Keberanian Recep Tayyip Erdogan

AFP.

Erdogan dan istri, Emine Erdogan. Foto: AFP.

Tak banyak penguasa negara muslim yang berani menantang hegemoni Barat di pentas internasional. Di antara tak banyak itu adalah Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran dan yang terakhir adalah Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki. Menantang hegemoni Barat oleh negara muslim adalah laksana perlawanan Daud (David) terhadap Jaluth (Goliath). Sebuah perlawanan yang tak seimbang dan penuh dengan risiko. Meski demikian, masih ada yang memiliki keberanian untuk melakukannya.

Dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu, dengan gagah berani Erdogan, berkata pedas di samping Simon Peres, Presiden Israel, tentang kebengisan negara Zionis dalam serangan ke Gaza Palestina yang terjadi beberapa waktu lalu. Tak urung, Simon Perez meradang dan membela habis-habisan kebijakan negaranya.

“Kamu pembunuh. Dan saya berpendapat tindakan itu sangat keliru,” seru Erdogan dengan lantang. “Anda mengetahui betul pembantaian terhadap warga Palestina. Saya masih ingat 2 mantan perdana menteri di negaramu yang pernah mengaku senang saat tank-tank Israel berhasil menjejakkan kehadiran di tanah Palestina,” tambahnya. Baca lebih lanjut

Tragedi Palestina: Potret Kelemahan Umat Islam

Tiga hari lalu, lagi-lagi Israel menyerang Jalur Gaza. Lebih 250 orang jadi korban kebiadaban negeri Yahudi itu. Serangan mendadak Israel tersebut merupakan kado pahit saat orang Islam merayakan Tahun Baru Islam 1430 H dan kado Natal yang mengerikan bagi orang Nasrani Palestina.

Kondisi umat Islam di Palestina adalah potret yang terang benderang betapa lemahnya umat Islam di hadapan negara zionis Israel. Bahkan dunia internasional juga tak kalah lemahnya dalam menghadapi kebiadaban Israel. PBB tak ubahnya macan ompong di mata Israel. Seruan dan resolusi PBB tak pernah digubris negara itu. Baca lebih lanjut