Keberanian Recep Tayyip Erdogan

AFP.

Erdogan dan istri, Emine Erdogan. Foto: AFP.

Tak banyak penguasa negara muslim yang berani menantang hegemoni Barat di pentas internasional. Di antara tak banyak itu adalah Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran dan yang terakhir adalah Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki. Menantang hegemoni Barat oleh negara muslim adalah laksana perlawanan Daud (David) terhadap Jaluth (Goliath). Sebuah perlawanan yang tak seimbang dan penuh dengan risiko. Meski demikian, masih ada yang memiliki keberanian untuk melakukannya.

Dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu, dengan gagah berani Erdogan, berkata pedas di samping Simon Peres, Presiden Israel, tentang kebengisan negara Zionis dalam serangan ke Gaza Palestina yang terjadi beberapa waktu lalu. Tak urung, Simon Perez meradang dan membela habis-habisan kebijakan negaranya.

“Kamu pembunuh. Dan saya berpendapat tindakan itu sangat keliru,” seru Erdogan dengan lantang. “Anda mengetahui betul pembantaian terhadap warga Palestina. Saya masih ingat 2 mantan perdana menteri di negaramu yang pernah mengaku senang saat tank-tank Israel berhasil menjejakkan kehadiran di tanah Palestina,” tambahnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Membela RUU Pornografi

Sungguh menarik untuk mencermati kontroversi Rancangan Undang-Undang Pornografi. Kita bisa melihat betapa masyarakat terbelah menjadi kubu yang pro dan kontra. Dari kedua kubu tersebut, kita melihat unsur masyarakat mana saja yang mendukung dan menolak. Kita bisa melihat bahwa kubu yang pro adalah mayoritas terdiri dari organisasi-organisasi sosial dan politik yang berbau Islam, seperti NU, MUI, Muhammadiyah, dan lain-lain. Dengan kata lain, orang-orang Islam yang merindukan tegaknya moralitas yang menjunjung tinggi kesopanan dan tata susila, mendukung RUU tersebut. Sedangkan kubu kontra adalah organisasi sosial dan politik yang sekuler dan non muslim, seperti PDS, PDIP, LBH Apik, Islam Liberal, dan lain-lain. Bisa dikatakan pula, kubu yang kontra adalah mereka yang tidak menyukai adanya undang-undang yang mengandung unsur-unsur hukum Islam serta tidak menyukai kebebasan berekspresi a la Barat diatur sedemikian rupa oleh undang-undang. Baca lebih lanjut

Irshad Manji

Seorang Irshad Manji dengan bangga menyatakan dirinya seorang lesbian. Sungguh suatu fenomena yang membuat diriku bertanya-tanya: ada apa gerangan dengan feminisme? Apakah feminisme lantas melahirkan para perempuan pemberontak? Para perempuan yang memberontak terhadap tatanan norma sosial dan agamanya? Para perempuan yang membuang jauh-jauhnya kodrat mereka sebagai perempuan yang melahirkan dan mengasuh anak?

Pilihan Irshad Manji untuk menjadi seorang lesbian adalah sebuah pilihan yang sungguh berani. Lucunya, ketika dikejar dengan landasan pilihannya tersebut di dalam Alquran, ia pun akhirnya tersudut dengan hanya menjawab “Tidak tahu: apakah yang dikutuk Tuhan adalah tindakan homoseksualitas kaum Luth ataukah tindakan kekerasan seksual.” Adalah absurd menyerahkan sebuah pilihan hidup kepada sebuah ketidaktahuan.

Jika hanya Tuhan dan nurani dirinya yang menjadi sandaran hidupnya, maka ini semakin sulit untuk dimengerti. Bagaimana mungkin bisa terjadi: menjadi seorang Islam yang beriman –sebagaimana yang diklaim oleh dirinya—sementara di sisi lain ia menolak berbagai ajaran dalam Islam yang mestinya ia imani. Bagaimana ia tahu tentang cara beriman kepada Tuhan dalam Islam jika ia tidak mempercayai Alquran dan hadis Nabi? Apakah nurani dirinya selalu berada dalam kebenaran? Bagaimana mengukur kebenaran nuraninya tersebut. Sungguh suatu yang sulit dimengerti.

Jika memang Irshad Manji dengan rendah hati menyatakan betapa sedikitnya ilmu manusia dengan ilmu Tuhan, mengapa ia juga tidak dengan rendah hati mengakui bahwa ilmu Tuhan tentu lebih luas dari dirinya sehingga Tuhan menyatakan tindakan homoseksualitas kaum Luth adalah sesuatu yang keji. Ketika Tuhan sudah menyatakan homoseksualitas sebagai sesuatu yang keji, mengapa Irshad justru dengan bangga menjalani kehidupan sebagai lesbian? Bukakah hal itu sama saja dengan menentang Tuhan yang dipercayainya.

Jika betul bahwa hanya Tuhan yang dipercayainya, maka mestinya ia pun mempercayai apa yang dikatakan oleh Tuhan. Jika Tuhan telah menyatakan bahwa perbuatan homoseksual adalah tindakan yang keji, maka mengapa ia tidak dengan rendah hati mempercayai perkataan Tuhan tersebut?

Mungkin persoalannya, Irshad tidak betul-betul meyakini apakah betul bahwa Alquran adalah seluruhnya perkataan Tuhan? Jika memang Irshad tidak meyakini Alquran sebagai perkataan Tuhan, lantas dari mana lagi ia mempercayai kebenaran tentang Tuhan? Dari nuraninya? Sungguh sangat riskan jika kepercayaan terhadap Tuhan hanya dipasrahkan kepada nurani seorang manusia yang bisa salah.

Tampaknya, Irshad sendiri tidak konsisten dengan pilihannya untuk mempercayai hanya dua entitas: Tuhan dan nuraninya. Bagaimana ia mengenal Tuhan sesuai dengan ajaran Islam yang ia anut jika Alquran dan hadis tidak sepenuhnya ia percayai?

Tentang Kaum Liberal

Ada kecenderungan yang aneh di segelintir teman-teman yang menggumuli pemikiran Islam liberal dan sejenisnya. Kekaguman terhadap pemikiran-pemikiran Barat begitu kental sehingga terkadang mengenyampingkan sikap kritis. Di samping itu, kekaguman tersebut terkadang juga hatta mengebiri akidah Islam yang selama ini diyakini.

Ketika Nashr Abu Zaid menghalalkan praktek homoseksual, maka secara tidak langsung ia sesungguhnya mengamini pola pikir masyarakat Barat yang nota bene menganggap bahwa homoseksual adalah sesuatu yang normal, sesuatu yang merupakan hak individu yang harus dilindungi. Melarang homoseksual adalah sesuatu yang melanggar HAM. Dengan demikian, Abu Zaid berarti telah melempar jauh-jauh keyakinan sebagian besar umat Islam bahwa homoseksual adalah sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Dengan kata lain, Abu Zaid berusaha untuk menampilkan Islam yang dia pahami sesuai dengan pola pikir dan gaya hidup orang Barat meskipun bertentangan dengan keyakinan umat Islam selama ini.

Mungkin perlu dipertanyakan motivasi teman-teman liberal untuk terus mengkritisi ajaran-ajaran Islam. Jika benar motivasi itu adalah demi mencari kebenaran dan meneguhkan keimanan, kenapa yang justeru terjadi adalah keraguan bahkan ketidakpercayaan kepada kebenaran ajaran-ajaran Islam yang selama ini diyakini dan diimani? Jika motivasi itu adalah untuk kepentingan duniawi, seperti agar mendapat dana beasiswa dari negara-negara barat, sungguh hal itu adalah suatu bentuk pelacuran intelektual. Jika motivasinya adalah agar Islam bisa tampil sebagai agama yang humanis, damai, toleran, dan sebagainya, maka hal itu perlu dikaji lebih dalam lagi. Apakah betul motivasi betul-betul tulus? Apakah ada agenda tersembunyi agar Islam tidak menjadi agama yang berada di garda depan untuk menentang ketidakadilan negara-negara Barat?

Kenapa orang-orang Barat harus repot-repot meributkan orang-orang Islam di beberapa negara Islam yang hendak menerapkan syariat Islam? Jika negara-negara Barat bersikap adil dan toleran terhadap negara-negara Islam, tentu hal itu tidak perlu terjadi. Lihat saja, betapa banyak ketidakadilan yang diciptakan oleh neokolonialisme Barat. Negara-negara Islam tidak boleh membuat nuklir, tetapi negara-negara Barat boleh membuatnya.