Kejamnya Pilkada

Suatu hari, dalam sebuah acara keluarga, saya bertemu dengan teman yang juga karyawan honor sebuah kantor pemerintahan. Sebut saja namanya Jambul. Karena lama tidak bersua, aku pun mengajak Jambul ngobrol.

“Kemana aja? Kok lama nggak kelihatan?” tanyaku sok akrab.

“Nggak kemana-mana. Ada di rumah. Lagi musuhan sama Bos,” jawabnya sambil memasang muka masam.

“Lho, emang kenapa?” sergahku penuh tanda tanya. Baca lebih lanjut

Iklan

Sepenggal Cerita Usang TKW

Antri TKW

Aku telah mengenalnya sekitar 12 tahun silam saat kami sama-sama mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten untuk cabang lomba yang berbeda. Lelaki pendiam dan sederhana itu sebut saja bernama Jamal. Dalam MTQ itu, Jamal pun menyabet juara dua. Sementara aku sendiri tak meraih juara. Wajar sekali kekalahan itu, karena aku memang tak mempersiapkan diri dengan baik. Apalagi saat itu aku baru saja satu minggu menikah. Ehmm.

Usai MTQ itu, aku masih sempat beberapa kali bertemu dengan Jamal dalam beberapa kegiatan. Namun beberapa tahun terakhir ini, aku sudah tak pernah bertemu dengan si pendiam itu. Aku sempat mendengar kabar, istrinya berangkat ke Timur Tengah untuk menjadi TKW. Aku tak habis mengerti mengapa Jamal memperbolehkan sang istri untuk nekat berangkat menjadi TKW. Padahal dengan keberadaannya sebagai seorang ustaz, tentu ia mengerti bahwa perempuan dilarang untuk bepergian jauh dalam jangka waktu lama tanpa ditemani anggota keluarga. Baca lebih lanjut

Juminten dan Spirit Kartini

Juminten

Juminten

Nama aslinya adalah Jumirah. Tapi istriku sering memanggilnya Juminten. Ia memang bukan artis cantik seperti Sandra Dewi. Ia juga bukan berasal dari keluarga tajir yang sawahnya berhektar-hektar. Bapaknya ‘hanya’ seorang tukang becak yang dulu sering mangkal di depan rumahku. Ibunya menjadi TKW di Arab Saudi.

Suatu hari, Juminten meminta izin kepada istriku untuk memanfaatkan kayu-kayu potongan usai rumahku direhab. Kayu-kayu itu digunakan untuk kayu bakar. Tentu saja, istriku memperbolehkan. Rumahku juga menjadi terlihat bersih dari tumpukan kayu yang berserakan di halaman belakang. Baca lebih lanjut

Lowongan Kerja Baru: Caleg

Kartun calegPemilu tinggal beberapa hari lagi, tepatnya 9 April 2009. Banyak orang berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk menduduki kursi legislatif. Sekian ribu orang seluruh Indonesia memasang tampangnya di pinggir-pinggir jalan. Mereka seolah begitu percaya diri bahwa rakyat akan memilih dirinya. Kita seolah disuguhkan sebuah fenomena narsisme yang begitu masif dan menyesaki ruang publik.

Menjadi calon legislatif lantas kelak dilantik sebagai anggota legislatif tampaknya menjadi idaman banyak orang di negeri ini. Begitu banyak partai hingga berjumlah 38 ditambah 6 partai lokal di Aceh. Saking banyaknya, partai-partai itu seolah menjadi wadah yang besar sehingga semua orang dari berbagai kalangan bisa masuk. Wadah itu menjadi tempat penampungan ambisi orang-orang yang ngebet meraih kursi anggota dewan. Baca lebih lanjut

Menjadi Duda Sementara

Sepi di hatiku, meski jalan raya masih ramai di depan rumah. Seperti hari kemarin, malam ini aku harus menjalani hidup sebagai “duda” dengan dua orang anak yang masih kecil. Sungguh, bukanlah hal yang mudah menjalaninya. Serasa separuh hidupku hilang saat aku harus berpisah dengan sang istri, meski hanya untuk sementara. Beberapa tahun terakhir ini, aku memang sering hidup terpisah dengan istriku. Ada saja cara Sang Pencipta untuk menguji kesetiaanku terhadap ibu dari kedua anakku itu.

“Untuk mengetahui kekuatan seseorang dalam menjalani hidup, bukanlah dengan cara meringankan beban hidupnya, tapi justru dengan menambah beban hidupnya.” Demikian kata pamanku yang juga santri di Pengajian Padhang Bulan yang dikomandani Emha Ainun Nadjib. Kata-kata itu betul tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini. Oleh Sang Pemilik Hidup, aku sedang diuji seberapa besar kekuatanku dalam menjalani hidup ini. Baca lebih lanjut

Balada Kawin Kontrak 2

Setelah melangsungkan pernikahan kontrak di Bogor dan menikmati bulan madu di Bali, Si Arab pun pulang ke negerinya. Sementara si Inem pulang ke kampungnya, ya, kampungku juga. Tentu saja dengan membawa pundi-pundi uang yang bejibun.

Namun, namanya juga perempuan masih muda. Apalagi si Inem sudah merasakan nikmatnya “surga dunia”. Setelah beberapa bulan sepulangnya sang “suami” ke negerinya, Inem pun merasakan kesepian. Nah, lho! Untuk membunuh sepinya, ia pun menjalin asmara dengan seorang pemuda sekampung. Ternyata selingkuh betul-betul tidak hanya menjadi tema lagu, tapi betul-betul dilakukan oleh Inem. Baca lebih lanjut

Balada Kawin Kontrak 1

Perempuan itu kutaksir berumur sekitar 25 tahun. Masih relatif muda. Parasnya memang tidak secantik Luna Maya. Tapi, menurutku, memang tidak mengecewakan. Penampilannya menarik dengan jilbab melilit wajahnya serta celana jeans membalut kakinya. Saat itu ia menggendong seorang anak kecil usia sekitar 2 tahunan. Di belakangnya, seorang anak kecil perempuan berumur sekitar 4 tahunan berjalan ceria. Ketika kutanya kepada narasumberku, anak perempuan itu adalah anak perempuan berjilbab itu.

Sesaat kemudian, perempuan itu memasuki rumahnya yang megah dibandingkan rumah-rumah sekitarnya. Terletak tidak jauh dari bibir kali, rumah itu memang menjadi santapan banjir jika tanggul yang menahan kali jebol. Ya, seperti yang terjadi di bulan yang lalu di desaku ini. Dengan cat berwarna pink, rumah itu tampil mencolok di antara rerimbunan pohon yang masih ada di sisi kiri kanan. Baca lebih lanjut