Catatan Perjalanan Haji

Kerinduan

Bagi sebagian orang, haji merupakan perjalanan untuk menumpahkan kerinduan yang selama ini terpendam di lubuk hati. Kerinduan untuk bersimpuh di depan Rumah Allah. Kerinduan untuk berziarah di pusara Kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Ya, kerinduan yang tak terperi. Tak ayal, ketika kesempatan untuk berangkat haji itu tiba, mereka pun penuh suka cita. Tak terlintas dalam bayangan mereka betapa susah dan melelahkan perjalanan panjang dari Tanah Air menuju Tanah Suci Mekkah.

Orang-orang yang rindu tersebut merupakan orang-orang yang dipanggil oleh Allah untuk memenuhi undangan-Nya guna mengunjungi Rumah-Nya. Padahal mereka juga menyadari, tak sedikit biaya yang harus ia keluarkan untuk memenuhi panggilan Ilahi Rabbi ke rumah-Nya itu. Mereka tak memperdulikan kondisi mereka yang secara ekonomi tidak mampu untuk membiayai perjalanan haji. Namun mereka memiliki keyakinan dan kerinduan yang kuat bahwa mereka kelak bisa menuntaskan kerinduan mereka untuk bertandang ke Tanah Suci.

Keyakinan dan kerinduan itu akhirnya kelak membuat Allah menggerakkan Tangan-Nya untuk menyediakan biaya perjalanan haji bagi mereka yang telah bertahun-tahun memendam kerinduan. Banyak cara dan jalan yang tak terduga yang disediakan oleh Allah untuk mereka sehingga mereka menjadi mampu untuk menunaikan ibadah haji. Tak heran jika kita sering mendengar sebagian orang yang tiba-tiba memperoleh ongkos haji, padahal secara lahiriah ia tidak memiliki kemampuan untuk berangkat haji. Baca lebih lanjut

Juminten dan Spirit Kartini

Juminten

Juminten

Nama aslinya adalah Jumirah. Tapi istriku sering memanggilnya Juminten. Ia memang bukan artis cantik seperti Sandra Dewi. Ia juga bukan berasal dari keluarga tajir yang sawahnya berhektar-hektar. Bapaknya ‘hanya’ seorang tukang becak yang dulu sering mangkal di depan rumahku. Ibunya menjadi TKW di Arab Saudi.

Suatu hari, Juminten meminta izin kepada istriku untuk memanfaatkan kayu-kayu potongan usai rumahku direhab. Kayu-kayu itu digunakan untuk kayu bakar. Tentu saja, istriku memperbolehkan. Rumahku juga menjadi terlihat bersih dari tumpukan kayu yang berserakan di halaman belakang. Baca lebih lanjut

Balada Kawin Kontrak 2

Setelah melangsungkan pernikahan kontrak di Bogor dan menikmati bulan madu di Bali, Si Arab pun pulang ke negerinya. Sementara si Inem pulang ke kampungnya, ya, kampungku juga. Tentu saja dengan membawa pundi-pundi uang yang bejibun.

Namun, namanya juga perempuan masih muda. Apalagi si Inem sudah merasakan nikmatnya “surga dunia”. Setelah beberapa bulan sepulangnya sang “suami” ke negerinya, Inem pun merasakan kesepian. Nah, lho! Untuk membunuh sepinya, ia pun menjalin asmara dengan seorang pemuda sekampung. Ternyata selingkuh betul-betul tidak hanya menjadi tema lagu, tapi betul-betul dilakukan oleh Inem. Baca lebih lanjut

Balada Kawin Kontrak 1

Perempuan itu kutaksir berumur sekitar 25 tahun. Masih relatif muda. Parasnya memang tidak secantik Luna Maya. Tapi, menurutku, memang tidak mengecewakan. Penampilannya menarik dengan jilbab melilit wajahnya serta celana jeans membalut kakinya. Saat itu ia menggendong seorang anak kecil usia sekitar 2 tahunan. Di belakangnya, seorang anak kecil perempuan berumur sekitar 4 tahunan berjalan ceria. Ketika kutanya kepada narasumberku, anak perempuan itu adalah anak perempuan berjilbab itu.

Sesaat kemudian, perempuan itu memasuki rumahnya yang megah dibandingkan rumah-rumah sekitarnya. Terletak tidak jauh dari bibir kali, rumah itu memang menjadi santapan banjir jika tanggul yang menahan kali jebol. Ya, seperti yang terjadi di bulan yang lalu di desaku ini. Dengan cat berwarna pink, rumah itu tampil mencolok di antara rerimbunan pohon yang masih ada di sisi kiri kanan. Baca lebih lanjut