Jokowi, Presiden Pilihanku

Jokowi nepuk batukNun beberapa tahun silam, ketika Jokowi masih menjabat sebagai walikota Solo, aku langsung “jatuh cinta”. Ketika itu hanya sedikit media nasional yang memberitakan sepak terjang. Saat itu, salah satu gebrakannya adalah saat ia berhasil memindahkan para pedagang ke tempat yang baru dengan damai. Tanpa pemberontakan. Tanpa buldoser. Tanpa aksi demonstrasi yang menguras darah dan air mata.

Saat itulah, aku langsung terbersit dalam hati, “Andaikan orang ini menjadi presiden, sungguh ia menjadi pemimpin idamanku.” Tapi harapan itu hanya tersimpan dalam hati. Terbayang betapa jauhnya jalan sang walikota menuju kursi presiden. Apalagi ia “hanyalah” seorang walikota yang ndeso dan tidak diperhitungkan dalam kancah politik nasional. Saya mengubur dalam-dalam impian itu. Kuanggap, impian itu hanyalah utopia di tengah hiruk-pikuk dunia politik yang sarat dengan keculasan. Baca lebih lanjut

Perempuan dengan BMW

Aku masih teringat jelas, saat beberapa tahun silam, perempuan itu masih bocah. Saat itu aku baru lulus dari kuliah S1 dan mengajar honor di madrasah di kampungku. Perempuan itu mengaji di pesantren tempat aku biasa mengajar. Ia masih imut-imut dengan tingkah laku yang menggemaskan layaknya anak kecil. Namun ia memang agak berbeda dengan anak-anak lain yang sebayanya. Ia tampak paling cantik dengan kulit putih bersih dan penampilan yang rapi.

Sebut saja namanya Santi. Sebenarnya, ia masih memiliki garis keturunan dengan pengasuh pesantren tempat aku biasa dulu mengajar. Namun, ia jadi korban orang tua yang broken home. Ayahnya seorang polisi yang doyan main perempuan. Tak ayal, sang ayah akhirnya “dibuang” ke Aceh untuk menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebelum terjadi perdamaian Helsinki. Sepulang dari Aceh, sang ayah pun menikah lagi dengan seorang perempuan yang jauh lebih muda dari ibunya. Tidak sudi dipoligami, ibunya pun lantas meminta cerai.

Ibunya sendiri memang perempuan dengan masa lalu yang tak kalah suram. Sebelum dinikahi oleh sang polisi, ia dikenal sebagai perempuan yang terbiasa menerima “order”. Ia malang melintang di dunia malam Jakarta. Ia memang memiliki modal untuk bekerja di bidang itu. Meski sekarang gemuk, dulu ia memiliki tubuh yang proporsional dan wajah yang menarik. Baca lebih lanjut

Nestapa Korban Trafficking

Gerimis di malam itu mengiringi kata demi kata yang meluncur deras dari mulut Kartiman (25). Sebut saja namanya begitu. Ia menghentikan langkahku di areal parkir saat aku menuju kendaraanku untuk segera pulang ke rumah sesuai menghadiri sebuah undangan di desa tetangga. Kartiman menceritakan kegundahannya saat sore sebelumnya baru saja ditemui oleh istrinya, Melati.

Aku pun teringat dengan istri Kartiman. Sebelum kudengar rumah tangganya diterpa keretakan, aku beberapa kali bertemu dengannya. Ia memang masih muda. Umurnya baru sekitar 20 tahun. Meski bertubuh mungil, wajahnya cantik dengan kulit putih bersih. Namun siapa sangka, di balik senyum manisnya itu, Melati menyimpan duka nestapa yang tak terperi. Baca lebih lanjut

Sumbangan dan Sindikat Koruptor

tikus-koruptor1 Sekolah yang didirikan oleh almarhum ayah mertuaku memperoleh sumbangan dari pemerintah sebesar 150 juta. Tentu saja jumlah itu terbilang besar buat ukuran sekolah di kampungku. Adalah jelas bahwa sekolah itu memerlukan biaya untuk membangun dan memperbaiki beberapa ruangan, baik untuk kelas, perpustakaan, ruang komputer, dan lain-lain.

Namun sumbangan –yang sudah beberapa minggu silam berada di rekening sekolah– tak jua dicairkan oleh pihak sekolah. Hal itu terjadi karena ada silang pendapat yang sengit antara sebagian guru dengan pihak yayasan yang notabene berasal dari keluargaku. Sebagian guru bersikeras bahwa pihak sekolah sebagai penerima bantuan harus konsisten dengan “perjanjian” awal atas pengucuran sumbangan tersebut. “Perjanjian” itu adalah bahwa pihak penerima sumbangan bersedia menyerahkan 50% dari nilai nominal sumbangan kepada pihak yang “memperjuangkan” sehingga proposal itu disetujui dan sumbangannya dikucurkan. Baca lebih lanjut

Mengenal Profil JW Marriott, Si Raja Hotel

jw marriot“Anda harus membuat karyawan Anda berbahagia. Jika mereka berbahagia, mereka pun akan membuat para pelanggan Anda berbahagia.”

Demikian salah satu kunci keberhasilan bisnis John Willard Marriott. Lelaki kelahiran Utah, Amerika Serikat pada tanggal 17 September 1900 itu, merupakan pendiri salah satu kerajaan bisnis terbesar di dunia, yaitu Marriott Corporation. Sejak tahun 1993, nama tersebut lantas berubah menjadi Marriott International. Perusahaan ini bergerak di usaha rumah sakit, hotel, dan jaringan restoran. Salah satu hotel yang tergabung dengan Marriott International, adalah Hotel JW Marriot yang terletak di kawasan bisnis Kuningan Jakarta. Setelah 2003, untuk kedua kalinya, hotel tersebut kembali menjadi bahan berita karena jadi sasaran bom teroris pada Jumat pagi (17/7) lalu. Baca lebih lanjut

Kupu-kupu Kertas*)

Sang bayu berkesiur lembut tatkala kedua kakiku menyentuh aspal di perempatan jalan itu. Kututup pintu mobil perlahan seraya mengucapkan tabik kepada tiga orang teman yang duduk di dalam mobil. Avanza hitam itu pun lantas berlalu menembus keheningan malam.

Kulangkahkan kaki menyeberangi jalan. Jam di handphone-ku menunjuk pukul 01.30 dinihari. Aku ingin segera tiba di rumah dan melucuti kepenatan seusai beranjangsana ke beberapa teman yang jadi “orang” di ibukota. Saat aku hendak mengambil motor di tempat penitipan, tempat itu telah tertutup rapat. Aku pun melangkah gontai sembari mengedarkan pandangan mencari tukang ojek.

Sebelum kuputuskan menumpang motor ojek yang kupilih, pandanganku tertumbuk pada empat orang perempuan yang bercengkerama riang di sebuah warung. Dua orang lelaki duduk di sela-sela mereka. Dua dari keempat perempuan itu kukenal sebagai warga kampungku. Baca lebih lanjut