Orang Gila

Orang GilaSiang di sebuah persimpangan jalan tengah kota. Aku menghentikan kendaraan karena lampu merah menyala. Deretan mobil dan motor mengular di jalanan yang bising. Kendaraanku terjebak di tengah antrean yang panjang. Sembari menanti lampu hijau menyala, kupendarkan pandangan ke arah pinggir jalan. Kulihat seorang lelaki tua duduk di sudut jalan di bawah pohon nan rindang.  Pakaiannya kumal dan compang-camping. Bahkan celananya sobek. Persis di areal sensitif. Tak ayal, auratnya pun melambai-lambai ke setiap orang. Jelas si lelaki itu orang yang kurang waras.

Seribu tanya berkecamuk di kepalaku. Sosok lelaki itu begitu menohok ulu hatiku. Mengapa orang seperti itu bisa berkeliaran di jalanan? Menyuguhkan pemandangan yang amat kontras dengan bangunan-bangunan megah di tengah kota. Mengapa petugas sosial atau Satpol PP tidak mengamankan orang seperti itu? Sudah tidak adakah kepedulian di tengah ramainya kota ini?  Baca lebih lanjut

Kisah Cinta Maman dan Mimin (Uniknya Nama Daerah di Indonesia)

Kantor Desa Cawet

Sebagai seorang lelaki PERWIRA, MAMAN bertekad melakukan KELILING BENTENG Indonesia. Ia telah menyinggahi lebih dari LIMA PULUH KOTA dan banyak pulau, bahkan hingga KEPULAUAN SERIBU. Ia disambut oleh para penguasa setempat, termasuk RAJA AMPAT. Saat ia melewati HUTANAMORA, ia nyaris diseruduk oleh seekor BADAK dan diterkam oleh seekor SINGARAJA. Untung ia bisa SELAMAT dengan bersembunyi di BALIKPAPAN. Padahal sebelumnya, ia sudah tahu ada tulisan DANGER, namun ia tetap nekat melewati UTAN, hingga nyaris dililit oleh seekor ular PITON alias SANCA yang BESAR dan PANJANG.

Dalam petualangannya, MAMAN bertemu seorang DUKUN yang SAKTI JAYA bernama TEMON. Sang DUKUN memberitahukannya bahwa ada lokasi tempat penyimpanan PUSAKARATU dari sebuah KERATON kuno. Benda pusaka itu berhasil diambil oleh MAMAN dan disimpan di museum sebagai PUSAKANEGARA. Selama melewati RIMBA JAYA di TENGAH GELAP malam, MAMAN juga sempat dikejar oleh POCONG dan SILUMAN yang SERAM berbentuk MACANPUTIH. Untung saja, ia SELAMAT dan menginap di sebuah PESANTREN. Saat tidur di sana, ia bermimpi dikejar oleh KUNTI dan SETAN hingga terkencing di celana. Keesokan harinya, ia kembali berkelana dan berhenti di sebuah KALIMATI. Ternyata kali itu mengandung AIR BUAYA. Hampir saja ada ia di-SERANG oleh seekor buaya dan terjatuh di LUBANG BUAYA.

Baca lebih lanjut

Pejabat

clekit-feb0210

Para raja atau ratu, sejak zaman dulu hingga sekarang, niscaya digambarkan sebagai sosok orang yang kaya. Mereka menguasai dan memiliki tanah yang menjadi wilayah kekuasaannya. Para rakyat harus membayar pajak atau sewa kepada raja atau ratu yang notabene sebagai pemilik dari tanah-tanah tersebut. Dalam hal ini, negara menjadi personifikasi sang raja atau ratu, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh raja Prancis di masa lalu, Louis XIV, “L`etat, c’set moi.” Negara adalah saya. Pemasukan keuangan negara adalah pemasukan keuangan sang raja. Uang negara adalah uang raja. Tak ayal, raja pun menjadi orang yang sangat kaya raya. Meskipun mungkin rakyatnya sendiri masih banyak terjerat dalam tali kemiskinan.

Dalam konsep negara modern, pemimpin negara bukanlah berarti pemilik negara. Harta kekayaan negara bukanlah harta kekayaan sang raja, namun harta milik seluruh rakyat yang dilindungi oleh undang-undang dasar. Kekayaan negara dipergunakan sebesar mungkin untuk kesejahteraan rakyat dan pembangunan negara. Kalaupun sang pemimpin menjadi kaya, hal itu bukan karena ia memiliki seluruh kekayaan negara, tapi karena ia digaji besar oleh negara. Baca lebih lanjut

Mudik

atu keluarga melambaikan tangan dari dalambus ketika mengikuti mudik gratis Sido Muncul di Kemayoran, JakartaMenjadi orang yang tinggal jauh dari kampung halaman, memang sesuatu yang memilukan hati. Terutama saat-saat menjelang Lebaran. Terbayang betapa besarnya ongkos yang harus digelontorkan untuk mewujudkan keinginan mudik. Rasa rindu kampung halaman yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun lamanya, semakin membuncah. Tapi apalah daya. Jarak yang jauh, terpisah oleh laut dan samudera, membuat ongkos perjalanan menjadi tidak murah.

Tinggal di perantauan memang sebuah pilihan. Hujan emas di negeri orang, masih enak hujan batu di negeri sendiri. Begitulah pepatah yang sering kita dengar. Tinggal di perantauan nun jauh dari kampung halaman, tak selalu menjanjikan kehidupan menjadi lebih baik dan pundi-pundi uang semakin tebal. Kesuksesan yang didambakan tatkala merantau ke negeri orang ternyata memerlukan proses yang panjang. Menguras keringat serta air mata. Sudah berpuluh-puluh tahun di negeri orang tidak menjadi jaminan bahwa kesuksesan itu sudah berada di genggaman dan kantong semakin tebal. Baca lebih lanjut

Pendidikan yang Abai Aspek Afektif

Beberapa waktu silam, beberapa 4 siswa sebuah SMA di Kepulauan Riau dikeluarkan dari sekolah. Hal itu terjadi karena mereka melakukan penghinaan terhadap guru mereka secara terbuka di situs jejaring sosial facebook. Selain “kenakalan” anak sekolah seperti itu, kita juga sering disuguhkan dengan berita tawuran antar anak sekolah, bahkan tawaran sesama mahasiswa. Kedua hal itu hanyalah sekelumit dari potret kenakalan remaja usia sekolah yang banyak terjadi di negeri ini.

Taksonomi Bloom

Salah satu penyebab munculnya kenakalan-kenakalan tersebut adalah belum berjalannya proses pendidikan secara sinergis dalam menggarap tiga aspek penting pendidikan, yaitu afektif, psikomotor, dan kognitif. Ketiga aspek itu dikenal dengan istilah taksonomi Bloom. Istilah tersebut diperkenalkan pada tahun 1956 oleh Benjamin S. Bloom, seorang praktisi pendidikan Amerika Serikat dalam buku berjudul The Taxonomy of Educational Objectives, The Classification of Educational Goals, Handbook I: Cognitive Domain. Dalam buku tersebut, Bloom beserta beberapa koleganya, menguraikan tentang klasifikasi obyek pembelajaran yang kelak dikenal dengan istilah taksonomi Bloom (Bloom’s Taxonomy). Baca lebih lanjut

Sepenggal Cerita Usang TKW

Antri TKW

Aku telah mengenalnya sekitar 12 tahun silam saat kami sama-sama mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten untuk cabang lomba yang berbeda. Lelaki pendiam dan sederhana itu sebut saja bernama Jamal. Dalam MTQ itu, Jamal pun menyabet juara dua. Sementara aku sendiri tak meraih juara. Wajar sekali kekalahan itu, karena aku memang tak mempersiapkan diri dengan baik. Apalagi saat itu aku baru saja satu minggu menikah. Ehmm.

Usai MTQ itu, aku masih sempat beberapa kali bertemu dengan Jamal dalam beberapa kegiatan. Namun beberapa tahun terakhir ini, aku sudah tak pernah bertemu dengan si pendiam itu. Aku sempat mendengar kabar, istrinya berangkat ke Timur Tengah untuk menjadi TKW. Aku tak habis mengerti mengapa Jamal memperbolehkan sang istri untuk nekat berangkat menjadi TKW. Padahal dengan keberadaannya sebagai seorang ustaz, tentu ia mengerti bahwa perempuan dilarang untuk bepergian jauh dalam jangka waktu lama tanpa ditemani anggota keluarga. Baca lebih lanjut

Saat Jilbab hanya Akting

Bagi sebagian orang, jilbab adalah simbol kehormatan dan kesucian. Ia menjadi simbol ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta yang memerintahkannya untuk berjilbab. Jilbab menjadi perisai dirinya dari godaan untuk berbuat sesuatu yang bisa mencederai kehormatan dan kesuciannya. Karena itulah, jilbab tak hanya sekedar busana penutup bagian badan yang tak boleh diekspos untuk publik.

Namun bagi sebagian orang, jilbab tak lebih dari sekedar akting. Saat sinetron dan film sedang naik daun dengan tema keagamaan, para produser paling sekuler sekalipun ikut latah memproduksi sinetron atau film yang menampilkan perempuan-perempuan berjilbab. Perempuan-perempuan itu merupakan artis yang sedang berakting dengan jilbab. Di luar sinetron dan film, mereka tak lebih dari sekedar artis yang dengan entengnya berpenampilan seksi yang mengumbar aurat. Baca lebih lanjut