Jokowi, Presiden Pilihanku

Jokowi nepuk batukNun beberapa tahun silam, ketika Jokowi masih menjabat sebagai walikota Solo, aku langsung “jatuh cinta”. Ketika itu hanya sedikit media nasional yang memberitakan sepak terjang. Saat itu, salah satu gebrakannya adalah saat ia berhasil memindahkan para pedagang ke tempat yang baru dengan damai. Tanpa pemberontakan. Tanpa buldoser. Tanpa aksi demonstrasi yang menguras darah dan air mata.

Saat itulah, aku langsung terbersit dalam hati, “Andaikan orang ini menjadi presiden, sungguh ia menjadi pemimpin idamanku.” Tapi harapan itu hanya tersimpan dalam hati. Terbayang betapa jauhnya jalan sang walikota menuju kursi presiden. Apalagi ia “hanyalah” seorang walikota yang ndeso dan tidak diperhitungkan dalam kancah politik nasional. Saya mengubur dalam-dalam impian itu. Kuanggap, impian itu hanyalah utopia di tengah hiruk-pikuk dunia politik yang sarat dengan keculasan. Baca lebih lanjut

Iklan

Teknik Kunci SBY

Politik calon presiden incumbent, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), tampaknya memang halus, tapi cukup menohok lawan-lawan politiknya. Publik tentu masih belum lupa saat sebelum Pemilu Legislatif, Achmad Mubarok, Wakil Ketua Partai Demokrat melontarkan statemen yang cukup pedas tentang Partai Golkar. Menurut Mubarok, perolehan suara Golkar tak akan lebih dari 2,5 persen. Pernyataan itu sendiri dilontarkan Mubarok secara sambil lalu karena merupakan jawaban dari wawancara tidak resmi dari seorang wartawan saat Mubarok menghadiri Rapimnas Demokrat di Kemayoran.

Pernyataan itu akhirnya memang tak terbukti, karena menurut pengumuman resmi KPU, Golkar hanya memperoleh 14,45 persen suara. Meski demikian, pernyataan Mubarok tersebut jelas membuat marah kubu partai kuning tersebut. Arus bawah Golkar pun menuntut Jusuf Kalla, selaku ketua umum partai dan Wapres, untuk menarik diri dari koalisi dengan Partai Demokrat. Mereka menginginkan Jusuf Kalla tampil sebagai calon presiden, bukan calon wakil presiden. Baca lebih lanjut

Ramai-ramai Jadi Capres

Tampaknya orang Indonesia lagi betul-betul menikmati euforia demokrasi. Banyak tokoh menawarkan diri jadi calon presiden. SBY, Megawati, Wiranto, Hamengku Buwono, Rizal Malarangeng, Rizal Ramli, Prabowo Subianto, Dien Syamsudin, Ratna Sarumpaet , Sutrisno Bachir, Fadjroel Rachman, dan lain-lain.

Tapi seberapa layak mereka jadi presiden? Rakyat Indonesia mungkin mudah melupakan dan memaafkan kesalahan si capres di masa lalu. Atau mungkin si capres yang tidak tahu diri? Baca lebih lanjut