Perempuan dengan BMW

Aku masih teringat jelas, saat beberapa tahun silam, perempuan itu masih bocah. Saat itu aku baru lulus dari kuliah S1 dan mengajar honor di madrasah di kampungku. Perempuan itu mengaji di pesantren tempat aku biasa mengajar. Ia masih imut-imut dengan tingkah laku yang menggemaskan layaknya anak kecil. Namun ia memang agak berbeda dengan anak-anak lain yang sebayanya. Ia tampak paling cantik dengan kulit putih bersih dan penampilan yang rapi.

Sebut saja namanya Santi. Sebenarnya, ia masih memiliki garis keturunan dengan pengasuh pesantren tempat aku biasa dulu mengajar. Namun, ia jadi korban orang tua yang broken home. Ayahnya seorang polisi yang doyan main perempuan. Tak ayal, sang ayah akhirnya “dibuang” ke Aceh untuk menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebelum terjadi perdamaian Helsinki. Sepulang dari Aceh, sang ayah pun menikah lagi dengan seorang perempuan yang jauh lebih muda dari ibunya. Tidak sudi dipoligami, ibunya pun lantas meminta cerai.

Ibunya sendiri memang perempuan dengan masa lalu yang tak kalah suram. Sebelum dinikahi oleh sang polisi, ia dikenal sebagai perempuan yang terbiasa menerima “order”. Ia malang melintang di dunia malam Jakarta. Ia memang memiliki modal untuk bekerja di bidang itu. Meski sekarang gemuk, dulu ia memiliki tubuh yang proporsional dan wajah yang menarik. Baca lebih lanjut

Iklan

Nestapa Korban Trafficking

Gerimis di malam itu mengiringi kata demi kata yang meluncur deras dari mulut Kartiman (25). Sebut saja namanya begitu. Ia menghentikan langkahku di areal parkir saat aku menuju kendaraanku untuk segera pulang ke rumah sesuai menghadiri sebuah undangan di desa tetangga. Kartiman menceritakan kegundahannya saat sore sebelumnya baru saja ditemui oleh istrinya, Melati.

Aku pun teringat dengan istri Kartiman. Sebelum kudengar rumah tangganya diterpa keretakan, aku beberapa kali bertemu dengannya. Ia memang masih muda. Umurnya baru sekitar 20 tahun. Meski bertubuh mungil, wajahnya cantik dengan kulit putih bersih. Namun siapa sangka, di balik senyum manisnya itu, Melati menyimpan duka nestapa yang tak terperi. Baca lebih lanjut

Kupu-kupu Kertas*)

Sang bayu berkesiur lembut tatkala kedua kakiku menyentuh aspal di perempatan jalan itu. Kututup pintu mobil perlahan seraya mengucapkan tabik kepada tiga orang teman yang duduk di dalam mobil. Avanza hitam itu pun lantas berlalu menembus keheningan malam.

Kulangkahkan kaki menyeberangi jalan. Jam di handphone-ku menunjuk pukul 01.30 dinihari. Aku ingin segera tiba di rumah dan melucuti kepenatan seusai beranjangsana ke beberapa teman yang jadi “orang” di ibukota. Saat aku hendak mengambil motor di tempat penitipan, tempat itu telah tertutup rapat. Aku pun melangkah gontai sembari mengedarkan pandangan mencari tukang ojek.

Sebelum kuputuskan menumpang motor ojek yang kupilih, pandanganku tertumbuk pada empat orang perempuan yang bercengkerama riang di sebuah warung. Dua orang lelaki duduk di sela-sela mereka. Dua dari keempat perempuan itu kukenal sebagai warga kampungku. Baca lebih lanjut