sendirian! Kalo saya kuat, saya angkat sendiri!” seru Asep kesal. Tak ada juga yang mau membantu Asep.

“Tungguin aja keluarganya. Biar keluarganya yang ngurus,” kata seseorang lelaki usai melihat si korban lantas pergi ngeloyor.

“Eh, masak dibiarin begini aja?! Kasihan. Bisa-bisa mati dibiarin!” seru Asep dengan menahan gondok di hati.

“Kenapa? Kenapa?” tanya seorang lelaki datang melihat-lihat si korban.
“Ayo bantuin mengangkat!” ujar Asep tanpa menjawab pertanyaan orang itu.

Lelaki-lelaki bercelana pendek itu bukannya membantu, ia pun kembali pergi meninggalkan sosok korban yang masih di tengah jalan. Sementara jalan masih ramai dilewati kendaraan yang lalu lalang. Untung saja ada seorang petugas DLLAJR yang berusaha memberikan petunjuk lalu lintas agar para pengemudi kendaraan memperlambat laju kendaraannya. Kalau tidak, bisa-bisa korban dan Asep ditabrak kendaraan-kendaraan yang masih lalu lalang.

Seorang ibu datang mendekati korban. Usai mengamat-amat sejenak, ia lalu berujar, “Wah, paling orang ini mabuk. Masak median jalan ditabrak begitu aja.” Kembali ibu itu pergi meninggalkan si korban tanpa memberikan bantuan apapun!

“Udah tungguin aja polisi. Biarin aja,” seru seorang tukang ojek yang masih mengenakan jas hujan.

“Cari aja keluarganya. Biar diurus keluarganya aja,” celetuk seorang lelaki yang lain.

“He, masak dibiarin aja di tengah jalan?! Bisa-bisa ketabrak orang ini,” sergah Asep dengan nada jengkel.

Menjawab jawaban Asep demikian, tukang ojek dengan santainya pergi ngeloyor.

Setelah berteriak-teriak meminta bantuan mengangkat, akhirnya Asep memperoleh juga bantuan dari petugas DLLAJR dan seorang lelaki yang lain. Bertiga mereka mengangkat sosok lelaki bertubuh gembal berkulit kehitaman itu. Aduh, ternyata berat juga.

Setelah dibawa ke pinggir jalan, persoalan tentu saja belum selesai. “Ayo dibawa ke rumah sakit. Ke rumah sakit,” seru Asep dengan keras.

“Pakai beca aja. Dibawa becak,” usul si petugas DLLAJR.

“Ayo, Pak, tolong dibawa ke Rumah Sakit,” pinta Asep kepada kedua tukang becak yang sedang mangkal berdekatan. Kedua tukang becak itu tak menyahut. Diam seribu bahasa.

Menyadari tukang becak tidak mau, Asep meminta mobil bak terbuka yang sedang lewat untuk membawa korban itu. Mobil itu tetap saja lewat sembari menutup kaca mobil. Tak menghiraukan sama sekali permintaan Asep. Tanpa putus asa, ia kembali menyetop sebuah mobil Carry yang sedang lewat. Lagi-lagi mobil itu tak menghiraukan permintaan Asep.

Melihat mobil showroom Kawasaki masih berada di tempat, Asep meminta si sopir untuk bersedia mengantar si korban ke rumah sakit yang berjarak hanya sekitar 1,5 km dari tempat kejadian.

“Maaf, maaf, kami buru-buru,” tolak seorang perempuan yang juga penumpang mobil showroom itu. Sesaat kemudian, mobil itu pergi ngeloyor. Baru saja mereka membereskan persoalan insiden serempet dengan motor yang terjadi sebelumnya.

“Eh, Pak,” tiba-tiba seorang tukang ojek menyapa Asep yang lagi panik mencari mobil untuk membawa korban. “Bapak kenal sama orang itu? Bapak saudaranya?”

“Saya nggak kenal. Saya bukan saudaranya!” sergah Asep dengan ketus. Di dalam hati, Asep hanya berpikir bagaimana menolong korban itu secepat mungkin. Tidak ada hubungannya apakah ia kenal atau saudara dengan si korban.

Seorang tukang ojek yang masih mengenakan jas hujan, merogoh saku celana si korban. Tukang ojek itu lalu membuka dompet pengendara motor yang naas tersebut guna mencari kartu identitasnya.

“Oh, dia orang Terisi,” cetus si tukang ojek seraya mengacungkan KTP.
“Bapak orang Terisi kan? Kenal sama orang ini?” tanyanya kepada Asep.

“Ya, saya orang Terisi. Tapi, saya nggak kenal orang ini,” jawab Asep.

“Ya, udah! Panggil ambulans saja dari Bhayangkara,” usul si petugas DLLAJR menyebut nama sebuah rumah sakit.

“Ayo, Bapak-bapak, siapa yang mau manggil ambulans?” tanya Asep ke arah para tukang ojek yang berkeliaran di pangkalan ojek itu.

Tak ada yang menyaut. Tak ada tukang ojek yang tergerak untuk bersedia memanggil ambulans ke rumah sakit. Padahal jarak rumah sakit tidaklah jauh. Hanya sekitar 2 km. Kebangetan banget.

“Ya, udah pake motor saya aja,” putus Asep menuju motor yang ia parkir.

“Sudah, Pak, nggak usah ikut campur!” nasihat si istri sembari mendekati Asep. “Saya deg-degan nih. Gemeteran. Saya takut.”

“Sudah! Nggak pa-pa! Masak nolong orang tidak boleh?!” sergah Asep. “Mana kunci motornya?” sembari menjulurkan tangannya ke arah si istri. Kunci itu pun lantas diserahkan ke tangan Asep.

Akhirnya, Asep mengendarai motornya sendiri untuk memanggil ambulans.

“Ayo, sama saya,” kata si petugas DLLAJR sembari naik membonceng motor Asep.

“Oke, nanti Bapak yang ke kantor polisi, saya yang ke rumah sakit untuk minta ambulans,” kata Asep sembari terus menjalankan motornya menuju rumah sakit.

“Ya, saya yang lapor ke polisi,” kata si petugas DLLAJR itu lagi.

Kantor polisi dan rumah sakit memang berdampingan. Jadi memudahkan dalam berkomunikasi. Sesampai di depan kantor polisi, petugas DLLAJR pun turun. Semenara Asep terus menuju ke rumah sakit yang hanya bersebelahan dengan kantor polisi.

“Pak, tolong, minta ambulans!” seru Asep begitu sampai di gerbang rumah sakit dan dihadang oleh Satpan. “Ada yang kecelakaan di depan pertigaan Jangga. Tolong , Pak, cepat. Nanti keburu meninggal!”

“Bapak siapa? Keluarganya bukan?” tanya sang satpam layaknya polisi yang menginterogasi maling.

“Saya bukan keluarganya. Kenal juga nggak. Saya hanya ingin menolong,” jawab Asep sembari terus mengedarkan pandangannya, mencari-cari mobil ambulans.

“Nanti siapa yang bertanggung jawab?” tanya satpam.

“Itu persoalan nanti saja. Yang penting, selamatkan dulu korbannya. Ayo, Pak, tolong, panggilkan ambulans. Nanti keburu mati korbannya!”

Akhirnya, satpam itu mengalah. Dengan berteriak-teriak, ia memanggil petugas ambulans. Beberapa saat kemudian, muncul mobil ambulans dari gerbang rumah sakit seraya meraung-raung membunyikan sirene.
Asep pun mendekati ambulans dan memberitahukan lokasi kejadian kepada sang sopir ambulans. Beberapa saat kemudian, ambulans pun meluncur ke jalan raya menuju lokasi kejadian. Asep mengikuti dari belakang dengan motornya.

Di belakang ambulans, mobil polisi mengikuti di belakang. Petugas DLLAJR ternyata ikut di mobil polisi itu. Hanya sekitar 5 menit, ambulans pun sampai di lokasi kejadian. Dua orang petugas ambulans segera mengeluarkan tandu untuk mengangkut korban. Keduanya berusaha mengangkat korban itu. Ternyata korban berat sekali. Keduanya tidak berhasil mengangkat. Tidak ada yang berusaha membantu mereka untuk mengangkat. Meskipun orang-orang banyak di situ. Akhirnya, Asep kembali ikut menyumbangkan tenaganya.

Begitu si korban sudah masuk ke mobil ambulans dan dibawa menuju rumah sakit, Asep kembali menemui istrinya. Kembali ke tujuan semua untuk menjemput sang istri pulang ke rumah.

“Duh, Pak, kita deg-degan. Jantung rasanya mau copot. Bapak kok ikut-ikutan segala sih?!” celoteh sang istri sesaat setelah Asep datang.
“Lha, wong, korbannya dibiarin aja gitu?! Nggak ada yang mau nolong! Aku paling nggak tega lihat korban kecelakaan dibiari tergelatak begitu aja tanpa ditolong. Kayak ayam aja.”

Di tengah jalan, sembari membonceng sang istri dengan motor kreditnya yang belum lunas, Asep masih tidak habis pikir. Apakah sudah sebegitu tidak pedulinya masyarakat kita terhadap kesulitan orang lain? Alih-alih segera menolong korban yang dalam keadaan kritis, orang-orang justru meributkan hal-hal yang tidak penting dan hanya menjadi penonton. Menanyakan bagaimana kejadian hingga terjadi kecelakaan. Menuduh korban sebagai orang yang sedang mabuk. Ah, capek, deh.

Satu Tanggapan

  1. Benar2 tragis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: