Di Ujung Batas

Sang pawana berhembus kencang di balik jendela sedan itu. Jalan menanjak dan berliku. Pepohonan jati berdiri kokoh di kedua sisi jalan. Yusuf masih duduk di belakang setir Vios yang terus melaju.

“Masih jauh, Mas?” tanya Ria yang duduk di samping Yusuf. Tangannya parkir di paha lelaki itu.

“Sebentar lagi, Sayang,” sahut Yusuf sambil menoleh sejenak ke arah Ria. “Kamu cantik sekali hari ini.”

“Gombal!” Ria mencubit pelan paha Yusuf.

“Aduh,” seru Yusuf dengan menggerakkan pahanya. Dari balik kaca spion, ia melihat jelas wajah Ria yang putih mulus. Alis matanya dicukur lancip. Bibirnya dipoles lipstik merah tebal. Blouse-nya yang ketat kian memperjelas lekuk tubuhnya. Dengan penampilan Ria seperti itu, tak aneh jika banyak lelaki di kantor Yusuf berlomba merebut hati karyawan honorer tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan

Biarkan Aku Menghindar…

Juwita, bilur-bilur sepi memang sedang menyelusup di relung hatiku. Meski hanya untuk sementara, kesendirian ini memang sempat membuatku tertawan dalam jeruji sunyi. Tapi, bukan berarti kumiliki sejumput keberanian untuk menyulih kesepianku dengan tindakan nista. Jujur kuungkapkan, aku tersanjung dengan tawaran cintamu padaku. Namun dengan jujur pula kukatakan, aku tak kuasa membelah cintaku untuk perempuan lain selain ibu dari kedua anakku.

Juwita, ia memang tidak sepintar dirimu dalam bersolek. Tubuhnya memang tak seindah tubuhmu. Ia memang tidak pandai menyunggingkan senyum yang menggoda. Tapi, cintanya padaku sudah diuji oleh sang waktu. Dibasuh oleh genangan darah dan isak air mata. Pahit getir hidup telah kukecap bersama dengannya. Sungguh, aku adalah lelaki tak tahu di untung tatkala mulai memetik buah manis hidup, aku justru menikmatinya bersama perempuan lain. Baca lebih lanjut

Adam Gugat

israel_palestine

Tempat ini sungguh asing sekali baginya. Orang-orang berpakaian militer sibuk lalu-lalang membawa senjata. Wajah-wajah mereka tanpa senyum dengan sorot mata tajam. Peluru-peluru mendesing mencari mangsa. Panser-panser bergemuruh melintasi jalan-jalan yang riuh. Bom-bom berdentuman menghancurkan setiap bangunan yang ada.

Para pengungsi bergerombol di pinggir-pinggir jalan. Kesedihan dan keletihan membatu di wajah-wajah kuyu itu. Tatapan bengis sang maut membayang di sorot mata mereka. Bagai setan yang setiap saat siap menancapkan taring-taring tajam di leher mereka.

Kota apa ini? Apa ini Dunia yang dikatakan Papa? gumamnya sendiri. Sungguh mengerikan. Duh, mengapa Gabriel langsung pulang ke Firdaus dan tak mau menemaniku? Adam kian dalam ditikam belati kebingungan dan ketakutan. Tak tahu apa yang harus ia perbuat. Sementara ancaman kematian kian menyudutkannya ke tepi jurang waktu. Baca lebih lanjut

Maaf, Aku Tak Mampu Mendua

Derasnya air hujan masih bertingkah menghiasi malam yang gulita di luar jendela. Sesekali terdengar deru kendaraan bermotor yang nyaris lenyap ditelan gemuruh hujan. Mataku masih terpaku pada sebuah untaian kalimat dalam pesan pendek di layar ponselku. Ombak bergulung-gulung mengombang-ambingkan biduk hatiku.

Mestinya aku bahagia jika ada orang yang mengasihiku. Tapi, kini palung jiwaku disesaki berlimbak galau yang tak terperi. Mestinya, ini tak perlu terjadi. Betapapun, telah ada orang lain yang selama ini begitu sabar dan setia menemani hari-hariku yang tak selalu indah. Ya, orang yang selama ini merawat dan mendidik kedua buah hatiku dengan penuh kasih sayang. Baca lebih lanjut

Obrolan Iseng di Suatu Siang

“Aku mari cari istri lagi, nih,” ujar Jamal dengan tegas seraya memperbaiki dasinya. Padahal ruangan itu tentu tidak sepanas di luar, karena ada AC yang senantiasa mengirimkan kesejukan.

“Yang bener aja, Mal? Emang kenapa istri kamu? Segitu cantiknya kok masih pengen cari istri lagi,” jawab Hendra, teman kuliah Jamal yang jauh-jauh datang ke Jakarta dari Yogya. Sejak pernikahan Jamal dengan Yulfi, mereka berdua memang tak pernah bersua hingga hari ini.

“Bukannya kurang cantik. Cantik sekali malah.”

“Trus, kenapa, kok, mau cari istri lagi?”

“Aku mau berbagi kebahagiaan. Aku mau menolong orang lain.” Mimik Jamal tampak serius. Tak ada kesan ia sedang bergurau.

“Oalah, Mal, Mal! Yang bener aja? Nggak usah sok pahlawan gitu deh.” Hendra mengumbar senyum menahan tawa.

“Lho? Ini serius, Mal! Aku sudah minta izin sama istriku, Yulfi. Dan dia ngasih izin.”

“Bohong! Ngaco! Mana ada perempuan yang mau dipoligami!”

“Kalo nggak percaya, tanya aja sendiri sama Yulfi.” 

“Awas! Ntar kutanyain bener, lho!”

“Silakan aja. Monggo mawon.”

Pembicaraan itu terhenti saat terdengar azan zuhur dari menara mesjid di seberang rumah Jamal. Kedua sahabat itu bersepakat untuk pergi ke masjid guna mengikuti shalat jamaah. Baca lebih lanjut

Surat dari Michigan

gambar-cerpenkuPikiranku ragu

tentang ada dan tiadaku

Namun cinta mengumumkan

aku ada

— Iqbal

 

R

ose, malam ini deru hujan salju masih saja terdengar lamat-lamat. Rinai snowfall laksana konser alam yang dipandu oleh seorang dirigen maha piawai.   Begitu ritmis dan padu. Saat ini, aku hanya ingin merenungi kembali  tapak-tapak sejarah yang kutanggalkan, Rose. Ya, hanya merenungi dan menelusuri maknanya. Bukan untuk menumpuk romantisme picik dan berkubang di dalamnya.

Baca lebih lanjut

Bimbang

Aku tersaput bimbang dalam sumbang
kala tegang cari pegang
Jangan Kau lari dari pelukku
Biarkan aku menuntaskan rinduku
sebelum membeku dalam asing-Mu

Aku meradang dibakar matahari
Debu beterbangan menebarkan semu
Dunia semakin tertatih
meniti di lorong-lorong cahaya

Temani aku meraup suka dalam ridha-Mu
menepis lara dan menerjang kelam
dalam siraman cahaya kasih-Mu
Jangan biarku aku dipasung bisu dalam sepi

Yogyakarta, 1993