Pilkada dan Istri Muda

Pilkada yang akan diselenggarakan di berbagai mulai jadi sorotan berita. Salah satu yang menarik dari gonjang-ganjing pilkada itu, adalah munculnya fenomena para istri kepala daerah yang maju mencalonkan diri menggantikan sang sang incumbent, suami sendiri. Namun yang lebih menarik adalah terkuaknya keberadaan sang suami yang memiliki istri muda, padahal selama ini hal itu kurang terendus publik.

Di antara sekian ratus pilkada di seluruh Indonesia, paling tidak ada dua pilkada yang diramaikan dengan poligami sang incumbent. Pertama terjadi di Kediri. Bupati incumbent, Sutrisno, yang sudah menjalani dua periode jabatan, ternyata memiliki dua istri. Serunya, kedua istri sama-sama bersaing dengan mengajukan diri sebagai calon bupati untuk menggantikan sang suami. Istri pertama, Haryati, maju dengan dukungan resmi dari sang suami. Sedangkan istri kedua, Nurlaila, juga mau dengan dukungan beberapa parpol meski tanpa dukungan terbuka dari sang suami. Baca lebih lanjut

Korban Nikah Sirri dan Poligami

Akhir-akhir ini muncul kontroversi di tengah masyarakat tentang RUU Hukum Materiil Peradilan Agama Bidang Perkawinan atau sering populer disebut RUU Nikah Sirri. Terkait hal itu, aku teringat dengan sebuah kasus yang pernah kualami. Kasus itu mungkin bisa dijadikan renungan buat kita betapa pentingnya aturan dan sanksi yang tegas dalam bidang pernikahan.

Suatu hari, seorang perempuan paruh baya datang ke kantorku dengan wajah muram. Aku jelas mengenalnya karena ia tinggal satu blok dengannya.

“Gimana, Mbak? Ada apa?” tanyaku sembari mempersilakan duduk di kursi tamu kantor.

“Mau legalisir, Mas, untuk buat akta kelahiran anak,” sahutnya seraya mengulurkan sebuah buku nikah.

“Sini saya lihat,” kataku sambil memeriksa buku nikah. Baca lebih lanjut

Obrolan Iseng di Suatu Siang

“Aku mari cari istri lagi, nih,” ujar Jamal dengan tegas seraya memperbaiki dasinya. Padahal ruangan itu tentu tidak sepanas di luar, karena ada AC yang senantiasa mengirimkan kesejukan.

“Yang bener aja, Mal? Emang kenapa istri kamu? Segitu cantiknya kok masih pengen cari istri lagi,” jawab Hendra, teman kuliah Jamal yang jauh-jauh datang ke Jakarta dari Yogya. Sejak pernikahan Jamal dengan Yulfi, mereka berdua memang tak pernah bersua hingga hari ini.

“Bukannya kurang cantik. Cantik sekali malah.”

“Trus, kenapa, kok, mau cari istri lagi?”

“Aku mau berbagi kebahagiaan. Aku mau menolong orang lain.” Mimik Jamal tampak serius. Tak ada kesan ia sedang bergurau.

“Oalah, Mal, Mal! Yang bener aja? Nggak usah sok pahlawan gitu deh.” Hendra mengumbar senyum menahan tawa.

“Lho? Ini serius, Mal! Aku sudah minta izin sama istriku, Yulfi. Dan dia ngasih izin.”

“Bohong! Ngaco! Mana ada perempuan yang mau dipoligami!”

“Kalo nggak percaya, tanya aja sendiri sama Yulfi.” 

“Awas! Ntar kutanyain bener, lho!”

“Silakan aja. Monggo mawon.”

Pembicaraan itu terhenti saat terdengar azan zuhur dari menara mesjid di seberang rumah Jamal. Kedua sahabat itu bersepakat untuk pergi ke masjid guna mengikuti shalat jamaah. Baca lebih lanjut

Antara Poligami, Poliandri, dan Keadilan Tuhan

Suatu hari, seorang teman perempuan bertanya, “Mas, mengapa poliandri tidak diperbolehkan?” Aku pun mafhum mengapa ia bertanya demikian. Sebelumnya, ia bercerita kalau suaminya menikah lagi dengan seorang perempuan yang ternyata masih terikat pernikahan dengan seorang lelaki lain. Terus terang aku tidak bisa langsung menjawab. Tulisan ini adalah upayaku untuk menjawab pertanyaan sang teman semampuku.

Mengapa Tuhan membolehkan poligami untuk laki-laki tapi melarang poliandri untuk perempuan? Bukankah itu bentuk ketidakadilan Tuhan? Tuhan seolah hanya menguntungkan laki-laki tapi justru merugikan perempuan. Dan para aktivis perempuan berteriak kencang: poligami adalah ketidakadilan! Kalau memang adil, mestinya poliandri juga diperbolehkan untuk perempuan. Baca lebih lanjut

Perempuan di Tengah Badai

Penyanyi Rossa yang mirip Ina itu. (Foto: detikhot.com)

Penyanyi Rossa yang mirip Ina itu. (Foto: detikhot.com)

Pagi yang cerah saat aku mempersiapkan diri berangkat ke kantor. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ah, nomornya tak kukenal. Segurat ragu sempat melintas di hatiku untuk mengangkatnya. Tapi akhirnya kuangkat juga dan kuucapkan salam. Suara di ujung telepon sana lantas menjawab salamku. Ah, aku seperti mengenal suaranya.

“Mas, ini aku. Ina!” seru suara itu.

“Wah, yang bener?! Ina Magelang?!”

“Iya..iya!”

“Lama sekali nggak ada beritanya…”

Dan kami pun terlibat perbincangan yang seru. Layaknya perjumpaan dua orang sahabat yang bertahun-tahun dipisahkan oleh jarak dan waktu. Ia pun menceritakan kalau baru saja menelepon ibuku di kampung halaman sana. Nun jauh di ujung selatan Kalimantan. Ia menanyakan nomor handphoneku. Baca lebih lanjut

Pengemis Mau Poligami

Suatu hari usai Shalat Jum’at, di bulan Oktober 2008, ketika tengah memeriksa berkas-berkas di kantor, saya kedatangan sepasang lelaki perempuan yang sudah separuh baya. Sang laki-laki berbadan kurus dengan peci lusuh. Kaki dan tanggannya yang sebelah kanan (maaf) lebih kecil dan agak bengkok sehingga kalau jalan agak terpincang-pincang. Sedangkan si perempuan berperawakan agak gemuk dengan kulit kehitaman.
Usai menjawab salam, saya persilahkan kedua orang itu untuk duduk di ruang tamu kantor. Sementara dua orang tukang ojek yang mengantar mereka berdua duduk di bangku depan kantor. Baca lebih lanjut

Obrolan Poligami

Seorang lelaki baru saja menikahi putri seorang ulama terkenal yang berpoligami.
“Nak, saya berpesan padamu,” kata si ulama yang kaya raya itu, “perlakukan istrimu dengan baik. Jangan kau menduakannya dengan berpoligami karena akan menyakiti istrimu.”
“Lho, bapak sendiri kan berpoligami?! Berarti bapak juga menyakiti ibu, istri tua bapak,” protes sang menantu.
“Betul, anakku. Tapi bapak telah menyadari sakitnya poligami adalah justru obat dari sakit yang jauh lebih besar, yaitu ego kepemilikan.”
“Ego kepemilikan bagaimana maksud bapak?
“Hampir semua wanita tidak rela suaminya menikah lagi. Ada rasa memiliki yang kuat dalam diri wanita terhadap suaminya. Seolah suaminya adalah miliknya sendiri. Padahal tak ada apapun yang bisa kita miliki di dunia ini, termasuk suami, istri, anak, harta, jabatan, popularitas, dan lain-lain.”
“Memang tidak boleh ada rasa memiliki dalam diri kita? Repot dong kalau kita tidak memiliki. Nanti bisa-bisa suami atau istri kita berselingkuh dibiarin aja.”
“Hmm. Anakku, kita semua bukan pemilik. Kita semua hanyalah orang yang diberi titipan oleh Sang Pemilik sejati, Tuhan Pencipta jagat raya. Kita diberi amanat untuk menjaga dan merawat dengan sebaik-baiknya semua yang dititipkan kepada kita, baik berupa istri, suami, anak, harta, jabatan, ketenaran, dan lain-lain. Pada saatnya, rela atau tidak rela, semua itu akan diambil kembali oleh $ang Pemiliknya.”
“Maaf, bapak, mohon tidak tersinggung. Apa bukan karena ingin mengikuti hawa nafsu saja orang berpoligami? Pengen cari yang muda dan cantik?”
“Ha..ha.. Bapak sudah sering dituduh begitu. Cantik dan muda hanyalah salah satu pintu untuk memasuki tujuan yang lebih agung. Pintu itu sah adanya dan orang boleh memasukinya. Namun sekali lagi, ia tetaplah pintu, bukan isi rumah sesungguhnya.”
“Ngomong-ngomong, kenapa Bapak meminta saya tidak berpoligami jika memang tujuan poligami seperti itu?”
“Karena Bapak tahu, putri Bapak belum mampu melepas selubung ego kepemilikan dari hatinya. Dan kau pun belum cukup kuat untuk memikul tanggung jawab yang besar dan bersikap adil jika berpoligami.”
“Lantas ibu sendiri bagaimana? Ibu kan juga mungkin sakit hati dipoligami oleh Bapak. Apa ibu sudah bisa membuang ego kepemilikannya?”
“Ibu sudah mengetahui betapa penting membuang ego kepemilikan di dalam hati. Sekarang ibu sedang menjalani langsung hal itu. Tentu tidak selamanya mulus. Masih ada hal-hal manusiawi yang terjadi. Istri-istri Nabi sendiri masih suka cemburu.”
“Jadi, saya boleh poligami tidak, Pak?”
“Belum saatnya, anakku. Poligami bukan datang dari keinginan pribadi yang diniatkan dari awal. Tapi lebih merupakan tuntutan keadaan. Ada misi sosial yang juga diemban. Sudahlah. Belajarlah lebih dulu.”