Nestapa Korban Trafficking

Gerimis di malam itu mengiringi kata demi kata yang meluncur deras dari mulut Kartiman (25). Sebut saja namanya begitu. Ia menghentikan langkahku di areal parkir saat aku menuju kendaraanku untuk segera pulang ke rumah sesuai menghadiri sebuah undangan di desa tetangga. Kartiman menceritakan kegundahannya saat sore sebelumnya baru saja ditemui oleh istrinya, Melati.

Aku pun teringat dengan istri Kartiman. Sebelum kudengar rumah tangganya diterpa keretakan, aku beberapa kali bertemu dengannya. Ia memang masih muda. Umurnya baru sekitar 20 tahun. Meski bertubuh mungil, wajahnya cantik dengan kulit putih bersih. Namun siapa sangka, di balik senyum manisnya itu, Melati menyimpan duka nestapa yang tak terperi. Baca lebih lanjut

Iklan

Kupu-kupu Kertas*)

Sang bayu berkesiur lembut tatkala kedua kakiku menyentuh aspal di perempatan jalan itu. Kututup pintu mobil perlahan seraya mengucapkan tabik kepada tiga orang teman yang duduk di dalam mobil. Avanza hitam itu pun lantas berlalu menembus keheningan malam.

Kulangkahkan kaki menyeberangi jalan. Jam di handphone-ku menunjuk pukul 01.30 dinihari. Aku ingin segera tiba di rumah dan melucuti kepenatan seusai beranjangsana ke beberapa teman yang jadi “orang” di ibukota. Saat aku hendak mengambil motor di tempat penitipan, tempat itu telah tertutup rapat. Aku pun melangkah gontai sembari mengedarkan pandangan mencari tukang ojek.

Sebelum kuputuskan menumpang motor ojek yang kupilih, pandanganku tertumbuk pada empat orang perempuan yang bercengkerama riang di sebuah warung. Dua orang lelaki duduk di sela-sela mereka. Dua dari keempat perempuan itu kukenal sebagai warga kampungku. Baca lebih lanjut