Membangun Kantor

Bangunan tak layak pakaiKetika pertama kali melihat kantorku yang baru, hatiku langsung miris. Betapa tidak, kantor terkesan kumuh, kotor, dan tak terawat. Papan nama sudah penuh dengan karat. Tulisannya pun nyaris tak terlihat, tertutup dengan rerimbunan pohon mangga. Taman di depan halaman sudah tak berwujud taman lagi. Parit di depan kantor tak disender sehingga terkesan menjijikkan. Arsip data pun berantakan. Padahal ia adalah kantor pemerintah. Milik negara!

Terbayang di kepalaku, berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk membiayai renovasi kantor besar-besaran ini. Hutang pembangunan di kantor sebelumnya saja belum terlunasi. Apakah sekarang aku harus menjadikan SK lagi sebagai jaminan kredit demi pembangunan kantor?! Ah, aku harus berpikir untuk mencari alternatif lain.

Menurut seorang temanku, tak perlu pusing-pusing memikirkan pembangunan kantor. Toh, kantor itu pun bukan milik kita pribadi. Ia adalah milik dan tanggung jawab pemerintah. Jika ada kerusakan, tinggal laporkan saja. Tak perlu kita repot untuk mencari dana sendiri. Nanti salah-salah kita dituduh melakukan korupsi. Mengapa bisa membangun? Dananya dari mana? Wah, repot lagi deh! Baca lebih lanjut

Di Ujung Batas

Sang pawana berhembus kencang di balik jendela sedan itu. Jalan menanjak dan berliku. Pepohonan jati berdiri kokoh di kedua sisi jalan. Yusuf masih duduk di belakang setir Vios yang terus melaju.

“Masih jauh, Mas?” tanya Ria yang duduk di samping Yusuf. Tangannya parkir di paha lelaki itu.

“Sebentar lagi, Sayang,” sahut Yusuf sambil menoleh sejenak ke arah Ria. “Kamu cantik sekali hari ini.”

“Gombal!” Ria mencubit pelan paha Yusuf.

“Aduh,” seru Yusuf dengan menggerakkan pahanya. Dari balik kaca spion, ia melihat jelas wajah Ria yang putih mulus. Alis matanya dicukur lancip. Bibirnya dipoles lipstik merah tebal. Blouse-nya yang ketat kian memperjelas lekuk tubuhnya. Dengan penampilan Ria seperti itu, tak aneh jika banyak lelaki di kantor Yusuf berlomba merebut hati karyawan honorer tersebut. Baca lebih lanjut