Biarkan Aku Menghindar…

Juwita, bilur-bilur sepi memang sedang menyelusup di relung hatiku. Meski hanya untuk sementara, kesendirian ini memang sempat membuatku tertawan dalam jeruji sunyi. Tapi, bukan berarti kumiliki sejumput keberanian untuk menyulih kesepianku dengan tindakan nista. Jujur kuungkapkan, aku tersanjung dengan tawaran cintamu padaku. Namun dengan jujur pula kukatakan, aku tak kuasa membelah cintaku untuk perempuan lain selain ibu dari kedua anakku.

Juwita, ia memang tidak sepintar dirimu dalam bersolek. Tubuhnya memang tak seindah tubuhmu. Ia memang tidak pandai menyunggingkan senyum yang menggoda. Tapi, cintanya padaku sudah diuji oleh sang waktu. Dibasuh oleh genangan darah dan isak air mata. Pahit getir hidup telah kukecap bersama dengannya. Sungguh, aku adalah lelaki tak tahu di untung tatkala mulai memetik buah manis hidup, aku justru menikmatinya bersama perempuan lain. Baca lebih lanjut

Iklan

Maaf, Aku Tak Mampu Mendua

Derasnya air hujan masih bertingkah menghiasi malam yang gulita di luar jendela. Sesekali terdengar deru kendaraan bermotor yang nyaris lenyap ditelan gemuruh hujan. Mataku masih terpaku pada sebuah untaian kalimat dalam pesan pendek di layar ponselku. Ombak bergulung-gulung mengombang-ambingkan biduk hatiku.

Mestinya aku bahagia jika ada orang yang mengasihiku. Tapi, kini palung jiwaku disesaki berlimbak galau yang tak terperi. Mestinya, ini tak perlu terjadi. Betapapun, telah ada orang lain yang selama ini begitu sabar dan setia menemani hari-hariku yang tak selalu indah. Ya, orang yang selama ini merawat dan mendidik kedua buah hatiku dengan penuh kasih sayang. Baca lebih lanjut