Kerinduanku

Suatu siang menjelang sore, dua tahun silam, seorang teman lama semasa kuliah dulu, tiba-tiba meneleponku. Ia memohon maaf atas segala kesalahannya dan meminta alamat suratku. Aku pun bertanya-tanya sebab musabab sikapnya itu. Ia menjelaskan, ia hendak berangkat ke Tanah Suci dengan khusyuk. Ia tak ingin ada kesalahan yang belum sempat ia mintakan maaf kepada orang yang pernah ia sakiti. Ia juga ingin mengembalikan beberapa bukuku yang pernah ia pinjam semasa kuliah dulu.

Aku memang masih ingat dengan baik bagaimana ia mencengkeram leherku dan nyaris menjotosku. Saat itu, hari-hari pertama aku menjejakkan kaki di Yogyakarta. Hanya karena sebuah celetukanku, ia naik pitam. Padahal celetukan itu justru bukan tertuju pada dirinya, namun kepada kedua orang teman sekamar yang masih tiduran di saat waktu belajar. Baca lebih lanjut

Balada Cinta Mamat dan Ratna

Pemuda itu sebut saja bernama Mamat. Ia hanyalah pemuda kampung yang terlahir dari keluarga tak berpunya. Rumahnya terletak persis di pinggir kali. Mungkin lebih tepat disebut gudang daripada rumah. Tipenya adalah RSSSSS. Rumah Sangat Sempit Sehingga Sulit Selonjor.

Dengan gaya bicaranya yang luwes dan santun, Mamat memang mudah bergaul. Tak aneh, jika ia mudah berteman dengan para gadis sekampung meski tampangnya tidak seganteng artis Nicholas Saputra. Ia juga ringan tangan jika dimintai tolong oleh orang lain.

Suatu hari, usai melaksanakan tugas di sebuah akad nikah, saya didekati Mamat. Ia pun bercerita banyak tentang kisah kasihnya yang tak seindah roman picisan. Mamat menjalin cinta dengan Ratna, seorang gadis Yogya lulusan D3 UGM. Gadis pujaannya itu bekerja sebagai guru PNS di sebuah SD. Umurnya 3 tahun di atas Mamat. Baca lebih lanjut

Bercanda dengan Tuhan

Pagi yang indah. Sesungging senyum kuukir untuk dunia yang menyambutku dengan hangat. Kubuka jendela kamar kostku yang sempit. Mempersilakan sinar baskara menyirami ruang yang sumpek itu. Baju-baju kotor menumpuk di pojok. Buku-buku berserakan di atas kasur yang sudah tipis. Bau puntung rokok menyebar menusuk hidung.

Inilah sebuah jejak kehidupan yang puitis saat aku mengenyam bangku kuliah di Yogya. Saat itu, 14 tahun silam, aku biasa mengerjakan tugas penulisan skripsi hingga larut malam. Saat pagi tiba, aku biasa kembali ke kampus untuk mencari buku di perpustakaan atau toko buku.

Tapi pagi ini aku tak ingin pergi ke mana-mana. Aku sudah bertekad untuk ‘bercanda’ dengan Tuhan sepanjang hari ini. Aku hanya menginginkan kasih sayang-Nya betul-betul kurasakan langsung. Meski tanpa sepeser pun uang, aku tak mau berhutang di warung atau kepada teman. Aku ingin mengalami langsung bagamana Tuhan menganugerahkan rezeki-Nya untukku hingga aku bisa sarapan pagi ini. Baca lebih lanjut

Tak Punya Uang

Suatu hari seorang kerabat bertanya padaku, “Kamu pernah nggak punya uang?”

“Pernah. Bahkan sering,” jawabku santai seraya tetap memainkan jari jemari di keyboard laptopku.

“Terus gimana?” sergahnya dengan mata mendelik.

“Apanya yang gimana? Biasa aja tuh!” Aku menoleh ke arahnya dan berhenti mengetik.

“Nggak bingung? Nggak repot?” Pamanku, yang memiliki usaha rumah makan di Yogyakarta, itu seolah tak percaya.

“Ah, biasa saja. Sekarang saja, uangku tinggal seribu perak. Tak lebih tak kurang.”

Petikan dialog itu terjadi di suatu malam di rumahku. Jawabanku dalam dialog itu adalah salah satu upayaku untuk belajar memaknai hidup yang sementara ini. Setelah letih dihantam prahara hidup, aku kini mencoba menjalani hidup dengan seadanya. Ada uang, tak perlu diambil pusing. Tak ada uang, juga tak perlu diambil pusing. Baca lebih lanjut

Rendezvous

Will there be a jewel beneath the boulder
Will there be a pride beyond the fall
Will there really be a happy ending after all
Will there be a pride beyond the fall
Will there really be a happy ending after all

To the rendezvous
Fortunes to be told
To the rendezvous
Wonders to behold
Onto a place where people find
Maybe a trace of peace of mind
To the rendezvous all in good time

(Christopher Cross – Rendezvous)

Tak banyak berubah dari penampilan Ina sejak terakhir aku bertemu 14 tahun silam. Rendezvous nan indah saat kami sudah sama-sama tak sendiri lagi. Bersama istri dan si bungsu, hari ini aku berjumpa kembali dengan Ina yang datang bersama sang suami, dan dua anaknya. Ina masih memancarkan kecantikan yang dulu pernah membuat hatiku tertawan. Meski kini ia telah dianugerahi tiga orang anak. Meski seorang duda telah mendampinginya sebagai suami. Baca lebih lanjut