Obrolan Iseng di Suatu Siang

“Aku mari cari istri lagi, nih,” ujar Jamal dengan tegas seraya memperbaiki dasinya. Padahal ruangan itu tentu tidak sepanas di luar, karena ada AC yang senantiasa mengirimkan kesejukan.

“Yang bener aja, Mal? Emang kenapa istri kamu? Segitu cantiknya kok masih pengen cari istri lagi,” jawab Hendra, teman kuliah Jamal yang jauh-jauh datang ke Jakarta dari Yogya. Sejak pernikahan Jamal dengan Yulfi, mereka berdua memang tak pernah bersua hingga hari ini.

“Bukannya kurang cantik. Cantik sekali malah.”

“Trus, kenapa, kok, mau cari istri lagi?”

“Aku mau berbagi kebahagiaan. Aku mau menolong orang lain.” Mimik Jamal tampak serius. Tak ada kesan ia sedang bergurau.

“Oalah, Mal, Mal! Yang bener aja? Nggak usah sok pahlawan gitu deh.” Hendra mengumbar senyum menahan tawa.

“Lho? Ini serius, Mal! Aku sudah minta izin sama istriku, Yulfi. Dan dia ngasih izin.”

“Bohong! Ngaco! Mana ada perempuan yang mau dipoligami!”

“Kalo nggak percaya, tanya aja sendiri sama Yulfi.” 

“Awas! Ntar kutanyain bener, lho!”

“Silakan aja. Monggo mawon.”

Pembicaraan itu terhenti saat terdengar azan zuhur dari menara mesjid di seberang rumah Jamal. Kedua sahabat itu bersepakat untuk pergi ke masjid guna mengikuti shalat jamaah. Baca lebih lanjut

Perempuan di Tengah Badai

Penyanyi Rossa yang mirip Ina itu. (Foto: detikhot.com)

Penyanyi Rossa yang mirip Ina itu. (Foto: detikhot.com)

Pagi yang cerah saat aku mempersiapkan diri berangkat ke kantor. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ah, nomornya tak kukenal. Segurat ragu sempat melintas di hatiku untuk mengangkatnya. Tapi akhirnya kuangkat juga dan kuucapkan salam. Suara di ujung telepon sana lantas menjawab salamku. Ah, aku seperti mengenal suaranya.

“Mas, ini aku. Ina!” seru suara itu.

“Wah, yang bener?! Ina Magelang?!”

“Iya..iya!”

“Lama sekali nggak ada beritanya…”

Dan kami pun terlibat perbincangan yang seru. Layaknya perjumpaan dua orang sahabat yang bertahun-tahun dipisahkan oleh jarak dan waktu. Ia pun menceritakan kalau baru saja menelepon ibuku di kampung halaman sana. Nun jauh di ujung selatan Kalimantan. Ia menanyakan nomor handphoneku. Baca lebih lanjut

Surat dari Michigan

gambar-cerpenkuPikiranku ragu

tentang ada dan tiadaku

Namun cinta mengumumkan

aku ada

— Iqbal

 

R

ose, malam ini deru hujan salju masih saja terdengar lamat-lamat. Rinai snowfall laksana konser alam yang dipandu oleh seorang dirigen maha piawai.   Begitu ritmis dan padu. Saat ini, aku hanya ingin merenungi kembali  tapak-tapak sejarah yang kutanggalkan, Rose. Ya, hanya merenungi dan menelusuri maknanya. Bukan untuk menumpuk romantisme picik dan berkubang di dalamnya.

Baca lebih lanjut

Ketika Kepedulian Sirna

Sore yang temaram ditingkahi rinai gerimis di sebuah pertigaan Jalur Pantura Indramayu. Lalu lalang kendaraan bermotor masih ramai menyesaki jalan raya. Para tukang ojek berebut mencari penumpang yang turun dari angkot dan bis antar kota.

Asep baru saja memarkir motor di pangkalan ojek. Sembari melepaskan helm, ia menebarkan pandangannya ke arah bis yang berhenti. Sesaat kemudian, tampak sang istri di antara para penumpang.

Usai bersalaman dengan si istri dan menanyakan kondisi ibu mertuanya yang terbaring koma di rumah sakit, Asep pun bersiap menghidupkan mesin motornya. Mengantar istri pulang ke rumah.

Tiba-tiba braaak. Baca lebih lanjut