Nepotisme a la Indramayu

Salah satu nilai yang perlu dijaga dalam demokrasi adalah terselenggaranya pergantian kekuasaan secara teratur (orderly succession of rulers). Hal ini dirumuskan oleh Henry B. Mayo dalam karyanya An Introduction to Democratic Theory (1960). Keteraturan itu tersebut berarti pula bahwa pergantian kekuasaan terjadi secara alamiah, tanpa ada unsur paksaan dan kekerasan. Di samping itu, keteraturan juga dimaknai sebagai pergantian kekuasaan yang berbasis pada kapabilitas sang penguasa, bukan pada basis garis keturunan.

Pemimpin yang muncul (atau dimunculkan) karena rekayasa politik dengan basis keturunan bukanlah pemimpin ideal yang bisa diharapkan banyak untuk membawa perubahan di tengah masyarakat. Hal itu karena pemimpin yang baik tentu melalui sebuah proses pendidikan dan perjuangan politik yang panjang. Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan dan pemenang hadiah Nobel, menjalani masa-masa panjang perjuangan hingga mendekam selama 30 tahun dalam penjara. Presiden Soekarno mengalami masa-masa sulit saat dibuang oleh Belanda di Pulau Bangka. Baca lebih lanjut

Teknik Kunci SBY

Politik calon presiden incumbent, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), tampaknya memang halus, tapi cukup menohok lawan-lawan politiknya. Publik tentu masih belum lupa saat sebelum Pemilu Legislatif, Achmad Mubarok, Wakil Ketua Partai Demokrat melontarkan statemen yang cukup pedas tentang Partai Golkar. Menurut Mubarok, perolehan suara Golkar tak akan lebih dari 2,5 persen. Pernyataan itu sendiri dilontarkan Mubarok secara sambil lalu karena merupakan jawaban dari wawancara tidak resmi dari seorang wartawan saat Mubarok menghadiri Rapimnas Demokrat di Kemayoran.

Pernyataan itu akhirnya memang tak terbukti, karena menurut pengumuman resmi KPU, Golkar hanya memperoleh 14,45 persen suara. Meski demikian, pernyataan Mubarok tersebut jelas membuat marah kubu partai kuning tersebut. Arus bawah Golkar pun menuntut Jusuf Kalla, selaku ketua umum partai dan Wapres, untuk menarik diri dari koalisi dengan Partai Demokrat. Mereka menginginkan Jusuf Kalla tampil sebagai calon presiden, bukan calon wakil presiden. Baca lebih lanjut

Iklan Golkar Indramayu yang Membikin Heboh

Iklan Golkar Heboh

Iklan Golkar yang Bikin Heboh Itu

Agama rentan sekali dibajak untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Lihat, saja, orang-orang yang mendukung “perjuangan” a la Amrozi, dengan sigap menampilkan ayat Alquran atau hadis Nabi untuk membenarkan tindakan mereka. Di sisi lain, orang-orang yang membela pluralisme, liberalisme, perjuangan gender, demokrasi, dan sejenisnya, juga tak kalah cerdik dalam menampilkan ayat atau hadis yang mendukung sikap mereka.

Nah, kasus terakhir yang lagi hangat adalah iklan politik Golkar Indramayu yang mengutip ayat Alquran dan Hadis Nabi Muhammad. Hal yang membuat geger dan marah para ulama dari iklan itu adalah penarikan kesimpulan yang sangat gegabah. “Kami mengajak seluruh Rakyat Indramayu untuk terus mempercayakan, mendukung, dan memilih pemimpin Indramayu hanya pada Kader Terbaik Partai Golkar. Sebab kalau tidak, sesungguhnya kita akan termasuk golongan orang yang mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum Muslimin…” Baca lebih lanjut