Keajaiban Sedekah

Suatu hari seorang kerabat dari Yogya datang ke rumahku. Dalam sebuah obrolan santai, ia bertutur tentang tetangganya yang begitu menggandrungi Ustadz Yusuf Mansur. Bukan untuk bergunjing atau menggosip saat sang kerabat itu bercerita. Namun ia bercerita tentang hikmah yang bisa dipetik dari sebuah pilihan hidup yang diambil oleh seorang anak manusia. Tentang kekuatan sedekah (the power of giving) yang sering didengungkan oleh Ustaz Yusuf Mansur.

Sang tetangga itu sebut saja namanya Syamsul. Ia memiliki usaha penjualan tabung gas Elpiji. Suatu hari ia bercerita, anak perempuannya yang pernah terserang panas.

“Berapa biasanya biaya berobat ke dokter? Untuk mengobati penyakit panas seperti yang pernah diderita anakku?” tanya Syamsul kepada kerabatku.

“Ya, mungkin sekitar 200 ribu deh,” jawab kerabatku. Baca lebih lanjut

Iklan

Dialog Ustaz Yusuf Mansur dan Sekuriti Pom Bensin

Sebenarnya, saya tidak ingin memposting tulisan ini karena sudah banyak tersebar di internet. Nanti saya dituding sekedar copy-paste. Tapi, tulisan Ustaz Yusuf Mansur ini membuat saya sangat tertarik. Betul-betul menyentuh. Saya pun mengabaikan draf tulisan saya yang lain untuk segera memposting tulisan ini. Namun, tanpa mengurangi hormat dan takzim saya pada Ustaz Yusuf Mansur, tulisan beliau saya edit kembali agar tidak terlalu banyak istilah-istilah Betawi. Terlalu banyak bahasa gaul yang mungkin membuat sebagian orang yang bukan orang Jakara atau Betawi susah mencernanya. Apalagi gaya tulisan beliau seperti gaya mengobrol, karena memang berisi dialog beliau dengan seorang satpam pom bensin. Editing yang saya lakukan juga hanya bersifat redaksional, tidak mengubah isi atau makna. Selamat membaca, semoga bisa mengambil hikmahnya.

Banyak yang Mau Berubah, tapi Memilih Jalan Mundur
Oleh: Yusuf Mansur

kapanlagi.com

Yusuf Mansur. Foto: kapanlagi.com

Satu hari saya jalan melintas di satu daerah. Tertidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya berpesan ke supir saya, “Nanti di depan ke kiri ya.”
“Masih banyak, Pak Ustad,” jawab sopir saya.
Saya paham. Si sopir mengira, saya ingin membeli bensin. Padahal bukan.
“Saya mau pipis,” jelas saya pada sopir.
Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti.
“Pak Ustadz!” panggilnya seraya melambaikan tangan dari kejauhan dan mendekati saya.
Saya menghentikan langkah. Menunggu si sekuriti.
“Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja,” ujarnya sembari tersenyum sumringah.
Saya juga tersenyum. Insya Allah, saya tidak merasa gede rasa. “Saya ke toilet dulu ya,” kata saya meminta pengertian sang sekuriti.
“Nanti saya pengen ngobrol. Boleh Ustadz?” laki-laki itu berusaha menahan langkah saya.
“Saya buru-buru, lho. Tentang apaan sih?” jawab saya sembari menatapnya tajam. Baca lebih lanjut