Jokowi, Presiden Pilihanku

Jokowi nepuk batukNun beberapa tahun silam, ketika Jokowi masih menjabat sebagai walikota Solo, aku langsung “jatuh cinta”. Ketika itu hanya sedikit media nasional yang memberitakan sepak terjang. Saat itu, salah satu gebrakannya adalah saat ia berhasil memindahkan para pedagang ke tempat yang baru dengan damai. Tanpa pemberontakan. Tanpa buldoser. Tanpa aksi demonstrasi yang menguras darah dan air mata.

Saat itulah, aku langsung terbersit dalam hati, “Andaikan orang ini menjadi presiden, sungguh ia menjadi pemimpin idamanku.” Tapi harapan itu hanya tersimpan dalam hati. Terbayang betapa jauhnya jalan sang walikota menuju kursi presiden. Apalagi ia “hanyalah” seorang walikota yang ndeso dan tidak diperhitungkan dalam kancah politik nasional. Saya mengubur dalam-dalam impian itu. Kuanggap, impian itu hanyalah utopia di tengah hiruk-pikuk dunia politik yang sarat dengan keculasan. Baca lebih lanjut

Iklan

Politik Birokrasi

perebutan kerusiBagi sebagian orang, jabatan dan pangkat memang sangat menggiurkan. Mereka menduga, jabatan bisa menolong untuk meraih kekayaan, kekuasaan, popularitas, fasilitas, dan lain-lain. Karena dugaan itulah, jabatan pun diraih dengan segala cara. Bahkan jika perlu, teman sendiri pun bisa dikorbankan untuk merebut jabatan itu. Seperti itu pula yang tampaknya dialami oleh seorang teman, sebut saja namanya Amran. Ia baru saja menjadi korban dari kejamnya politik birokrasi dalam kompetisi memperebutkan jabatan.

Alkisah, Amran mendapatkan berita dari atasannya bahwa ia akan diikutsertakan dalam fit and proper test untuk menjadi calon pejabat di sebuah instansi pemerintahan. Dengan suka ria, ia menyambut kabar gembira tersebut. Ia pun ditunjukkan surat panggilan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Nama Amran tertera jelas di surat panggilan itu sebagai salah satu utusan dari daerahnya. Baca lebih lanjut

Nepotisme a la Indramayu

Salah satu nilai yang perlu dijaga dalam demokrasi adalah terselenggaranya pergantian kekuasaan secara teratur (orderly succession of rulers). Hal ini dirumuskan oleh Henry B. Mayo dalam karyanya An Introduction to Democratic Theory (1960). Keteraturan itu tersebut berarti pula bahwa pergantian kekuasaan terjadi secara alamiah, tanpa ada unsur paksaan dan kekerasan. Di samping itu, keteraturan juga dimaknai sebagai pergantian kekuasaan yang berbasis pada kapabilitas sang penguasa, bukan pada basis garis keturunan.

Pemimpin yang muncul (atau dimunculkan) karena rekayasa politik dengan basis keturunan bukanlah pemimpin ideal yang bisa diharapkan banyak untuk membawa perubahan di tengah masyarakat. Hal itu karena pemimpin yang baik tentu melalui sebuah proses pendidikan dan perjuangan politik yang panjang. Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan dan pemenang hadiah Nobel, menjalani masa-masa panjang perjuangan hingga mendekam selama 30 tahun dalam penjara. Presiden Soekarno mengalami masa-masa sulit saat dibuang oleh Belanda di Pulau Bangka. Baca lebih lanjut