Memprotes Tuhan

Ngapain sih Tuhan repot-repot menciptakan aku? Kan aku nggak pernah minta diciptain? Apalagi terlahir dari keluarga kere kayak kini! Pengennya sih aku terlahir dari keluarga konglomerat. Biar nggak sengsara kayak sekarang. Biar aku bisa beli Ipad versi terbaru!”

Ungkapan protes terhadap Tuhan seperti di atas sering terlintas di benak banyak orang, termasuk diriku sendiri. Bahkan protes seperti itu juga sudah dimulai sejak dulu. Saat itu, para malaikat memprotes kebijakan Tuhan untuk menciptakan manusia.

“Lho, ngapain sih Tuhan mau menciptakan manusia?! Mereka kan nantinya hanya bisa bikin ribut dan pertumpahan darah saja di dunia? Pembunuhan massal di mana-mana?! Apa nggak cukup nyiptain kami saja, para malaikat? Kami kan taat pada-Mu.” Demikian protes para malaikat dengan sengit terhadap Tuhan. Baca lebih lanjut

Surat dari Michigan

gambar-cerpenkuPikiranku ragu

tentang ada dan tiadaku

Namun cinta mengumumkan

aku ada

— Iqbal

 

R

ose, malam ini deru hujan salju masih saja terdengar lamat-lamat. Rinai snowfall laksana konser alam yang dipandu oleh seorang dirigen maha piawai.   Begitu ritmis dan padu. Saat ini, aku hanya ingin merenungi kembali  tapak-tapak sejarah yang kutanggalkan, Rose. Ya, hanya merenungi dan menelusuri maknanya. Bukan untuk menumpuk romantisme picik dan berkubang di dalamnya.

Baca lebih lanjut