Kisah Cinta Maman dan Mimin (Uniknya Nama Daerah di Indonesia)

Kantor Desa Cawet

Sebagai seorang lelaki PERWIRA, MAMAN bertekad melakukan KELILING BENTENG Indonesia. Ia telah menyinggahi lebih dari LIMA PULUH KOTA dan banyak pulau, bahkan hingga KEPULAUAN SERIBU. Ia disambut oleh para penguasa setempat, termasuk RAJA AMPAT. Saat ia melewati HUTANAMORA, ia nyaris diseruduk oleh seekor BADAK dan diterkam oleh seekor SINGARAJA. Untung ia bisa SELAMAT dengan bersembunyi di BALIKPAPAN. Padahal sebelumnya, ia sudah tahu ada tulisan DANGER, namun ia tetap nekat melewati UTAN, hingga nyaris dililit oleh seekor ular PITON alias SANCA yang BESAR dan PANJANG.

Dalam petualangannya, MAMAN bertemu seorang DUKUN yang SAKTI JAYA bernama TEMON. Sang DUKUN memberitahukannya bahwa ada lokasi tempat penyimpanan PUSAKARATU dari sebuah KERATON kuno. Benda pusaka itu berhasil diambil oleh MAMAN dan disimpan di museum sebagai PUSAKANEGARA. Selama melewati RIMBA JAYA di TENGAH GELAP malam, MAMAN juga sempat dikejar oleh POCONG dan SILUMAN yang SERAM berbentuk MACANPUTIH. Untung saja, ia SELAMAT dan menginap di sebuah PESANTREN. Saat tidur di sana, ia bermimpi dikejar oleh KUNTI dan SETAN hingga terkencing di celana. Keesokan harinya, ia kembali berkelana dan berhenti di sebuah KALIMATI. Ternyata kali itu mengandung AIR BUAYA. Hampir saja ada ia di-SERANG oleh seekor buaya dan terjatuh di LUBANG BUAYA.

Baca lebih lanjut

Iklan

Font Jawa Mbata Sarimbag

Setelah sekian lama menghilang dari rimba persilatan blogging, akhirnya saya kembali lagi usai menyelesaikan tapa brata di kawah Candradimuka. Tak lain dan tak bukan, hal itu terjadi karena saya sedang terfokus dalam menyelesaikan editing buku Pelajaran Bahasa Jawa Indramayu untuk SMP/MTs. Dalam proses editing pula, akhirnya saya juga tertantang untuk membuat font aksara Jawa yang masih jarang digarap orang. Pembuatan font itu sendiri menggunakan aplikasi Font Creator dan Corel Draw.

Saya memilih aksara Jawa (Hanacaraka) dengan gaya Mbata Sarimbag (bata bertumpuk). Hal ini karena gaya tersebut belum ada yang menggarapnya untuk dijadikan font Hanacaraka. Di samping itu, gaya Mbata Sarimbag relatif lebih mudah daripada gaya Ngetumbar (ketumbar) dan Mucuk Eri (pucuk duri) yang banyak garis lengkungnya. Baca lebih lanjut

Tips Mengobati Gigitan Ular

Surjana, Pawang Ular

Di suatu pagi Minggu, aku mendapat tugas untuk mencatat pernikahan di sebuah desa terpencil di pinggir hutan, dekat perbatasan dengan kabupaten tetangga. Jarak dari rumahku dengan desa itu tentu lumayan jauh, sekitar 25 km. Dengan melewati jalan lengang yang diapit oleh deretan kayu jati, aku berangkat mengendarai motor ditemani seorang saudara.

Seusai melaksanakan tugas, aku mengunjungi seorang kerabat yang sudah lama tak bersua. Dengan bertanya sana-sini, akhirnya kami menemukan juga rumahnya yang sangat sederhana. Kami pun terlibat obrolan hangat. Tak sengaja, sang kerabat itu keceplosan mengatakan bahwa ia juga menekuni profesi sebagai pawang ular. Kami tentu saja kaget, karena selama ini ia tak pernah bercerita kalau juga menekuni profesi pawang ular. Selama ini, kami mengetahuinya hanya sebagai petani dan pencari kayu di hutan. Tak ayal, kami langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan terkait profesinya yang langka itu. Dari obrolan hangat itulah, akhirnya ia membuka rahasia mengobati gigitan ular. Berikut ini tips yang diberikan oleh sang pawang ular yang bernama Surjana itu. Baca lebih lanjut