Jokowi, Presiden Pilihanku

Jokowi nepuk batukNun beberapa tahun silam, ketika Jokowi masih menjabat sebagai walikota Solo, aku langsung “jatuh cinta”. Ketika itu hanya sedikit media nasional yang memberitakan sepak terjang. Saat itu, salah satu gebrakannya adalah saat ia berhasil memindahkan para pedagang ke tempat yang baru dengan damai. Tanpa pemberontakan. Tanpa buldoser. Tanpa aksi demonstrasi yang menguras darah dan air mata.

Saat itulah, aku langsung terbersit dalam hati, “Andaikan orang ini menjadi presiden, sungguh ia menjadi pemimpin idamanku.” Tapi harapan itu hanya tersimpan dalam hati. Terbayang betapa jauhnya jalan sang walikota menuju kursi presiden. Apalagi ia “hanyalah” seorang walikota yang ndeso dan tidak diperhitungkan dalam kancah politik nasional. Saya mengubur dalam-dalam impian itu. Kuanggap, impian itu hanyalah utopia di tengah hiruk-pikuk dunia politik yang sarat dengan keculasan. Baca lebih lanjut

Iklan

Kejamnya Pilkada

Suatu hari, dalam sebuah acara keluarga, saya bertemu dengan teman yang juga karyawan honor sebuah kantor pemerintahan. Sebut saja namanya Jambul. Karena lama tidak bersua, aku pun mengajak Jambul ngobrol.

“Kemana aja? Kok lama nggak kelihatan?” tanyaku sok akrab.

“Nggak kemana-mana. Ada di rumah. Lagi musuhan sama Bos,” jawabnya sambil memasang muka masam.

“Lho, emang kenapa?” sergahku penuh tanda tanya. Baca lebih lanjut