Catatan Perjalanan Haji

Kerinduan

Bagi sebagian orang, haji merupakan perjalanan untuk menumpahkan kerinduan yang selama ini terpendam di lubuk hati. Kerinduan untuk bersimpuh di depan Rumah Allah. Kerinduan untuk berziarah di pusara Kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Ya, kerinduan yang tak terperi. Tak ayal, ketika kesempatan untuk berangkat haji itu tiba, mereka pun penuh suka cita. Tak terlintas dalam bayangan mereka betapa susah dan melelahkan perjalanan panjang dari Tanah Air menuju Tanah Suci Mekkah.

Orang-orang yang rindu tersebut merupakan orang-orang yang dipanggil oleh Allah untuk memenuhi undangan-Nya guna mengunjungi Rumah-Nya. Padahal mereka juga menyadari, tak sedikit biaya yang harus ia keluarkan untuk memenuhi panggilan Ilahi Rabbi ke rumah-Nya itu. Mereka tak memperdulikan kondisi mereka yang secara ekonomi tidak mampu untuk membiayai perjalanan haji. Namun mereka memiliki keyakinan dan kerinduan yang kuat bahwa mereka kelak bisa menuntaskan kerinduan mereka untuk bertandang ke Tanah Suci.

Keyakinan dan kerinduan itu akhirnya kelak membuat Allah menggerakkan Tangan-Nya untuk menyediakan biaya perjalanan haji bagi mereka yang telah bertahun-tahun memendam kerinduan. Banyak cara dan jalan yang tak terduga yang disediakan oleh Allah untuk mereka sehingga mereka menjadi mampu untuk menunaikan ibadah haji. Tak heran jika kita sering mendengar sebagian orang yang tiba-tiba memperoleh ongkos haji, padahal secara lahiriah ia tidak memiliki kemampuan untuk berangkat haji. Baca lebih lanjut

Dan Setan Pun Enggan Disalahkan

Pada dasarnya manusia memang diciptakan oleh Tuhan dengan fitrah mencintai kebenaran dan membenci kejahatan. Karena itulah, saat manusia terpojok dan terancam mendapatkan hukuman karena kejahatan yang ia lakukan, ia bisa dengan mudahnya menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam. Dengan demikian, manusia berharap ia tetap dianggap sebagai orang yang baik.

Al-Quran (QS. Ibrahim: 21-22) memberikan ilustrasi yang begitu indah tentang tingkah polah manusia seperti itu saat di alam akhirat. Ketika manusia memasuki alam akhirat, mereka pun dikumpulkan untuk diadili oleh Tuhan Yang Maha Adil. Semua bukti-bukti perbuatan manusia saat di dunia dibeberkan. Baik dan buruk, semuanya dibeberkan dengan transparan. Tak ada bukti yang disembunyikan dan tak ada yang terlewatkan. Baca lebih lanjut

Saat Jilbab hanya Akting

Bagi sebagian orang, jilbab adalah simbol kehormatan dan kesucian. Ia menjadi simbol ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta yang memerintahkannya untuk berjilbab. Jilbab menjadi perisai dirinya dari godaan untuk berbuat sesuatu yang bisa mencederai kehormatan dan kesuciannya. Karena itulah, jilbab tak hanya sekedar busana penutup bagian badan yang tak boleh diekspos untuk publik.

Namun bagi sebagian orang, jilbab tak lebih dari sekedar akting. Saat sinetron dan film sedang naik daun dengan tema keagamaan, para produser paling sekuler sekalipun ikut latah memproduksi sinetron atau film yang menampilkan perempuan-perempuan berjilbab. Perempuan-perempuan itu merupakan artis yang sedang berakting dengan jilbab. Di luar sinetron dan film, mereka tak lebih dari sekedar artis yang dengan entengnya berpenampilan seksi yang mengumbar aurat. Baca lebih lanjut

Keajaiban Sedekah

Suatu hari seorang kerabat dari Yogya datang ke rumahku. Dalam sebuah obrolan santai, ia bertutur tentang tetangganya yang begitu menggandrungi Ustadz Yusuf Mansur. Bukan untuk bergunjing atau menggosip saat sang kerabat itu bercerita. Namun ia bercerita tentang hikmah yang bisa dipetik dari sebuah pilihan hidup yang diambil oleh seorang anak manusia. Tentang kekuatan sedekah (the power of giving) yang sering didengungkan oleh Ustaz Yusuf Mansur.

Sang tetangga itu sebut saja namanya Syamsul. Ia memiliki usaha penjualan tabung gas Elpiji. Suatu hari ia bercerita, anak perempuannya yang pernah terserang panas.

“Berapa biasanya biaya berobat ke dokter? Untuk mengobati penyakit panas seperti yang pernah diderita anakku?” tanya Syamsul kepada kerabatku.

“Ya, mungkin sekitar 200 ribu deh,” jawab kerabatku. Baca lebih lanjut

Tattoo

Tattoo memang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Orang-orang Mentawai di Sumatera dan suku Dayak di Kalimantan juga terbiasa membuat tattoo di tubuh mereka. Namun hal itu bukanlah menjadi ukuran dan sumber hukum bagi seseorang yang sudah memiliki ajaran agama yang dipercayainya. Saat agamanya melarang untuk membuat tattoo dan ia mempercayai larangan itu demi kebaikannya sendiri, maka tak perlu lagi gamang untuk menaatinya.

Agama sangat menghargai tubuh manusia. Tindakan yang menyakiti dan merusak tubuh sangat dilarang, kecuali dalam kondisi tertentu seperti untuk pengobatan. Tubuh manusia merupakan ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dipelihara. Tubuh manusia sudah indah tanpa harus diberi tatto. Di sisi lain, manusia memang merupakan ciptaan Tuhan yang terbaik di antara ciptaan-ciptaaan-Nya yang lain. Baca lebih lanjut

Hikayat Si Pandai Besi dan Si Tetangga Cantik

Dalam kitab Syarh ‘Uquudil Lijain fi Huquuq az-Zawjain karya Syaikh Nawawi Banten, diungkapkan suatu cerita tentang keteguhan wanita dalam menjaga kehormatan dirinya. Alkisah, ada seorang lelaki pandai besi yang kebal api. Dia sering memasukkan tangan ke dalam api yang menyala-nyala. Suatu saat, ia dikunjungi seorang lelaki yang penasaran dengan keistimewaan dirinya tersebut. Sang tamu pun menyaksikan dengan mata kepalanya sendirinya keistimewaan sang pandai besi.

Sang tamu tergelitik untuk mengetahui, apa yang dilakukan sang pandai besi sehingga memiliki keistimewaan kebal api tersebut. Seusai sang pandai menyelesaikan pekerjaannya, sang tamu pun mengucapkan salam seraya berkata, “Aku ingin menjadi tamumu malam ini.” Baca lebih lanjut

IBSN: Takut Kehilangan

IBSN adalah sebuah wadah insan Indonesia dalam jaringan internet dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesian’s Beautiful Sharing Network http://ibsn.web.id

Apa yang Anda bayangkan jika melihat seorang anak manusia tergelatak lemah di ruang ICU dalam keadaan koma? Mata tertutup rapat. Tak ada senyum. Tak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Seluruh badannya penuh dengan selang dan perban. Sungguh tipis perbedaan antara berharap dan berputus asa. Bayangan ajal seolah menari-nari di pelupuk mata setiap orang yang menengoknya. Harapan untuk hidup seolah hanya seujung kuku. Berbagai perasaan yang saling bertentangan berkecamuk di dalam lubuk hati. Antara mengharapkan kesembuhan dan mengikhlaskan kepergiannya menemui Sang Khalik karena tidak tega melihatnya menderita. Baca lebih lanjut