Adam Gugat

israel_palestine

Tempat ini sungguh asing sekali baginya. Orang-orang berpakaian militer sibuk lalu-lalang membawa senjata. Wajah-wajah mereka tanpa senyum dengan sorot mata tajam. Peluru-peluru mendesing mencari mangsa. Panser-panser bergemuruh melintasi jalan-jalan yang riuh. Bom-bom berdentuman menghancurkan setiap bangunan yang ada.

Para pengungsi bergerombol di pinggir-pinggir jalan. Kesedihan dan keletihan membatu di wajah-wajah kuyu itu. Tatapan bengis sang maut membayang di sorot mata mereka. Bagai setan yang setiap saat siap menancapkan taring-taring tajam di leher mereka.

Kota apa ini? Apa ini Dunia yang dikatakan Papa? gumamnya sendiri. Sungguh mengerikan. Duh, mengapa Gabriel langsung pulang ke Firdaus dan tak mau menemaniku? Adam kian dalam ditikam belati kebingungan dan ketakutan. Tak tahu apa yang harus ia perbuat. Sementara ancaman kematian kian menyudutkannya ke tepi jurang waktu. Baca lebih lanjut

Surat dari Michigan

gambar-cerpenkuPikiranku ragu

tentang ada dan tiadaku

Namun cinta mengumumkan

aku ada

— Iqbal

 

R

ose, malam ini deru hujan salju masih saja terdengar lamat-lamat. Rinai snowfall laksana konser alam yang dipandu oleh seorang dirigen maha piawai.   Begitu ritmis dan padu. Saat ini, aku hanya ingin merenungi kembali  tapak-tapak sejarah yang kutanggalkan, Rose. Ya, hanya merenungi dan menelusuri maknanya. Bukan untuk menumpuk romantisme picik dan berkubang di dalamnya.

Baca lebih lanjut