Perempuan dengan BMW

Aku masih teringat jelas, saat beberapa tahun silam, perempuan itu masih bocah. Saat itu aku baru lulus dari kuliah S1 dan mengajar honor di madrasah di kampungku. Perempuan itu mengaji di pesantren tempat aku biasa mengajar. Ia masih imut-imut dengan tingkah laku yang menggemaskan layaknya anak kecil. Namun ia memang agak berbeda dengan anak-anak lain yang sebayanya. Ia tampak paling cantik dengan kulit putih bersih dan penampilan yang rapi.

Sebut saja namanya Santi. Sebenarnya, ia masih memiliki garis keturunan dengan pengasuh pesantren tempat aku biasa dulu mengajar. Namun, ia jadi korban orang tua yang broken home. Ayahnya seorang polisi yang doyan main perempuan. Tak ayal, sang ayah akhirnya “dibuang” ke Aceh untuk menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebelum terjadi perdamaian Helsinki. Sepulang dari Aceh, sang ayah pun menikah lagi dengan seorang perempuan yang jauh lebih muda dari ibunya. Tidak sudi dipoligami, ibunya pun lantas meminta cerai.

Ibunya sendiri memang perempuan dengan masa lalu yang tak kalah suram. Sebelum dinikahi oleh sang polisi, ia dikenal sebagai perempuan yang terbiasa menerima “order”. Ia malang melintang di dunia malam Jakarta. Ia memang memiliki modal untuk bekerja di bidang itu. Meski sekarang gemuk, dulu ia memiliki tubuh yang proporsional dan wajah yang menarik. Baca lebih lanjut

Ustaz Sumar: Korban Kekejaman Politik Masa Lalu

Korban kekerasan Pemilu 1982

Korban kekerasan Pemilu 1982. (Sumber foto: http://www.haryandoko.blogspot.com)

Jumat dinihari di awal bulan Mei 1982. Pemilu baru usai beberapa hari lalu. Kegelapan masih menutupi Desa Amis yang terletak di Kecamatan Cikedung itu. Para santri masih terlelap tidur di rumah Ustaz Sumar. Sekitar 9 orang santri yang rata-rata berumur 15 tahun memang seperti biasanya tidur di rumah sang ustaz hingga usai shalat subuh. Malam itu, mereka mengaji seperti biasa dan melaksanakan kegiatan Marhaban.

Keheningan dinihari itu pecah ketika pintu rumah sang ustaz yang sederhana itu didobrak oleh sekelompok orang tak dikenal. Kaca jendela pun dipecah berkeping-keping. Segerombolan orang-orang berpakaian militer merengsek masuk ke rumah itu. Tak ayal para santri pun terbangun dari mimpi mereka. Belum sampai penuh kesadaran mereka, golok dan senjata laras panjang telah siap menghabisi mereka.

“Awas! Jangan bergerak kalau mau selamat!” bentak salah seorang dari anggota gerombolan itu. “Mana Sumar?! Sumar, keluar!”

Para santri itu pun terdiam di lantai yang hanya beralas tikar itu. Namun yang dicari telah pergi meninggalkan rumah itu. Hanya sang istri, ibu, dan sembilan orang santri yang berada di rumah tersebut. Nursiah, istri Ustaz Sumar yang sedang mengandung tujuh bulan anak pertamanya, keluar dari kamar. Baca lebih lanjut