Nestapa Korban Trafficking


Gerimis di malam itu mengiringi kata demi kata yang meluncur deras dari mulut Kartiman (25). Sebut saja namanya begitu. Ia menghentikan langkahku di areal parkir saat aku menuju kendaraanku untuk segera pulang ke rumah sesuai menghadiri sebuah undangan di desa tetangga. Kartiman menceritakan kegundahannya saat sore sebelumnya baru saja ditemui oleh istrinya, Melati.

Aku pun teringat dengan istri Kartiman. Sebelum kudengar rumah tangganya diterpa keretakan, aku beberapa kali bertemu dengannya. Ia memang masih muda. Umurnya baru sekitar 20 tahun. Meski bertubuh mungil, wajahnya cantik dengan kulit putih bersih. Namun siapa sangka, di balik senyum manisnya itu, Melati menyimpan duka nestapa yang tak terperi.

Sudah dua hari, Melati tidak pulang ke rumah orang tuanya di sebuah desa yang masih wilayah kerjaku selama ini. Ia menginap di rumah seorang kerabat di sebuah desa di kecamatan tetangga. Keputusan itu diambil Melati karena ia sudah muak dengan perlakuan orang tuanya terhadap dirinya. Betapa tidak, Melati seperti menjadi sapi perah bagi kerakusan orang tuanya.

Beberapa bulan terakhir ini, Melati disuruh orang tuanya untuk bekerja di ibukota Jakarta. Sang ayah ternyata sudah mempunyai koneksi yang bisa mencarikan pekerjaan bagi Melati di kota metropolitan itu. Dengan diatur oleh sang ayah dan seorang “sponsor”, Melati pun berangkat ke Jakarta untuk bekerja di sebuah diskotek. Gaji besar menjadi iming-iming yang kuat bagi sang ayah yang pengangguran dan terlilit hutang sehingga rela mengorbankan sang anak, Melati.

Melati sendiri memang terlahir dari keluarga yang “awut-awutan”. Sang ayah adalah seorang mantan pencuri kayu jati yang doyan mabuk dan main judi. Sementara sang ibu adalah seorang mantan penjaja cinta. Kakak perempuan Melati sendiri juga baru saja berhenti dari dunia prostitusi karena mulai dimakan usia dan terserang penyakit kelamin. Keluarga besar Melati memang sudah terbiasa mempekerjakan anak-anak perempuan mereka untuk menjadi penjaja cinta di Jakarta, Batam, Bandung, bahkan di luar negeri.

Sebelum menikah dengan Kartiman, Melati juga sudah ditawarkan oleh sponsor untuk menjadi pekerja seks komersial dengan imbalan 50 juta kepada orang tuanya. Dengan kata lain, uang hasil bekerja dalam jangka tertentu sebagai penjaja cinta sudah dibayar di depan oleh sang germo. Tidak mau dijadikan PSK, Melati pun mendesak agar Kartiman segera menikahinya.

Setelah menikah dengan Kartiman, cengkeraman orang tuanya tak juga bisa dilepaskan oleh Melati. Tak pernah berhenti orang tua Melati membujuk dirinya agar rela bekerja sebagai PSK di Jakarta. Apalagi saat Kartiman sudah gerah dengan tingkah polah orang tua Wiwin dan mulai hidup terpisah dengan sang istri. Betapa tidak, setiap kali uang hasil jerih payah Kartiman sebagai tukang servis motor diberikan kepada Melati, keesokan harinya uang itu sudah habis. Ternyata separo dari jumlah uang yang disetorkan Kartiman itu harus diserahkan kepada orang tuanya yang memang pengangguran.

Di sisi lain, Melati juga dibayang-bayangi ancaman bahwa ayahnya akan dijebloskan ke dalam penjara jika tak mampu melunasi hutang-hutang sang ayah. Tak ayal, Melati pun tak sanggup membayangkan jika sang ayah betul-betul dijebloskan ke penjara. Apalagi jika kasus-kasus pencurian kayu jati yang pernah dilakukan oleh sang ayah terbongkar.

Akhirnya, Melati berangkat ke Jakarta di saat rumah tangganya sendiri di ambang kehancuran. Setiap minggu, ia biasanya pulang membawa uang sekian juta yang harus ia setorkan kepada sang ayah. Jika pulang tidak membawa uang, atau jumlah uangnya kurang, ia pun akan dimarah-marahi oleh sang ayah dan disuruh segera kembali ke Jakarta. Jika berangkat kembali ke Jakarta, ia pun hanya diberi ongkos seadanya oleh sang ayahnya. Padahal saat datang, ia membawa uang sekian juta rupiah.

Pada awalnya, ada perasaan senang menghinggapi perasaan Melati saat memperoleh uang banyak dari hasil jerih payahnya menjajakan diri di belantara dunia malam kota Jakarta. Saat pulang kampung, ia pun bisa nampang dengan baju bagus dan motor gres. Ia juga bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari orang tuanya dan membayar hutang-hutang mereka.

Namun setelah sekian lama, Melati pun mulai terusik hati nuraninya. Ia melakukan pekerjaan yang sebenarnya tak ia harapkan. Di dunia kerjanya yang baru itu, ia harus membiasakan diri untuk menenggak minuman keras dan mengisap rokok. Kedua hal yang selama ini tidak biasa ia lakukan. Di samping itu, ia pun harus melayani sekian orang lelaki dalam satu malam. Tak ayal, ia pun merasakan keletihan lahir dan batin.

Di sisi lain, Melati masih istri sah dari Kartiman. Ia juga tersadar, uang panas yang ia hasilkan tidak membuatnya betul-betul bahagia. Apalagi saat ayahnya marah-marah jika ia tidak membawa uang yang sesuai dengan keinginan sang ayah. Padahal sebenarnya ia masih mencintai suaminya, dan ingin hidup tenteram dengan sang suami andai saja ia tidak direcoki oleh kedua orang tuanya yang rakus. Ia sebenarnya mau menerima hidup menjadi istri seorang montir meski penghasilannya kecil, namun ketamakan orang tuanya membuatnya menjadi terpisah dari sang suami.

Kini, Melati mendekati kembali suaminya yang sudah patah arang. Ia ingin meminta kembali pertolongan Kartiman untuk melepaskan diri dari cengkeraman orang tuanya dan pergi jauh ke luar kampung. Jauh dari jangkauan orang tuanya. Ia tunjukkan buku tabungannya kepada Kartiman. Saldo terakhir masih tersisa 15 juta rupiah. Bagi Melati, uang sebesar sudah cukup untuk membiayai pelarian mereka dari jangkauan orang tua Melati. Sayang sekali, Kartiman sudah tidak mau lagi menolong Melati untuk kedua kalinya. Ia tak mau menerima kenyataan Melati sudah terjun ke dunia prostitusi dan melayani sekian orang lelaki.

Memang ada rasa iba terbersit di hati Kartiman. Namun sayang, nasi telah jadi bubur. Ia kini sudah memiliki seorang kekasih. Ia juga hanya menunggu ketok palu dari hakim di pengadilan agama untuk keputusan perceraiannya dengan Melati. Di sisi lain, Melati pun sudah didekati oleh lelaki lain yang bersedia menarik dirinya dari lembah hitam dunia prostitusi dan membayar uang tebusan sekian juta rupiah kepada sang germo. Tak lupa, lelaki itu juga berjanji akan menikahi Melati jika sudah resmi bercerai dengan Kartiman.

5 Tanggapan

  1. Kehidupan begitu pelik, menampilkan pilihan yang susah dan sangat susah. tapi ingatlah ada 1 jalan terang yang akan membawa kepada Cahaya.

  2. Fuh berat juga apa yang dialami melati ya? Tapi ia mendapatkan satu hal yang berharga “hidayah” yang membuatnya keluar dari dunia yang gelap

  3. waduh

    jangan sampai terulang lah

    Homepage

  4. Kasian banget
    Berbagi Video dan foto aura kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: