Tudingan Pungli di KUA: Suara dari Seorang Penghulu

Tudingan pungli di KUA yang marak diberitakan beberapa hari ini membuat saya menjadi sulit tidur. Sungguh, tudingan itu bagaikan sebuah palu godam yang menghantam diri saya dengan telak. Sebagai seorang penghulu, saya tahu persis bahwa tidak semua tudingan itu benar. Meski saya juga tak bisa membantah bahwa sebagian tudingan itu adalah benar ada adanya.

Biaya Pencatatan Nikah Beda dengan Biaya Nikah

Masyarakat sering tidak bisa membedakan antara biaya pencatatan nikah dengan biaya nikah. Biaya pencatatan nikah memang Rp. 30.000. Tapi biaya nikah bisa mencapai ratusan atau bahkan milyaran rupiah. Besar kecilnya biaya nikah tergantung kemampuan orang masing-masing. Biaya nikah meliputi cetak undangan, konsumsi para tamu, sewa gedung, sewa tenda, soundsystem, sewa hiburan, dan lain-lain, termasuk biaya pencatatan nikah.

Pencatatan nikah hanyalah salah satu kegiatan dari seluruh rangkaian upacara pernikahan. Tugas pencatatan nikah itu dilakukan oleh Petugas Pencatat Nikah (PPN/Penghulu). Pencatatan nikah sendiri adalah ujung dari sebuah rangkaian kegiatan yang menjadi kewajiban PPN/Penghulu. Kegiatan itu diawali dengan proses pendaftaran, pemeriksaan kelengkapan berkas administrasi, pemeriksaan kelengkapan syarat dan rukun pernikahan, pengumuman kehendak nikah selama rentang waktu 10 hari kerja, kursus calon pengantin, baru kemudian pencatatan nikah setelah akad nikah. Tentu saja, pencatatan itu bisa dilakukan jika tak ada halangan untuk dilakukan akad nikah.

Meski PPN/Penghulu hanya bertugas untuk menghadiri, mengawasi, dan mencatat sebuah akad pernikahan, namun kenyataannya banyak juga tugas-tugas lain yang dilakukan. Tugas-tugas lain itu seperti menjadi pembaca acara, sambutan tuan rumah, khutbah nikah, mewakili wali untuk melaksanakan ijab kabul akad nikah dengan pengantin laki-laki, dan pembacaan doa. Padahal tugas-tugas itu bukanlah kewajiban dari PPN/Penghulu dan tak dibiayai oleh negara. Namun seringkali di lapangan, tugas-tugas itu seolah merupakan kewajiban PPN/Penghulu. Ketika petugas diundang ke tempat akad, masyarakat menganggap bahwa petugaslah yang mempunyai kewajiban untuk melaksanakan ijab kabul dengan penganten laki-laki. Baca lebih lanjut

Iklan

Sekolah Pernikahan bagi Para Pencari Jodoh

TOKYO – Dalam rangka mencari pasangan idaman, puluhan orang Jepang mengikuti sekolah perkawinan yang baru-baru ini diluncurkan di Tokyo. Seperti diberitakan reuters.com, Sekolah tersebut bertujuan membekali para siswanya agar mudah mendapatkan jodoh dan berhasil membina perkawinan.

Infini merupakan sekolah yang menawarkan berbagai kelas untuk para calon pengantin laki-laki dan perempuan. Saat ini, di Jepang memang banyak orang menganggap lembaga perkawinan bukan sesuatu hal yang penting. Kalaupun toh terikat dalam pernikahan, mereka kesulitan dalam membina hubungan dengan pasangannya masing-masing. Baca lebih lanjut

Balada Cinta Mamat dan Ratna

Pemuda itu sebut saja bernama Mamat. Ia hanyalah pemuda kampung yang terlahir dari keluarga tak berpunya. Rumahnya terletak persis di pinggir kali. Mungkin lebih tepat disebut gudang daripada rumah. Tipenya adalah RSSSSS. Rumah Sangat Sempit Sehingga Sulit Selonjor.

Dengan gaya bicaranya yang luwes dan santun, Mamat memang mudah bergaul. Tak aneh, jika ia mudah berteman dengan para gadis sekampung meski tampangnya tidak seganteng artis Nicholas Saputra. Ia juga ringan tangan jika dimintai tolong oleh orang lain.

Suatu hari, usai melaksanakan tugas di sebuah akad nikah, saya didekati Mamat. Ia pun bercerita banyak tentang kisah kasihnya yang tak seindah roman picisan. Mamat menjalin cinta dengan Ratna, seorang gadis Yogya lulusan D3 UGM. Gadis pujaannya itu bekerja sebagai guru PNS di sebuah SD. Umurnya 3 tahun di atas Mamat. Baca lebih lanjut

Perceraian di Kalangan Artis

Pernikahan Anang dengan Krisdayanti, salah satu diva yang dimiliki Indonesia, akhirnya berada di ambang perceraian. Anang merasa dikhianati oleh sang istri yang dituding bermain mata dengan seorang pengusaha dari Timor Leste, Raul Lemmos. Perceraian pasangan artis tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak perceraian yang terjadi di kalangan artis. Hal itu memang cerita klasik yang sering diekspos media massa, terutama acara infotainment.

Rentannya perceraian di kalangan artis sebenarnya bisa diduga dari awal. Gaya hidup merupakan salah satu faktor yang paling berperan dalam menyebabkan karamnya bahtera para artis. Betapa tidak, gaya hidup glamour yang berbiaya tinggi tentu tidak mudah untuk dijalani. Saat penghasilan dari dunia artis berkurang, sementara tuntutan gaya hidup artis tetap tinggi, tak pelak rumah tangga pun jadi terguncang. Baca lebih lanjut

Menjadi Duda Sementara

Sepi di hatiku, meski jalan raya masih ramai di depan rumah. Seperti hari kemarin, malam ini aku harus menjalani hidup sebagai “duda” dengan dua orang anak yang masih kecil. Sungguh, bukanlah hal yang mudah menjalaninya. Serasa separuh hidupku hilang saat aku harus berpisah dengan sang istri, meski hanya untuk sementara. Beberapa tahun terakhir ini, aku memang sering hidup terpisah dengan istriku. Ada saja cara Sang Pencipta untuk menguji kesetiaanku terhadap ibu dari kedua anakku itu.

“Untuk mengetahui kekuatan seseorang dalam menjalani hidup, bukanlah dengan cara meringankan beban hidupnya, tapi justru dengan menambah beban hidupnya.” Demikian kata pamanku yang juga santri di Pengajian Padhang Bulan yang dikomandani Emha Ainun Nadjib. Kata-kata itu betul tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini. Oleh Sang Pemilik Hidup, aku sedang diuji seberapa besar kekuatanku dalam menjalani hidup ini. Baca lebih lanjut

Antara Poligami, Poliandri, dan Keadilan Tuhan

Suatu hari, seorang teman perempuan bertanya, “Mas, mengapa poliandri tidak diperbolehkan?” Aku pun mafhum mengapa ia bertanya demikian. Sebelumnya, ia bercerita kalau suaminya menikah lagi dengan seorang perempuan yang ternyata masih terikat pernikahan dengan seorang lelaki lain. Terus terang aku tidak bisa langsung menjawab. Tulisan ini adalah upayaku untuk menjawab pertanyaan sang teman semampuku.

Mengapa Tuhan membolehkan poligami untuk laki-laki tapi melarang poliandri untuk perempuan? Bukankah itu bentuk ketidakadilan Tuhan? Tuhan seolah hanya menguntungkan laki-laki tapi justru merugikan perempuan. Dan para aktivis perempuan berteriak kencang: poligami adalah ketidakadilan! Kalau memang adil, mestinya poliandri juga diperbolehkan untuk perempuan. Baca lebih lanjut

Pengemis Mau Poligami

Suatu hari usai Shalat Jum’at, di bulan Oktober 2008, ketika tengah memeriksa berkas-berkas di kantor, saya kedatangan sepasang lelaki perempuan yang sudah separuh baya. Sang laki-laki berbadan kurus dengan peci lusuh. Kaki dan tanggannya yang sebelah kanan (maaf) lebih kecil dan agak bengkok sehingga kalau jalan agak terpincang-pincang. Sedangkan si perempuan berperawakan agak gemuk dengan kulit kehitaman.
Usai menjawab salam, saya persilahkan kedua orang itu untuk duduk di ruang tamu kantor. Sementara dua orang tukang ojek yang mengantar mereka berdua duduk di bangku depan kantor. Baca lebih lanjut