Catatan Perjalanan Haji


Kerinduan

Bagi sebagian orang, haji merupakan perjalanan untuk menumpahkan kerinduan yang selama ini terpendam di lubuk hati. Kerinduan untuk bersimpuh di depan Rumah Allah. Kerinduan untuk berziarah di pusara Kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Ya, kerinduan yang tak terperi. Tak ayal, ketika kesempatan untuk berangkat haji itu tiba, mereka pun penuh suka cita. Tak terlintas dalam bayangan mereka betapa susah dan melelahkan perjalanan panjang dari Tanah Air menuju Tanah Suci Mekkah.

Orang-orang yang rindu tersebut merupakan orang-orang yang dipanggil oleh Allah untuk memenuhi undangan-Nya guna mengunjungi Rumah-Nya. Padahal mereka juga menyadari, tak sedikit biaya yang harus ia keluarkan untuk memenuhi panggilan Ilahi Rabbi ke rumah-Nya itu. Mereka tak memperdulikan kondisi mereka yang secara ekonomi tidak mampu untuk membiayai perjalanan haji. Namun mereka memiliki keyakinan dan kerinduan yang kuat bahwa mereka kelak bisa menuntaskan kerinduan mereka untuk bertandang ke Tanah Suci.

Keyakinan dan kerinduan itu akhirnya kelak membuat Allah menggerakkan Tangan-Nya untuk menyediakan biaya perjalanan haji bagi mereka yang telah bertahun-tahun memendam kerinduan. Banyak cara dan jalan yang tak terduga yang disediakan oleh Allah untuk mereka sehingga mereka menjadi mampu untuk menunaikan ibadah haji. Tak heran jika kita sering mendengar sebagian orang yang tiba-tiba memperoleh ongkos haji, padahal secara lahiriah ia tidak memiliki kemampuan untuk berangkat haji.

 

Undangan

Berangkat haji berarti memenuhi undangan Sang Tuan Rumah, Allah, Si Pemilik Baitullah. Sebagai tamu undangan, seorang yang berhaji semestinya bersikap layaknya seorang tamu yang baik. Hal itu karena ia berada dalam rangkaian panjang jamuan yang dihidangkan oleh Allah. Tak sepantasnya, terlontar perkataan tak senonoh, terlibat pertikaian yang memalukan, dan terjerumus dalam perbuatan maksiat.

Mari kita analogikan dengan jamuan terhormat yang diselenggarakan seorang kepala negara untuk menyambut seorang tamu agung, presiden atau raja dari negara sahabat. Tak mungkin, sang tamu bertindak yang tak senonoh, karena hal itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri dan si tuan rumah. Begitu pula, sang tuan rumah tak mungkin memperlakukan sang tamu dengan tidak sepantasnya, karena hal itu hanya akan merusak kehormatan si tuan rumah dan hubungan baik antar negara.

Allah adalah Tuan Rumah Terbaik. Dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, Ia tentu akan menjamu para tamu-Nya, orang-orang yang berhaji, dengan jamuan terbaik. Namun, ukuran terbaik jamuan Allah tentu berbeda dengan ukuran manusia. Jamuan Allah melampaui ukuran-ukuran manusia yang bersifat material dan biologis. Jamuan Allah bisa berbentuk spiritual dan psikologis ketika para tamu-Nya dihidangkan dengan sepiring ujian kesabaran, segelas ujian kepasrahan, setampan ujian persaudaraan, dengan bumbu pedas dari ujian toleransi.

Pandangan lahiriah manusia sering tak mampu menembus makna jamuan terbaik yang diberikan oleh Allah kepada para tamu-Nya, orang-orang yang berhaji. Ketika terjadi hal-hal yang menuntut kesabaran, kepasrahan, toleransi, dan saling tolong-menolong, yang terlontar justeru ucapan caci-maki dan sumpah serapah. Padahal justeru di situlah, makna hakiki dari jamuan terbaik Allah. Ia sedang menghidangkan makanan rohani agar kita menjadi lebih sabar, tawakkal, toleran, dan berjiwa sosial.

Seorang berhaji yang menyantap hidangan demi hidangan yang disuguhkan Allah dengan penuh keimanan, maka tak ayal ia pun akan menjadi pribadi yang terbarukan. Hidangan-hidangan tersebut membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih sabar, santun, tawakkal, berjiwa sosial tinggi, dan merasa lebih akrab dengan Sang Tuan Rumah, Allah SWT.

 

Hidangan Kesabaran

Kesabaran yang tulus menjadi sesuatu yang indah seperti yang dialami oleh Nabi Syuaib saat kehilangan puteranya, Nabi Yusuf. Ujian kesabaran itu pula yang dihidangkan oleh Allah saat menjamu para tamu-Nya, jamaah haji. Hidangan ujian kesabaran terjadi saat jamaah haji berdesak-desakan dalam menjalani thawaf, sai, melontar jumrah, antri makanan, dan antri di toilet.

Nikmatnya hidangan tersebut tentu tak akan dirasakan oleh lidah, tapi oleh hati yang dipenuhi oleh citarasa keimanan. Hidangan tersebut penuh dengan gizi dan vitamin rohaniah, yang akan membuat seseorang semakin memiliki stamina kesabaran yang tinggi.

Tapi, jika hati tak dipenuhi dengan citarasa keimanan, maka hidangan-hidangan itu benar-benar akan menjadi sangat tidak lezat dan menyiksa diri. Orang seperti itu tak akan meraih haji yang mabrur. Perjalanan haji yang ia lakukan tak ubahnya perjalanan wisata belaka yang menguras fisiknya dan pundi-pundi uangnya, namun tak membekas di hati sanubarinya.

 

Hidangan Kesopanan

Sudah sepantasnya tamu bersikap sopan saat berada dalam jamuan yang diadakan oleh tuan rumah. Seperti itu pula yang semestinya dilakukan oleh orang yang berhaji. Tuntutan untuk bersikap dan bertutur kata sopan saat berhaji memang bukan sesuatu yang mudah. Dalam keadaan lelah, haus, lapar, atau terhimpit dalam antrian, orang pun mudah terbakar emosi dan melontarkan ucapan kasar.

Pada kondisi itulah, Allah sedang menghidangkan ujian kepada orang yang berhaji untuk tetap bersikap dan bertutur kata sopan. Jika kondisinya normal, tentu hal itu bukanlah ujian. Dikatakan ujian, karena memang ada kesulitan yang harus dihadapi.

Saat wukuf dan menggunakan pakaian ihram, Allah juga sedang mengajarkan bagaimana orang untuk bersikap sopan. Pakaian ihram bagi laki-laki terdiri dari dua helai kain putih yang tak berjahit. Tak boleh ada pakaian dalam. Dengan busana amat sederhana itu, orang sangat mudah menjadikannya sebagai bahan olok-olok yang tidak senonoh. Apalagi jika kurang hati-hati, aurat laki-laki akan mudah tersingkap.

Di saat thawaf, sa’i, dan melontar jumrah, berjuta orang, lelaki dan perempuan, dari segala penjuru dunia, bercampur baur dan berdesak-desakan. Hal itu membuat peluang untuk melakukan tindakan tidak senonoh terbuka lebar. Saat itulah, orang berhaji diuji oleh Allah untuk tetap bersikap sopan dan santun seraya tetap menjaga hati dan pikiran agar tetap khusyuk dalam ibadah.

 

Hidangan Kepasrahan

Berhaji berarti belajar secara langsung tentang makna kepasrahan kepada Allah, Pemilik jagat raya ini. Semuanya berada dalam kekuasaan-Nya. Perjalanan yang jauh dan melelahkan bagi orang yang berhaji akan terasa dekat dan membahagiakan jika diiringi dengan kepasrahan kepada Allah. Saat memutuskan untuk berangkat haji, maka anak, istri, suami, dan sanak saudara, semuanya dititipkan kepada Allah. Tentu saja setelah secara syar’i, kita tetap meninggalkan bekal untuk kehidupan mereka di Tanah Air. Begitu pula semua urusan pekerjaan dan jabatan. Semuanya dipasrahkan kepada Allah Yang Maha Kaya.

Jika tak ada kepasrahan kepada Allah, maka ikatan-ikatan duniawi akan terus menggelayuti jiwa orang yang berhaji sehingga akan menimbulkan kegelisahan sepanjang perjalanan hajinya. Pada tingkatan ekstremnya, bahkan ada yang sampai stres dan gila saat seorang berangkat haji dan harus meninggalkan banyak hal: anak, harta benda, pekerjaan, jabatan, dan lain-lain. Alih-alih menjadi haji mabrur, ia bahkan harus dipulangkan ke Tanah Air sebelum selesai semua rukun dan kewajiban haji.

 

Hidangan Kepedulian Sosial

Haji merupakan semacam muktamar umat Islam sedunia. Selain haji, tak ada kegiatan manusia di muka bumi ini yang bisa mengumpulkan jutaan orang pada satu waktu dan tempat. Karena banyaknya orang Muslim yang datang dari seluruh penjuru dunia, tak pelak beragam manusia dari bermacam latar belakang pun saling bertemu. Di saat itulah, orang yang berhaji akan menemukan banyak saudara-saudara yang seiman dari berbagai penjuru muka bumi. Tak semua mereka berada dalam kondisi yang menguntungkan. Entah karena faktor fisik, kesehatan, usia, ekonomi, politik, dan lain-lain.

Orang-orang Indonesia yang rata-rata fisiknya kecil tentu akan merasa kesulitan bersaing dengan orang-orang dari Afrika yang rata-rata bertubuh tinggi besar. Saat melaksanakan ibadah seperti thawaf, kepeduliaan sosial menjadi sesuatu yang diajarkan oleh Allah dengan sangat nyata. Bagaimana kita harus harus menolong orang yang terjepit di antara desakan banyak orang. Bagaimana kita harus menolong orang tergeletak di jalan karena kelelahan dan kehausan. Bagaimana kita harus mendahulukan antrian bagi orang yang sakit dan orang lanjut usia.

Bagi mereka yang benar-benar menghikmati haji, maka sepulangnya ia ke Tanah Air, ia pun benar-benar menjadi bersikap lebih sosial dan humanis. Bukan justru menjadi seorang yang dengan bangganya dengan titel haji namun sikapnya tetap kikir dan tak peduli dengan lingkungan sosialnya. Sungguh ironis jika mendengar berita ada oknum haji yang pelit jika dimintai sumbangan sosial. Orang seperti itu berarti hidangan Allah saat di Tanah Suci tidak benar-benar disantapnya dengan baik.

 

Hidangan Keakraban

Orang yang berangkat haji adalah juga tamu yang diundang oleh Allah untuk mencicipi hidangan keakraban bersama-Nya. Di rumah-Nya nan agung, seorang hamba bisa merasakan betapa dekatnya dirinya dengan Allah, Sang Pemilik Hidup. Banyak kesempatan yang dihidangkan oleh Allah agar seorang hamba bisa mengakrabkan dirinya dengan Allah, misalnya pada saat thawaf di Ka’bah, wuquf di Arafah, shalat malam di Masjidil Haram, atau saat berziarah di makam kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW. Dalam kesempatan-kesempatan itulah, seorang hamba yang benar-benar khusyuk beribadah akan merasakan betapa dekat dirinya dengan Allah.

Namun manusia memang berbeda-beda tingkat keimanan dan keyakinannya. Tak semua orang yang berhaji akan merasakan aura keakraban itu. Semua ritual yang ia jalani tak lebih dari sebuah seremoni yang dijalani secara fisik saja, tanpa diiringi oleh gerakan jiwa yang sebenarnya justru jauh lebih penting.

Pada akhirnya, orang yang berhaji tak semua bisa ‘menikmati’ hidangan Allah. Sepulang haji, tak semua orang lantas berubah kepribadiannya menjadi lebih baik. Tak semua lantas pantas menyandang predikat haji yang mabrur. Perjalanan haji memang laksana lukisan abstrak yang tak semua orang mampu melihat makna keindahannya. Hanya orang-orang yang mata hatinya dibasuh dengan air keimanan yang mampu melihat keindahan perjalanan haji.

9 Tanggapan

  1. Maaf bah aku baru mampir lagi hehehee…… ijin nyimak dulu Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia

  2. nice post 🙂

    di tunggu postingan selanjutnya
    salam kenal ya

  3. saya taya ni.ada brp menara dimasjidil harom.dan nama nama dari satu persatu.hamba yanp doib

  4. Kangen banget nih sama baitullah… mudah mudahan segera bisa berangkat ke sana aamiin

  5. Semoga kita bisa berangkat hajii yaa… memenuhi Panggilan Allah, semoga amiin

  6. ku tunggu postingan selanjutnya, he

  7. dan semuanya diharapkan kita bisa pulang dengan mendapatkan ridho untuk menjadi haji mabrur ,, dimana ibadah kita disana berharap dapat diterima oleh sang pemilik hati ini,

  8. […] Catatan Perjalanan Haji […]

  9. semoga bisa kesana ya allah , aminnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: