Sepenggal Cerita Usang TKW

Antri TKW

Aku telah mengenalnya sekitar 12 tahun silam saat kami sama-sama mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten untuk cabang lomba yang berbeda. Lelaki pendiam dan sederhana itu sebut saja bernama Jamal. Dalam MTQ itu, Jamal pun menyabet juara dua. Sementara aku sendiri tak meraih juara. Wajar sekali kekalahan itu, karena aku memang tak mempersiapkan diri dengan baik. Apalagi saat itu aku baru saja satu minggu menikah. Ehmm.

Usai MTQ itu, aku masih sempat beberapa kali bertemu dengan Jamal dalam beberapa kegiatan. Namun beberapa tahun terakhir ini, aku sudah tak pernah bertemu dengan si pendiam itu. Aku sempat mendengar kabar, istrinya berangkat ke Timur Tengah untuk menjadi TKW. Aku tak habis mengerti mengapa Jamal memperbolehkan sang istri untuk nekat berangkat menjadi TKW. Padahal dengan keberadaannya sebagai seorang ustaz, tentu ia mengerti bahwa perempuan dilarang untuk bepergian jauh dalam jangka waktu lama tanpa ditemani anggota keluarga. Baca lebih lanjut

Nepotisme a la Indramayu

Salah satu nilai yang perlu dijaga dalam demokrasi adalah terselenggaranya pergantian kekuasaan secara teratur (orderly succession of rulers). Hal ini dirumuskan oleh Henry B. Mayo dalam karyanya An Introduction to Democratic Theory (1960). Keteraturan itu tersebut berarti pula bahwa pergantian kekuasaan terjadi secara alamiah, tanpa ada unsur paksaan dan kekerasan. Di samping itu, keteraturan juga dimaknai sebagai pergantian kekuasaan yang berbasis pada kapabilitas sang penguasa, bukan pada basis garis keturunan.

Pemimpin yang muncul (atau dimunculkan) karena rekayasa politik dengan basis keturunan bukanlah pemimpin ideal yang bisa diharapkan banyak untuk membawa perubahan di tengah masyarakat. Hal itu karena pemimpin yang baik tentu melalui sebuah proses pendidikan dan perjuangan politik yang panjang. Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan dan pemenang hadiah Nobel, menjalani masa-masa panjang perjuangan hingga mendekam selama 30 tahun dalam penjara. Presiden Soekarno mengalami masa-masa sulit saat dibuang oleh Belanda di Pulau Bangka. Baca lebih lanjut

Adam Gugat

israel_palestine

Tempat ini sungguh asing sekali baginya. Orang-orang berpakaian militer sibuk lalu-lalang membawa senjata. Wajah-wajah mereka tanpa senyum dengan sorot mata tajam. Peluru-peluru mendesing mencari mangsa. Panser-panser bergemuruh melintasi jalan-jalan yang riuh. Bom-bom berdentuman menghancurkan setiap bangunan yang ada.

Para pengungsi bergerombol di pinggir-pinggir jalan. Kesedihan dan keletihan membatu di wajah-wajah kuyu itu. Tatapan bengis sang maut membayang di sorot mata mereka. Bagai setan yang setiap saat siap menancapkan taring-taring tajam di leher mereka.

Kota apa ini? Apa ini Dunia yang dikatakan Papa? gumamnya sendiri. Sungguh mengerikan. Duh, mengapa Gabriel langsung pulang ke Firdaus dan tak mau menemaniku? Adam kian dalam ditikam belati kebingungan dan ketakutan. Tak tahu apa yang harus ia perbuat. Sementara ancaman kematian kian menyudutkannya ke tepi jurang waktu. Baca lebih lanjut