Kerinduanku

Suatu siang menjelang sore, dua tahun silam, seorang teman lama semasa kuliah dulu, tiba-tiba meneleponku. Ia memohon maaf atas segala kesalahannya dan meminta alamat suratku. Aku pun bertanya-tanya sebab musabab sikapnya itu. Ia menjelaskan, ia hendak berangkat ke Tanah Suci dengan khusyuk. Ia tak ingin ada kesalahan yang belum sempat ia mintakan maaf kepada orang yang pernah ia sakiti. Ia juga ingin mengembalikan beberapa bukuku yang pernah ia pinjam semasa kuliah dulu.

Aku memang masih ingat dengan baik bagaimana ia mencengkeram leherku dan nyaris menjotosku. Saat itu, hari-hari pertama aku menjejakkan kaki di Yogyakarta. Hanya karena sebuah celetukanku, ia naik pitam. Padahal celetukan itu justru bukan tertuju pada dirinya, namun kepada kedua orang teman sekamar yang masih tiduran di saat waktu belajar. Baca lebih lanjut