Pilkada dan Istri Muda


Pilkada yang akan diselenggarakan di berbagai mulai jadi sorotan berita. Salah satu yang menarik dari gonjang-ganjing pilkada itu, adalah munculnya fenomena para istri kepala daerah yang maju mencalonkan diri menggantikan sang sang incumbent, suami sendiri. Namun yang lebih menarik adalah terkuaknya keberadaan sang suami yang memiliki istri muda, padahal selama ini hal itu kurang terendus publik.

Di antara sekian ratus pilkada di seluruh Indonesia, paling tidak ada dua pilkada yang diramaikan dengan poligami sang incumbent. Pertama terjadi di Kediri. Bupati incumbent, Sutrisno, yang sudah menjalani dua periode jabatan, ternyata memiliki dua istri. Serunya, kedua istri sama-sama bersaing dengan mengajukan diri sebagai calon bupati untuk menggantikan sang suami. Istri pertama, Haryati, maju dengan dukungan resmi dari sang suami. Sedangkan istri kedua, Nurlaila, juga mau dengan dukungan beberapa parpol meski tanpa dukungan terbuka dari sang suami.

Pilkada kedua yang beraroma poligami terjadi di Bone Bolango, Gorontalo. Bupati penahan (incumbent), Ismet Mile, telah mendaftar secara resmi sebagai balon bupati di KPUD setempat. Dengan terbuka, Ismet datang ke kantor KPUD didampingi sang istri muda, Yayuk Alamari. Sementara sang istri tua, Ruwaida Mile, telah terlebih dahulu mendaftarkan diri di KPUD.

Aroma persaingan antara para istri Bupati tersebut terendus kuat. Di Bone Bolango, Ruwaida Mile yang menjadi istri tua sang incumbent dicopot secara sepihak oleh sang suami dari jabatan ketua PKK. Sebagai pengganti, Ismet Mile, sang bupati mengangkat istri keduanya, Yayuk Alamari.

Rumah tangga Ismet Mile-Ruwaida Mile memang menjadi tidak harmonis saat Ismet menikah lagi dengan Yayuk Alamari. Ketidakharmonisan itu semakin kentara saat Ismet mulai membawa-bawa sang istri muda di tugas-tugas kedinasan. Puncaknya, saat Ruwaida dicopot dari jabatan ketua PKK dan digantikan oleh Yayuk.

Saat pernikahannya di ujung tanduk dan sang suami lebih banyak bersama istri muda, Ruwaida pun bangkit. Ia menggalang kekuatan politik dan maju dalam pilkada untuk memperebutkan kursi bupati Bone Bolango. Dengan demikian, ia berhadapan langsung dengan sang sang suami yang juga mendaftarkan diri kembali dalam pilkada untuk mempertahankan kursi bupati yang selama ini ia duduki.

Cerita di Kediri tak kalah seru. Sutrisno, Bupati Kediri yang sudah menjabat dua periode, memang tak mungkin mencalonkan diri kembali. Namun kedua istrinya sama-sama mencalonkan diri untuk meraih kursi bupati yang
kini diduduki sang suami. Sebagai istri pertama, Haryati mendapat dukungan penuh dari sang suami. Tak mau kalah, istri kedua, Nurlaila juga maju meski tanpa dukungan resmi dari sang suami.

Salah satu hal yang perlu dipertanyakan adalah status pernikahan sang bupati dengan istri keduanya. Diduga kuat, pernikahan kedua bupati tersebut dengan istri mudanya tidak tercatat secara resmi. Dengan istilah lain, pernikahan dengan istri muda adalah pernikahan sirri atau di bawah tangan. Apatah rakyat sudi menaati hukum pernikahan jika pemimpin mereka sendiri melanggarnya. Dan kekuasaan memang selalu penuh dengan gula-gula nan manis, termasuk godaan untuk menambah stok istri.

Iklan

6 Tanggapan

  1. 😀 Pada demen menjadi pemimpin, padahal jika sadar betapa beratnya tanggungjawab dunia akhirat yang harus diembang oleh seorang pemimpin mungkin ga akan ada yang mau kalau ditawarin jadi pemimpin meskipun diiming-imingi uang dan kekuasaan yang melimpah

  2. Koreksi dikit Mas Rashed, di alinea kedua, Sutrisno itu Bupati Sidoarjo, tapi kok di alinea kedua dari bawah disebutkan sebagai Bupati Kediri? Yang benar gimana?

    Fenomena istri bupati yang maju dalam pilkada juga sedang dialamai Bantul. Saya melihat bahwa para perempuan (istri) yang ikutan Pilkada itu seolah membenarkan bahwa perempuan hanyalah makhluk lemah yang selalu menjadi boneka-nya sang suami… Terus terang, saya prihatin… 😦

    Terima kasih, Uda, atas koreksinya. That’s what friends are for.. Yang bener adalah Bupati Kediri.

    Di Indramayu juga sama, Uda. Istri Bupati didorong-dorong oleh suami untuk bertarung di Pilkada guna menggantikan sang suami yang sudah 2 kali menjabat.

  3. Kekuasaan seringkali menawarkan sisi-sisi menggiurkan yang mampu menyeret objeknya menyimpang dari tujuan semula. Namun, masih banyak saja orang yang memperebutkannya.

  4. Parodi menggenaskan!

  5. hehehehe … kembali pada jaman kerajaan… turun temurun… monarkhi cara demokrasi

  6. ini yg saya sebut sebagai negeri kardus…

    Bagus juga istilahnya, negeri kardus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: