Catatan Perjalanan Haji

Kerinduan

Bagi sebagian orang, haji merupakan perjalanan untuk menumpahkan kerinduan yang selama ini terpendam di lubuk hati. Kerinduan untuk bersimpuh di depan Rumah Allah. Kerinduan untuk berziarah di pusara Kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Ya, kerinduan yang tak terperi. Tak ayal, ketika kesempatan untuk berangkat haji itu tiba, mereka pun penuh suka cita. Tak terlintas dalam bayangan mereka betapa susah dan melelahkan perjalanan panjang dari Tanah Air menuju Tanah Suci Mekkah.

Orang-orang yang rindu tersebut merupakan orang-orang yang dipanggil oleh Allah untuk memenuhi undangan-Nya guna mengunjungi Rumah-Nya. Padahal mereka juga menyadari, tak sedikit biaya yang harus ia keluarkan untuk memenuhi panggilan Ilahi Rabbi ke rumah-Nya itu. Mereka tak memperdulikan kondisi mereka yang secara ekonomi tidak mampu untuk membiayai perjalanan haji. Namun mereka memiliki keyakinan dan kerinduan yang kuat bahwa mereka kelak bisa menuntaskan kerinduan mereka untuk bertandang ke Tanah Suci.

Keyakinan dan kerinduan itu akhirnya kelak membuat Allah menggerakkan Tangan-Nya untuk menyediakan biaya perjalanan haji bagi mereka yang telah bertahun-tahun memendam kerinduan. Banyak cara dan jalan yang tak terduga yang disediakan oleh Allah untuk mereka sehingga mereka menjadi mampu untuk menunaikan ibadah haji. Tak heran jika kita sering mendengar sebagian orang yang tiba-tiba memperoleh ongkos haji, padahal secara lahiriah ia tidak memiliki kemampuan untuk berangkat haji. Baca lebih lanjut

Kerinduanku

Suatu siang menjelang sore, dua tahun silam, seorang teman lama semasa kuliah dulu, tiba-tiba meneleponku. Ia memohon maaf atas segala kesalahannya dan meminta alamat suratku. Aku pun bertanya-tanya sebab musabab sikapnya itu. Ia menjelaskan, ia hendak berangkat ke Tanah Suci dengan khusyuk. Ia tak ingin ada kesalahan yang belum sempat ia mintakan maaf kepada orang yang pernah ia sakiti. Ia juga ingin mengembalikan beberapa bukuku yang pernah ia pinjam semasa kuliah dulu.

Aku memang masih ingat dengan baik bagaimana ia mencengkeram leherku dan nyaris menjotosku. Saat itu, hari-hari pertama aku menjejakkan kaki di Yogyakarta. Hanya karena sebuah celetukanku, ia naik pitam. Padahal celetukan itu justru bukan tertuju pada dirinya, namun kepada kedua orang teman sekamar yang masih tiduran di saat waktu belajar. Baca lebih lanjut

Tak Punya Uang

Suatu hari seorang kerabat bertanya padaku, “Kamu pernah nggak punya uang?”

“Pernah. Bahkan sering,” jawabku santai seraya tetap memainkan jari jemari di keyboard laptopku.

“Terus gimana?” sergahnya dengan mata mendelik.

“Apanya yang gimana? Biasa aja tuh!” Aku menoleh ke arahnya dan berhenti mengetik.

“Nggak bingung? Nggak repot?” Pamanku, yang memiliki usaha rumah makan di Yogyakarta, itu seolah tak percaya.

“Ah, biasa saja. Sekarang saja, uangku tinggal seribu perak. Tak lebih tak kurang.”

Petikan dialog itu terjadi di suatu malam di rumahku. Jawabanku dalam dialog itu adalah salah satu upayaku untuk belajar memaknai hidup yang sementara ini. Setelah letih dihantam prahara hidup, aku kini mencoba menjalani hidup dengan seadanya. Ada uang, tak perlu diambil pusing. Tak ada uang, juga tak perlu diambil pusing. Baca lebih lanjut