Egoisme Orang Tua


Sungguh tidak mudah menjadi orang tua yang baik buat anak-anak kita sendiri. Kita seringkali begitu mementingkan kepentingan diri sendiri sehingga melupakan anak-anak yang notabene darah daging kita sendiri. Tanpa sadar, banyak orang tua yang begitu egois sehingga membiarkan anak-anaknya terlantar dan kekurangan kasih sayang.

Atas nama kebebasan dan kedewasaan, anak pun dibiarkan tidak pulang ke rumah, tanpa dicari dan ditanya oleh orang tua ke mana perginya sang anak. Ketika sang anak sudah hamil di luar nikah atau sekarat karena overdosis, barulah orang tua tersadar. Iwan Fals harus lama vakum berkarya dan menghindari media massa, saat anaknya, Galang Rambu Anarki, tewas mengenaskan karena overdosis. Penyanyi senior itu seolah menyesali kebebasan yang ia berikan seutuhnya kepada sang anak yang akhirnya justru berbuah petaka.

Di kota atau di desa, orang tua juga sama saja. Sibuk dengan pekerjaan. Bedanya hanya tempat dan jenis pekerjaan. Kalau di kota, orang-orang sibuk di kantor; sementara di desa orang-orang sibuk di sawah atau ladang. Di kota, orang-orang berpakaian rapi dan berbau wangi saat bekerja. Namun di desa, orang-orang berpakaian lusuh dengan badan penuh lumpur serta berbau keringat.

Dengan alasan mencari nafkah itulah, orang tua mengabaikan kewajibannya untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Padahal, yang diperlukan oleh anak-anaknya tidak hanya uang jajan dan baju bagus, tapi juga perhatian dan kasih sayang yang tak melulu berwujud materi. Begitu banyak waktu yang dihabiskan orang tua di tempat kerjanya dalam sehari. Namun berapa jam waktu yang diberikan orang tua untuk bersama anak-anaknya di rumah? Sungguh, tidak adil.

Orang yang sukses dalam karier dan pekeraannya, seringkali adalah orang yang gagal di tengah keluarganya. Seorang penyanyi perempuan dengan bangga menepuk dada atas kesuksesannya sebagai penyanyi top. Lagu-lagunya digemari banyak orang. Tapi, di mata (mantan) suami dan anak-anaknya, ia tak lebih dari sekedar perempuan egois yang lebih mencintai pekerjaan barunya sebagai penyanyi daripada diri mereka. Sementara sang ibu sibuk dugem dengan teman-temannya seusai menyanyi di sebuah tempat. Ketika tiba di rumah dalam keadaan sempoyongan karena mabuk, anak-anak dan suaminya sudah terlelap dalam buaian mimpi. Saat gemerlap karier yang kian memuncak, suami dan anak seolah menjadi beban yang menghambat kariernya.

Mungkin memang mudah “membuat” anak, tapi yang tidak mudah adalah mengasuh dan mendidiknya. Kita hanya berfikir, betapa senang dan nikmatnya upacara “membuat anak”. Tapi, ketika anak sudah lahir, sang ibu ogah memberikan ASI, dan sang ayah juga malas untuk sekedar membantu mengganti popok anaknya. Padahal salah satu tujuan terpenting hubungan seksual dalam rumah tangga adalah reproduksi (tanasul), tidak hanya demi kesenangan (taladzdzudz) semata.

Sebagaimana mencari nafkah bagi sang ayah, mendidik anak juga merupakan kewajiban. Seringkali kita terlena dengan pekerjaan kita, bahkan menjadi workaholic karena pekerjaan itu memang kita senangi. Saat begitu terlena, anak pun terabaikan. Meski sebenarnya hasil dari kerja jungkir balik itu juga untuk menghidupi sang anak. Namun kita akhirnya tidak seimbang dalam melakukan berbagai kewajiban. Fokus pada kewajiban mencari nafkah tapi abai terhadap kewajiban mengasuh dan mendidik anak, adalah bentuk ketidakadilan dan egoisme yang sering dilakukan orang tua.

Seorang teman perempuan pernah bercerita. Suaminya menyatakan bahwa ia hanya mencintai temanku itu, tapi tidak terhadap anak-anaknya. Sungguh aneh bagiku. Bukankah anak-anak itu juga darah dagingnya sendiri? Bukankah anak-anak itu terlahir karena “perbuatannya” sendiri? Ia hanya ingin bercinta dengan istri. Tapi, ketika lahir anak, buah cinta mereka, sang suami tak sudi memberikan kasih sayang. Anak-anak ditinggalkan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, oleh sang ayah yang sedang mencari nafkah.

Ketika seorang lelaki memutuskan hendak menikah, mestinya ia juga harus siap untuk menjadi suami sekaligus ayah. Ketika seorang perempuan memutuskan menikah, mestinya ia juga harus siap menjadi istri bagi sang suami dan ibu dari anak-anaknya. Kalau memang tidak siap untuk menjadi ayah, mestinya sejak awal seorang tak perlu menikah terlebih dahulu. Ada baiknya, ia harus menata hati dan niat terlebih dahulu hingga betul-betul siap membina rumah tangga.

Di daerah tempat tinggal sekarang, banyak sekali para perempuan yang meninggalkan anak-anaknya yang balita, bahkan terkadang masih bayi. Para perempuan itu pergi menjadi TKW ke luar negeri, kebanyakan negara-negara Timur Tengah. Anak-anak itu itu lantas diasuh oleh sang ayah atau sang nenek. Akhirnya, anak-anak itu tumbuh menjadi anak-anak yang kurang mengenal etika dan sopan santun. Bahkan banyak yang kemudian jadi berandalan. Kalau si anak adalah perempuan, ia pun menjadi gadis ABG yang harus kehilangan masa depannya karena telah dihamili oleh sang pacar.

Dalam sebuah pelatihan yang kuikuti di Bandung, K.H. Miftah Faridl menuturkan bahwa beliau harus menghentikan aktifitas dakwahnya karena malu anak sendiri belum lancar mengaji. Adalah ironi jika beliau mengajari orang-orang lain, sementara anak beliau sendiri justru tidak diajari terlebih dahulu. Akhirnya, beliau pun mengajari anaknya terlebih dahulu hingga lancar mengaji, baru kemudian kembali mengajari orang lain.

Sang Pencipta mengajarkan kita untuk menyusun skala prioritas dalam menjalankan kewajiban pengajaran. Ajari dirimu sendiri dan keluargamu, baru mengajari orang lain. Sungguh, tidak mudah memang untuk senantiasa hidup seimbang meniti jalan di tengah berbagai kewajiban yang kita emban. Tapi, jika hidup selalu mudah, maka Tuhan tak perlu menciptakan surga dan neraka.

7 Tanggapan

  1. waw.waw.waw
    jadi ga bisa komen nih, bingun mau komen apa????????

    Ya, terserah aja, deh, Ded. Nggak usah bingung. Wong, saya juga nggak bermaksud membikin bingung.
    Ngemeng-ngemeng, avatarnya diganti, dong, dengan foto sendiri.

  2. bagus.1000000000000 x

  3. kehidupan karier seringkali berbanding terbalik dengan kehidupan berkeluarga? walaupun rasanya terlalu cepat menyimpulkan, terkadang ada benarnya juga. disadari maupun tidak, tuntutan karir sering membuat kebutuhan anak menjadi prioritas kesekian, yang ironisnya malah sering digantikan oleh materi. nauzubillah min zalik. mudah-mudahan kita terhindar dari hal seperti itu.

    tulisan yang mencerahkan, mas racheedus.

    Tulisan saya cenderung menghakimi dan cepat menyimpulkan, ya, Bu Yulfi? Hmm… Saya hanya mengamati apa yang terjadi di sekeliling saya. Membaca berita di media massa dan merenungi apa yang saya sendiri alami. Mungkin pengamatan saya bisa salah. Paling tidak, saya sedang menasehati dan mengajari diri sendiri. Saya sendiri tertatih-tatih menjadi orang tua. Saya juga takut, anak saya menjadi berandalan dan tak tahu sopan santun. Saya bekerja terkadang sampai pulang malam. Istri saya juga bekerja terkadang pulang sampai sore.

  4. Anak, adalah buah hati…. sekaligus amanah
    Karier… bisa penting bisa tidak …. ketika hendak membangunnya mestinya… keluarga menjadi prioritas utama apalagi bagi seorang istri…kayak saya….
    Bagus deh Tulisannya…. membuka cakrawala untuk lebih jauh direnungkan bagi seorang istri kaya sy Ustadz…yang sekaligus…. berkarier diluar rumah…

    Makasih, Mbak Emi, sudah mampir. Sudah lama saya tunggu-tunggu. Tapi, jangan pakai istilah ustaz, dong. Saya jadi malu dengan diri sendiri. Istilah ustaz itu kalau di Timur Tengah biasanya digunakan untuk guru besar, yang bertitel professor doktor, lho.

  5. Salam Kenal, thanks Bu Emi yang udah woro2 di FB….akhirnya ketemu juga penulis yang selugas ini………..saya juga jadi merenungi, keputusan saya selama 10 tahun ini hanya jadi iburumahtangga thok, apakah benar2 untuk kepentingan anak-anak ya? Awalnya stress…..lama-lama kok ya nyantai, tapi tetap dengan kekuatiran yang sama dengan Anda…he he he……..

    Salam kenal, Mbak Uti. Wah, makasih blog dipromosin sama Mbak Emi. Makasih juga Mbak Uti sudi mampir ke blog yang sederhana ini. Ditunggu kunjungan berikutnya.
    Menjadi ibu rumah tangga juga merupakan kemuliaan dan kehormatan. Tak perlu stress.

  6. ketika dunia diserbu nilai2 materialisme dan hedonisme, ada sudut dunia lain yang tampak seperti neraka, mas rache. tak sedikit orang tua yang melulu berperan sbg orang tua biologis dg memberikan limpahan materi dan kemewahan. namun, secara ideologis dan kultural, banyak anak yang telah kehilangan orang tua. memberikan kebebasan kepada anak bukan berarti membiarkan mereka hidup tanpa perhatian dan kasih sayang.

    Lha, itu juga bagian dari tugas Pak Guru untuk mengajarkan kepada murid-muridnya, pun wali muridnya. He…he…

  7. Untung saja yang dipopulerkan Kenalan rmaja … bukan Kenakalan Orang Tua he he

    Kayaknya, harus dipopulerkan pula istilah kenakalan orang tua, ya, Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: